Story Of The Yogi Christ: The Message

Sumber gambar: etsy.com

Sudah lama kita tidak bertemu, Baba. Beberapa peristiwa yang terjadi belakangan membuatku ingin melupakanmu- yang tak kunjung hadir di saat-saat sulit. Ada kemarahan yang mendorongku untuk melenyapkan memori tentangmu. Tetapi di saat aku lupa samasekali, kau kembali…

“Ah ya… Lihat! Aku menemukan baju baru… Bagaimana menurutmu?”

Kau tersenyum lebar seolah tidak ada apa-apa yang terjadi, sambil memamerkan baju dengan warna yang lebih cerah dari biasanya. Itulah dirimu, seketika menjadi murni seperti bayi. Waktu berlalu semenjak pertemuan kita, hari-hari tanpa nasehat yang menenangkan darimu.

“Mengapa terjadi penundaan dalam hidup kita, Baba? Apa yang diinginkan Tuhan dengan membiarkan kita menunggu?”

Burung-burung beterbangan di atas langit, berpulang sebelum matahari tenggelam, membuat kesedihanku seketika membuncah ke atas.

“Yang buruk tidaklah selalu seperti yang terlihat, Sananda. Seringkali menunggu menjadi terasa karena kita tidak memahami mekanismenya, atau cara untuk mengisinya. Meski tentu saja, tantangan adalah sesuatu yang nyata.”

“Jika saja orang ingin berpikir demikian, maka menunggu adalah sesuatu yang tidak riil. Hanya sepenggal demi sepenggal petualangan yang mematangkan.

“Ah ya, hanya sepenggal,” kataku lirih.

“Aku sedang bergelut dengan dualitas yang semakin nyata, seolah iblis dan malaikat benar-benar berperang untuk turut menentukan keputusanku.”

Kau menyimak dengan seksama, raut wajahmu tidak berubah. Matamu berbinar dengan semangat namun tidak liar- mengisyaratkan pemahaman dan kesediaanmu untuk selalu mendengarkan.

Tak lama, kau rogoh tasmu yang juga baru, sambil mengeluarkan sesuatu yang sangat familiar: kantong teh, termos tanggung, dan dua buah gelas stainless. Sambil mulai menatanya dan berujar, “Kegelapan… Perjumpaan  dengannya adalah pengalaman yang sangat berharga. Wajah mereka yang jelas akan menunjukkan siapa dirimu sesungguhnya, dan bagaimana caramu untuk menghadapinya. Tanpa gula?”

Aku mengangguk.

“Di satu sisi aku ingin menyerang, mengungkapkan kebenaran. Namun itu bukan diriku, itu bukan sifat dan keyakinanku.”

Kau mulai menyeduh teh dengan perlahan. Tanganmu seolah menyatu dengan peralatan  yang terawat seperti baru.

“Di dalam hati, aku selalu menginginkan kedamaian. Aku mendambakan cara-cara yang lembut dan tenang untuk mengakhiri peperangan. Tetapi aku bingung,” kataku.

“Yang kaubutuhkan saat ini adalah ketahanan dan kebijaksanaan untuk melangkah dengan tepat. Kau sudah melakukannya dengan sangat baik, Sananda. Kini saatnya menikmati sedikit kesegaran.”

Kuraih gelas stainless berisi teh hijau yang kau sodorkan padaku. Aroma hangat dan rasa pahit di akhir kecapan mengingatkanku bahwa kedamaian bukan selalu canda tawa, tetapi juga keheningan, yang seringkali menenggelamkanku dalam kesepian.

Kemana saja kau pergi selama ini, Baba? Aku bisa merasakan bahwa kemanapun itu, kau memiliki pertarungan yang tidak biasa. Kau tampak lebih tegar dari yang dulu kukenal, seolah duniamu telah hancur tak bersisa- dan tak ada lagi yang kau inginkan darinya. Kini, kau datang dan menyirami dunia dengan benih-benih harapan. Mengapa kau datang padaku sekarang, Baba?

“Katakan padaku, berapa lama lagi aku harus bersembunyi dari permukaan?”

Meski semenjak dulu aku sangat ingin tahu rencana-rencanamu, tak sekalipun aku pernah menanyakannya. Kusimpan dan kukumpulkan rasa penasaranku, berharap suatu waktu dapat menanyakannya- mungkin jika perang sudah usai.

“Sananda, meski tampaknya tidak begitu, tetapi langkah ini bukan sepenuhnya keputusan kita. Ada banyak intervensi dan perdebatan yang panjang, sebelum keputusan yang tampak mudah itu datang melaluimu. Terutama karena adanya desakan untuk mengembalikan dunia pada titik keseimbangan.”

“Jika sudah saatnya, keputusan itu akan datang menghampiri seperti sebuah serangan, dan kau tak bisa menolaknya. Kau sudah meminta, kau sudah mempersiapkan diri dengan baik, maka pada akhirnya ia akan datang.”

“Beberapa kali aku berpikir untuk kembali ke tempat darimana aku berasal. Tempat yang menawarkan kenikmatan, tetapi tidak dengan kedamaian.”

Kau tersenyum dan sinarmu menyatu dengan cahaya matahari sore yang keemasan.

“Aku senang kau memilih kebahagiaan, Sananda. Dan caramu untuk meraihnya akan sangat istimewa.”

“Kau sudah berubah. Jiwamu membutuhkan sesuatu yang baru, sebuah tindakan.”

Aku mengangkat wajah dan menatapnya, “Apa yang dapat kulakukan?”

“Kau benar-benar ingin tahu?”

Ahh! Kau masih saja seperti dulu, hidupmu terlalu banyak bercandanya! Sampai-sampai ketika orangtuaku mempermalukanmu di depan umum dan mengusirmu dari istana pun, kau tetap tersenyum dan mengucapkan selamat tinggal dengan hangat padaku.

Aku tidak menjawab, menunggumu melanjutkan.

“Sananda, Raja di Negeri Yang Baru, berkelanalah denganku. Temukanlah keteguhan dalam tantangan demi tantangan, dan hiduplah sesuai panggilanmu.”

Dan aku melonjak dari atas tempat tidur. Suaramu begitu nyaring, semua terasa nyata seolah-olah kau sendirilah yang telah mengirimkan pesan ini padaku. Tentu saja, ini adalah pesan darimu.

The Purpose Of Yoga (2)

“Prostating first to the guru, Yogi Swatmarama instructs the knowledge of hatha yoga only for the highest state of yoga (raja yoga).” ~ Hatha Yoga Pradipika, Chapter 1, Verse 2

Sujud pada Sang Guru (Sri Adinath), Yogi Swatmarama menginstruksikan pengetahuan hatha yoga sebagai jalan mencapai raja yoga.

Dengan memberikan penghormatan pada guru sebagai awal, Yogi Swatmarama menegaskan bahwa dirinya hanya berfungsi sebagai alat transmisi bagi pengetahuan yang akan diberikan. Hatha yoga saat ini banyak digunakan sebagai sarana pemulihan kesehatan, juga untuk memperkuat dan memperindah tubuh- sesuatu yang sebenarnya pasti didapat sebagai ‘efek samping’ latihan. Juga menjadi kebutuhan untuk membantu banyak orang, karena sains tidak mampu memberi jawaban yang mengakar terutama yang berhubungan dengan kesehatan mental. Namun sebagai yogi, kita tidak melihatnya dengan sepintas, lalu menjadikan ini sebagai tujuan utama.

Kita tahu bahwa kesehatan tubuh dan mental saja tidak pernah cukup, sebab setiap orang adalah makhluk spiritual yang tidak berhenti di titik tertentu- tetapi berevolusi dan sepatutnya mengalami kebangkitan. Artinya yoga tidak hadir sebagai pengetahuan kuno yang menjawab problematika manusia di satu musim saja, tetapi di setiap musim dengan setiap tantangannya. Kita tidak dianjurkan untuk berhenti setelah mencapai kesehatan tubuh fisik, melainkan dituntut untuk terbebaskan darinya, serta melampaui aspek-aspeknya yang menjadi sumber kemelekatan dan penderitaan.

Dengan teknik pelatihan hatha yoga, potensi pada tubuh dan mental seseorang akan meningkat secara signifikan. Diketahui bahwa otak manusia secara umum hanya digunakan sepersepuluh dari keseluruhan kapasitasnya, sementara lainnya tertidur, dan sains menyebutnya ‘silent area’. Sangat sedikit yang diketahui tentang area yang tertidur ini, namun sejumlah neurologis mengutarakan bahwa ini berhubungan dengan potensi supranatural.

Setelah latihan yang sulit dan panjang, potensi ini akan termanifestasi biasanya dalam wujud clairvoyance, clairaudience, clairsentience, telepati, telekinesis, psychic healing, dan lainnya. Wujud potensi inilah yang disebut siddhis. Sejumlah orang menganggapnya sebagai pencapaian yang besar, namun sebaliknya, ini hanyalah efek samping dan justru dapat menghambat perkembangan spiritual. Karena pada dasarnya tujuan latihan spiritual adalah untuk menemukan dan merasakan spirit universal di dalam diri.

Sebagaimanapun hebatnya perubahan dan buah-buah yang didapatkan, ingatlah bahwa manfaat terapetik, pencapaian duniawi, hingga kekuatan psikis bukanlah alasan dan tujuan hatha yoga yang diajarkan selama ribuan tahun. Dan barangsiapa yang melakukan yoga untuk tujuan-tujuan tersebut, tidak akan pernah berhasil menemukan kebebasan, dan tersesat dalam fluktuasi sensasi dan keinginan yang datang silih berganti.

HYP, Chapter 1, Verse 3

The Highest state of raja yoga is unknown due to misconceptions (darkness) created by varying ideas and concepts. In good will and as a blessing, Swatmarama offers light on hatha yoga.

Puncak dari raja yoga tidak diketahui oleh karena kesalahpahaman dari berbagai gagasan dan konsep. Untuk itu dengan berkat dan tujuan yang baik, Swatmarama menghadirkan pencerahan dalam hatha yoga.

Pencapaian tertinggi dari keseluruhan latihan spiritual adalah kaivalya, yang juga merupakan titik puncak dari raja yoga. Dalam  penggalan syair di atas, Swatmarama-  sebagai yang telah tercerahkan, dengan rendah hati memberi instruksi hatha yoga yang sistematis dan lebih mudah bagi kebanyakan orang.

The Purpose Of Yoga

Beberapa abad setelah Buddha, Patanjali, Mahavir (penemu sekte Jain), hingga Yesus Kristus, era yang kini disebut post classical yoga pun dimulai. Hal ini ditandai dengan munculnya teks-teks seperti Goraksha Samhita, Gheranda Samhita, Hatha Yoga Pradipika, hingga Hatharatnavali pada abad ke-6 hingga 15 masehi.

Dalam rentang waktu tersebut para yogis menyusun sistem yang bertolak belakang dengan ajaran klasik Veda- didesain untuk meremajakan tubuh dan memperpanjang kehidupan (alchemy). Ajaran ini adalah perkembangan dari tantra, yaitu hatha yoga yang menawarkan teknik untuk membersihkan tubuh dan pikiran sebagai sumber kemelekatan pada dunia.

Ini menjadi jawaban dari para yogi seperti Goraknath dan Matsyendranath, yang menemukan bahwa seiring dengan waktu, inti terpenting dari ajaran yoga telah dilupakan, dan bahkan disalahartikan. Untuk itu mereka memisahkan hatha yoga dengan praktik raja yoga yang masih merupakan lingkup dari ajaran tantra, terutama bagian ritual-ritualnya.

Mereka merasa perlu untuk memberikan ajaran yang jelas dan sistematis, sebagai persiapan menuju jalur meditasi. Sehingga disimpulkan bahwa tema utama dari hatha yoga adalah sebagai gerbang untuk memandu seorang praktisi agar dapat memahami meditasi, dan berhasil melaluinya.

Perbedaan Yoga Dan Hatha Yoga

Ketika tubuh dibersihkan dari kekeruhan, jalur energi akan berfungsi maksimal, sementara jalur yang terblokir menjadi terbuka. Energi pun mengalir seperti gelombang frekuensi melalui jalur-jalur pada struktur tubuh fisik menuju otak. Oleh karena itu hatha yoga dianggap sebagai awal dari latihan tantra, raja yoga, kundalini, dan kriya yoga.

Terdiri dari dua bija mantra, ha berarti prana shakti atau energi, dan tha berarti manas shakti, yaitu pikiran. Setiap benda di semesta, mulai dari atom yang terkecil hingga bintang-bintang yang sangat besar, tersusun dari kedua shakti ini. Sebab hanya dengan interaksi dari keduanyalah, penciptaan atau kreasi dapat terjadi.

Pada dasarnya kepadatan adalah bentuk kasar dari energi, sehingga melalui latihan yoga terjadi proses transmutasi pada elemen fisik untuk kembali pada kemurniannya. Hal ini tidak hanya terjadi pada manusia, bahkan benda mati pun turut melalui proses ini.

Perbedaannya, manusia dapat mempercepat proses evolusi itu melalui latihan spiritual, dimana terdapat tiga nadis mayor pada tulang punggung manusia yang sangat berpengaruh pada proses kebangkitan, yaitu ida, pinggala, dan sushumna.

Nadi berarti saluran energi, dimana ida nadi adalah aliran yang bersifat negatif, pingala nadi adalah aliran positif, dan sushumna adalah energi spiritual yang bersifat netral. Jika dua energi yang bertolak belakang bertemu di jalur sushumna, maka terjadilah hal luarbiasa yang mengarahkannya mengalir menuju pusatnya, yakni ajna chakra. Dan secara literal inilah yang disebut hatha yoga.

Ketika terjadi reuni dari ketiganya pada ajna chakra, maka akan terjadi kebangkitan secara instan pada mooladhara chakra, yang merupakan kedudukan dari energi utama, kundalini shakti. Dan ketika kebangkitan kundalini ini terjadi, maka ia akan naik ke alam yang lebih tinggi dan duduk pada sahasrara chakra. Dan inilah yang disebut yoga, pertemuan antara kesadaran Shiva dengan kekuatan Shakti.

Secara berurutan aktivasi yang harus dicapai adalah pengaktifan chakra, sushumna, dan kundalini. Sistematika kebangkitan ini menjadikan praktisi memiliki pikiran yang terbuka, terarah, dan dipenuhi buah-buah pengetahuan spiritual.

Pineal Gland

“The eye is the lamp of the body. So, if your eye is healthy, your whole body will be full of light.” ~ (Matthew 6:22). Yogananda said this refers to a “third eye” that becomes visible during deep meditation, appearing in the middle of the forehead. This is a doorway into the presence of God.

Di bagian tertentu pada otak kita, terdapat sebuah kelenjar berbentuk seperti biji pinus, yang banyak dibicarakan oleh tradisi-tradisi mistik dunia. Pada dasarnya kelenjar ini adalah portal antara dunia fisik dan spiritual. Ketika diaktifkan, terdapat sensasi kebersatuan yang memenuhi pikiran, dan memberi rasa pengetahuan akan segala hal.

Ini sesuai dengan sebutan yang digunakan oleh tradisi yoga pada area ini, yaitu ajna chakra yang berarti ‘command’, atau ‘to know, to obey, or to follow’, atau ‘the monitoring centre’, hingga julukan seperti ‘the guru chakra‘ dan ‘the eye of intuition‘.

Ajna adalah jembatan yang menghubungkan seorang praktisi yoga dengan para guru atau ascended masters yang menaungi dan melindungi bidang tertentu yang dikuasai. Disinilah seorang yogi berkomunikasi dengan higher self-nya, yang dijangkau melalui meditasi yang dalam, saat ia tenggelam dalam kekosongan yang disebut shoonya.

Kondisi ini adalah kelenyapan akan segala hal- ketika nama, bentuk, subjek, objek, dan produk-produk yang dihasilkan oleh sensasi inderawi lainnya menjadi padam. Pikiran dan kesadaran berhenti berfungsi, serta tak ada ego yang tertinggal.

Di India, ajna chakra disebut dengan divya chaksu atau the divine eye, juga jnana chaksu atau the eye of knowledge. Sebabnya disinilah seseorang mendapatkan wahyu, penglihatan, dan eksistensi dari dunia lain. Dan selayaknya Siwa sebagai lambang meditasi, sebutan the eye of Shiva pun melekat pada mata yang melihat ke dalam ini.

Ketika Ajna bangkit, budi manusia terjernihkan. Pikiran, ucapan, dan perbuatannya menjadi selaras, sebabnya ia telah terbebaskan dari ilusi. Nalurinya tajam, kemampuan dalam segala hal meningkat. Ia hidup dalam kenyataan dan mampu mengatasi masalah kehidupan. Inilah hasil latihan, disiplin, dan kegigihan manusia yang setia dalam jalan kebenaran; entah itu melalui jalan karma, bhakti, jnana, atau raja yoga.

Makanan Di Atas Mejaku

Kadangkala kita lupa, bahwa kehadirat Tuhan amatlah nyata, bagaikan makanan yang tersedia di atas meja. Bahkan aku telah terlampau diberkati, sebab makanan di mejaku datang tanpa aku bersusah payah. Ia mengasihiku melalui kasih yang diberikan orangtuaku, kebaikan hati teman-temanku, saudaraku, bahkan dari mereka yang tidak kukenal- semata-mata membuktikan bahwa kasih adalah bahasa-Mu.

Aku telah salah mengira, bahwa aku-lah yang harus bersusah payah untuk mendapatkan anugerah-Mu.
Aku telah salah mengira, bahwa aku-lah yang harus berjalan dengan kakiku sendiri untuk menemukan-Mu.
Dan aku telah salah mengira, bahwa segala cobaan dan kesulitan adalah hukuman-Mu.

Engkau senantiasa hadir tanpa diminta, sebab kehidupan ini hanya bersumber dari kasih-Mu. Engkau melakukan berbagai cara untuk menjaga kehidupan ini, dan mewarnainya dengan wajah-wajah optimistime dan keceriaan. Engkau memberikan kepastian agar kami semua tumbuh dengan baik, dan tidak ada satupun makhluk yang tidak Kau perhatikan.

Sumber gambar: pixabay.

Tuhan, Kau-lah yang telah merubahku. Kau-lah yang telah menyejukkan hatiku, dan mendorongku untuk meminta anugerah keteguhan; dan Kau pun menghadiahiku anugerah kepercayaan.

Seluruh hati dan nuraniku mengenali bahwa semua itu berasal dari-Mu, sebabnya aku sendiri tak memiliki kuasa atas Terang. Terima kasih Tuhan… Terang dari segala Terang.

Beragama Adalah Menjadi Manusia

Bagaimana seharusnya seseorang beragama? Bagaimana kita dapat meletakkan agama sebagai elemen kehidupan yang damai dan tidak destruktif?

Agama dapat menjadi momok apabila ia digunakan sebagai identitas dan dogma, tetapi menjadi ‘hidup’ jika ia berubah menjadi sebuah pekerjaan. Pekerjaan seperti apa? Pekerjaan untuk mendandani, merawat, dan menjaga diri. Sebab agama bukan alat untuk menghakimi atau barang untuk disebarluaskan, tetapi hal pribadi untuk meningkatkan kualitas diri.

Sejatinya semua agama memiliki esensi yang sangat indah. Tidak ada satupun yang kurang untuk dikoreksi, juga tidak ada satupun yang menolak kehadiran semua dari kita. Dengan perbedaan atau tujuan universalnya, keterpisahan hanya terletak pada persepsi, dan agama akan selalu menjadi ruang untuk mendekat kepada Tuhan. Untuk itu siapa berani menghakimi dan tidak menerima sesamanya sebagai saudara? Sementara kita hidup di atas bumi dengan udara, matahari, dan semua elemen alam yang sama.

Sayangnya kemanusiaan tidak selalu menjadi yang utama, dan kepentingan pribadi atau golongan kadang melebihi daripada yang lainnya. Seharusnya kita selalu mengingat, bahwa jikapun pengabdian kepada-Nya telah terlaksana, semua menjadi sia-sia jika itu tidak bergerak menjadi energi hidup yang menyentuh hati manusia. Dan inilah rahasia tentang cara beragama: bahwa hubungan kepada Tuhan hanya akan tergenapkan dan terpuaskan melalui cinta kasih terhadap sesama.

Memang manusia dapat menjadi sangat manipulatif, tetapi dengan kekurangannya- selalu ada potensi tak terbatas yang dapat digali dan dipelajari satu sama lain. Itulah yang diajarkan oleh agama melalui nurani, ‘bagaimana kita melihat kehidupan’ dapat mengubah kimia beracun menjadi makanan yang memuaskan dahaga spiritual; dan hanya dengan belajar kita dapat mencapai kebijaksanaan menyeluruh.

Well, bisa saja kita mencintai pohon, binatang, lautan, dan bahkan Tuhan tanpa cela. Tetapi apa arti semua itu tanpa mencintai anak manusia, yang dihadirkan untuk mengajari dan membahagiakanmu. Dan inilah rahasia yang lainnya: Tuhan ingin kita berbahagia pada saat ini juga, tidak menunda untuk mewujudkan surga-Nya di atas bumi!

Kemanusiaan adalah jalur cepat untuk mencapai kemuliaan kolektif; dikarenakan kita telah diberi kuasa tak terbatas untuk berkarya dan menciptakan peradaban.

Uncle Iroh Wisdom

“You are not the man you used to be. You are stronger and wiser and freer than you ever used to be. And now you have come at the crossroads of the destiny. Its time for you to choose. Its time for you to choose good.” ~ Iroh to Zuko

Api adalah kekuatan. Elemen ini memiliki hasrat dan keinginan untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Tanah adalah elemen zat atau kepadatan, mereka beraneka ragam serta kuat. Mereka gigih dan mampu bertahan lama.

Udara adalah elemen kebebasan, mereka melepas diri dari ikatan duniawi dan menemukan kedamaian serta kebebasan. Juga memiliki selera humor yang tinggi.
Air adalah elemen perubahan, mereka mampu beradaptasi dalam banyak hal. Mereka memiliki dorongan untuk saling berkumpul, dan cinta membuat mereka menyatu untuk melalui segalanya.

Sangat penting untuk menarik kebijaksanaan dari berbagai tempat, sebab jika hanya menarik kesimpulan di salah satunya saja, maka itu akan menjadi kaku dan lemah. Memahami elemen lainnya akan membantumu mencapai penyatuan, dan itulah yang menghasilkan kekuatan sejati. ***

Blessings From Shiva

A potrait of a Chinese woman, 2018.

Pertama kali aku memiliki ketertarikan pada Siwa adalah di tahun 2017, saat menjalani training filosofi yoga dengan seorang pengajar berlatar ilmu teologi- yang juga mantan biksu di India beraliran Siwaisme. Beliau memberikan selentingan tentang indahnya ajaran tantra, yakni untuk melihat segala sesuatu, bahkan yang bersifat kontradiktif sebagai wujud dari Siwa. Betapa menarik dan sederhana!

Aku pun mulai mempelajari konsep siwa dan sakti, hingga rutinitas mengalihkan perhatian. Dan di awal tahun 2018, aku memutuskan untuk melakukan training di daerah India Utara, sembari merasakan spirit Siwa yang nyata. Kudapati betapa atmosfer pegunungan himalaya dan sungai gangga seketika memperlihatkan spiritualitas yang terletak bukan pada tradisi dan ritual, melainkan sebagai anugerah yang tidak dapat dihindarkan. Semenjak itu Siwa beranjak dari sebuah romansa spiritual menjadi dimensi kesadaran…

Siwa lalu memunculkan ketertarikanku pada sejarah Nusantara, dan membuatku hanyut di dalammya selama tiga bulan penuh pada pertengahan tahun 2018. Itulah yang mendorongku untuk menjelajah dan merasakan getaran Pulau Jawa, terutama kehidupan gunung-gunungnya yang eksotis!

Dan kini baru saja kusadari, tatkala sebuah gambar patung Adiyogi muncul di layar ponsel, bahwa rentetan perjalanan yang berhubungan dengan Siwa adalah jawaban-Nya terhadap pencarianku di jalan yoga. Siwa Sang Adiyogi telah memperlihatkan perannya yang tak terganti sebagai yogi yang pertama, juga sebagai Sang Adiguru, yakni satu-satunya guru yang dapat melimpahkan benih pengetahuan yoga dalam kesadaran umat manusia… Kuharap, terang senantiasa menuntunku tuk menyerapnya.

Adiyogi: The Source Of Yoga, Oleh Sadghuru

Dalam tradisi yoga, Shiva bukan dikenal sebagai Tuhan, melainkan yogi yang pertama- pencipta dari yoga. Dia adalah yang pertama menanamkan benih yoga ke dalam pikiran manusia. Berdasarkan ilmu ini, lebih dari lima belas ribu tahun yang lalu, Shiva mengalami tarian estatik yang intens, dan ketika tarian itu menghasilkan sejumlah gerakan, sekejap ia pun menjadi sepenuhnya diam.

Orang-orang melihatnya mengalami sesuatu yang benar-benar asing, sesuatu yang tak dapat dimengerti, menimbulkan ketertarikan dan keingintahuan. Mereka pun datang dan menunggui Shiva, namun pada akhirnya beranjak pergi sebab Sang Yogi samasekali tak mengindahkan mereka.

Hingga tersisa tujuh orang yang memilih tinggal.

Ketujuh orang ini bersikeras bahwa mereka harus belajar dari Sang Yogi, namun Shiva tetap bersikukuh untuk tidak memerhatikan. Mereka lalu meminta dan memohon: ‘Tolong, kami ingin tahu apa yang kamu ketahui.’ Shiva dengan segera membubarkan mereka dan berkata, “Kalian ini bodoh. Dengan cara seperti ini, kalian tidak akan pernah tahu bahkan dalam jutaan tahun. Ada sangat banyak persiapan yang dibutuhkan, ini bukanlah sebuah pertunjukan.”

Namun mereka tidaklah menyerah. Mereka memulai latihan persipaan itu selama tahun demi tahun, sampai pada hari purnama setelah 84 tahun latihan- tepatnya di saat titik balik matahari beranjak ke musim dingin (dalam tradisi dikenal dengan Dakshinayana), Sang Adiyogi akhirnya melihat ke arah tujuh orang ini, dan mendapati mereka telah berubah menjadi wadah pengetahuan yang bersinar. Mereka dianggap sepenuhnya matang untuk menerima (pengetahuan selanjutnya), sehingga Shiva pun tak dapat mengindahkan mereka lagi.

Beliau menyaksikan mereka dengan seksama selama beberapa hari, dan kala purnama berikutnya tiba, Sang Adiyogi memutuskan untuk menjadi Guru. Ia bertransformasi menjadi Adi Guru; Sang Guru Pertama yang lahir pada saat yang kini dikenal sebagai hari Guru Purnima.

Di tepi danau Kanti Sarovar yang terletak beberapa kilometer di atas Kedarnath, Ia berbelok ke arah Selatan untuk melimpahkan rahmatnya pada umat manusia, dan transmisi pengetahuan yoga pada ketujuh murid ini dimulai. Ilmu sejati yoga tidak seperti yang diketahui di dalam kelas dimana orang-oranh menekuk tubuh mereka- sesuatu yang sudah dilakukan oleh bayi, atau bagaimana cara menahan nafas, yang telah diketahui oleh anak yang belum dilahirkan. Ini adalah ilmu untuk memahami mekanisme dari keseluruhan tubuh manusia.

Setelah beberapa tahun ketika transmisi itu selesai, diturunkanlah tujuh orang suci, Saptarishis, yang kini dipuja dan dirayakan dalam tradisi India. Shiva telah meletakkan aspek-aspek yoga yang berbeda kepada tujuh murid ini, sebagai dasar dari yoga.
Mereka dikirm ke tujuh arah penjuru dunia untuk membawa dimensi dimana manusia dapat berkembang melampaui batasan.

Mereka adalah bagian dari tubuh Shiva, yang membagikan anugerahkan pengetahuan dan teknologi ke seluruh dunia, agar manusia dapat hidup di saat ini juga dengan kualitas Sang Pencipta.

Sang Adiyogi membawa kemungkinan bahwa manusia tidak perlu harus dijelaskan melalui batasan-batasan yang ditetapkan oleh spesies kita. Ada cara untuk menjadi penuh secara fisik, dan untuk tinggal di dalam tubuh tanpa pernah menjadi tubuh itu sendiri. Ada cara untuk menggunakan pikiran pada level yang tertinggi namun tetap tidak pernah mengetahui derita yang dapat diakibatkannya.

Pada dimensi manapun, kita selalu dapat melampuinya- sebab selalu ada cara lain untuk hidup. Ia lalu berkata, “Kamu dapat berkembang melampaui keterbatasanmu saat ini, jika kamu melakukan pekerjaan yang diperlukan atas dirimu sendiri.” Itulah pentingnya Adiyogi.

Light On Hatha Yoga

“There are not two minds, there is one mind trying to split itself into two. One mind wants to break the discipline and the other mind wants to maintain the discipline.” ~ Tidaklah ada dua pikiran, melainkan satu yang terbagi menjadi dua. Di satu sisi ingin mematahkan disiplin diri, sementara satu lainnya ingin menjaganya tetap kokoh.

     Salah satu teks popuper dalam hatha yoga adalah hatha yoga pradipika yang diterjemahkan menjadi Light On Hatha Yoga. Disusun oleh Yogi Swatmaratma di sekitar abad ke-6, buku ini terdiri atas empat bab masing-masing adalah: Asana, Shatkarma dan Pranayama, Mudra dan Bandha, dan Samadhi.

     Menariknya Swatmarama menghilangkan unsur yama dan niyama yang umumya menjadi titik permulaan dalam sistem buddhisme, jainisme, serta yoga patanjali- yang membagi raja yoga menjadi delapan tangga. Patanjali menganggap seorang murid harus menguasai yama dan niyama terlebih dahulu, untuk menghindari kegagalan dalam praktek asana dan pranayama.

     Sementara Swatmarama sangat menyadari kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh para murid dalam melaksanakan kedua unsur tersebut. Ia menganggap yama dan niyama lebih seperti agama ketimbang spiritulitas, yang sejatinya berhubungan langsung dengan kehidupan. Menurutnya jika diamati, ketika berusaha menerapkan disiplin dan pengendalian diri, seringkali muncul masalah mental yang efeknya sangat mengganggu pikiran bahkan kepribadian kita.

     Lebih jauh ia menguraikan bahwa prinsip yang berlawanan sebaiknya tidak diajarkan, terutama perbedaan praktek religi dan spiritual yang dapat membawa kegagalan ketika menghadapi dilema evolusi kesadaran. Pesannya sangat jelas: pertama-tama murnikanlah tubuhmu- elemen-elemen halusnya, saluran energi, pola pergerakan energi vital, sistem saraf, dan keseluruhan bagiannya perlu diharmonisasikan. Begitulah caranya kita dapat membangun meditasi yang khusyuk, dan dilanjutkan pada tahap yang lebih dalam: pratyahara, dharana, dhyana, samadhi.  

Chapter 1, Verse 1:
Salutation to the glorious primal (original) guru, Sri Adinath, who instructed the knowledge of hatha yoga which shines forth as a stairway for those who wish to ascend to the highest stage of yoga, raja yoga.

Hormat kepada Sang Guru yang mulia, Sri Adinath, yang telah menyusun pengetahuan hatha yoga sebagai tangga yang bersinar bagi mereka yang ingin naik ke tingkat tertinggi dari yoga, yakni raja yoga.

Penjelasan:
Sri Adinath adalah nama lain yang diberikan kepada Siwa, sebagai kesadaran kosmik tertinggi (supreme cosmic consciousness). Dalam Tantra terdapat konsep siwa dan shakti, dimana siwa bertindak sebagai kesadaran abadi kosmos, dan shakti sebagai energi kreatifnya.

Tradisi samkhya menyebutnya dengan purusha, sementara vedanta menyebutnya brahman. Siwaisme menyebutnya siwa, waisnawa menyebutnya wisnu. Semuanya adalah satu dan sama, yaitu sumber kreasi dan sumber evolusi makhluk hidup, satu kekuatan yang meliputi segalanya.

Kekuatan itulah yang disebut sebagai guru, sebab ia membawa seseorang keluar dari kegelapan (ketidaktahuan) ke dalam cahaya realitas (pengetahuan sejati). Sekte nath menyebutnya Adinath, sang pelindung utama.

Swatmarama adalah seorang penganut sekte nath, sehingga ia menghormati siwa dalam wujud Sri Adinath. Semua pengetahuan tanpa terkecuali berasal dari kesadaran kosmik. Tantra dan serangkaian cabang dari yoga pun berasal dari tempat yang sama, dan secara traditional penekanan itu diketahui sebagai siwa. Teks-teks suci berbahasa sansekerta selalu berawal dengan ungkapan: ‘Salutation to the supreme state of being‘, yang berarti ‘Hormat kepada Sang Maha Tertinggi’.

Hal pertama yang harus diingat sebelum memulai segala jenis latihan spiritual adalah: bahwa kekuatan kosmik adalah pemandu dari setiap gerakan, dan dirimu adalah instrumen dari kekuatan itu. Oleh karena itu, berilah hormat lalu mintalah perlindungan dan bimbingan-Nya terlebih dahulu.

Ketika Yogi Swatmarama memberi hormat kepada Adinath, ia menyatakan bahwa pengetahuan yang akan datang pada sloka-sloka berikutnya adalah berkat kemuliaan dari Sang Guru, bukan pencapaian pribadinya. Terdapat kerendahan hati beserta absennya ego, dan hal ini sangatlah penting untuk memperolah kesadaran yang lebih tinggi.

Swatmarama lalu menjelaskan bahwa hatha yoga digunakan untuk mempersiapkan seseorang untuk mencapai raja yoga. Ha dan tha yang berarti matahari dan bulan, sebagai representasi dari dua energi kembar yang eksis dalam segala hal. Bulan adalah energi halus yang menguasai mental/ pikiran, sementara matahari adalah energi pranic yang aktif dan dinamis, merepresentasikan tubuh. Latihan hatha yoga memungkinkan fluktuasi dari kedua energi ini menjadi harmonis dan menyatu menjadi satu kekuatan.

“Sekalinya seseorang mencapai tahap raja yoga, maka hatha yoga tidak lagi menjadi kebutuhan untuknya.”

Urip Iku Urup

Sesaat setelah terbangun, aku bertanya, apakah masih ada utang rasa-ku padamu? Sebab semalam sebelum tertidur aku mendengar lantunan tembang Mbah Tejo, hingga terbuai sukmaku bagai asap-asap yang mengepul dari tungku yang tampak lusuh, menebarkan wewangian hidup.

Kini, hujan yang menetes di bawah payung mendung seolah sedang menanggung sesuatu. Menahan gumpalan kerinduan di hatiku, Gusti.

Hujan yang turun di saat titik balik matahari telah memasuki musim kemarau membuatku merenung dan tak bisa menarik diri, hingga apa saja kini menjadi riak riuh pertanda-Mu: petir yang menggelegar, daun-daun yang diajak menari oleh angin, orang-orang yang melintas dan memudar. Yang kudengar dan kusaksikan hanyalah diri-Mu.

Kau hantarkan serpihan cahaya yang samar-samar menembus batas ruang, hingga aku pun dapat mendengar kejelasan rencana-Mu. Hatiku melompat girang kala mengetahui aku termasuk dalam rencana itu. Meski tak sepenuhnya mengerti dan bahkan seringkali ingin ‘mangkir’, tetapi bahkan angan-angan pun tak sanggup berpaling.

Aku mengerti, bahwa hidup itu berarti ‘nyala‘, haruslah menjadi terang. Sebagaimana ‘berserah‘ juga penuh dengan tanggungjawab dan pembuktian, untuk pantas menjadi instrumen semesta. Bagaikan sebuah pertunjukkan wayang, Engkau adalah Sang Dalang yang telah memulai dan menentukan ceritanya.

Yoga, Lembah Indus, Aryan, dan Atlantis

Menulis sejarah yoga yang didasarkan pada hasil riset data dan penelitian, sangatlah berat, tidak pasti, dan tidak menyenangkan! Bagi saya jauh lebih mudah memahami pesan-pesan masa lampau melalui kode yang diselipkan dalam karya seni dan sastra, sebagaimana nenek moyang kita melakukan tradisi penyampaian cerita secara oral atau mulut ke mulut. Hal ini seolah menghindari anggapan ‘sejarah ditulis oleh pemenang’, sebagaimana peradaban dunia saat ini ditentukan melalui hasil peperangan dan tersebar secara acak. Namun saya akan mencoba untuk menjabarkan ‘sejarah yang disepakati’ ini dengan jelas dan sesederhana mungkin, sebab hal ini tetap penting dan mendukung perluasan dimensi pikiran. Gunakan nurani dan temukanlah kebenaranmu sendiri.

     Secara umum yoga disimpulkan berasal dari India sekitar tahun 3000 sebelum masehi- namun banyak dari para peneliti yang bergerak di bidang sejarah dan arkeologi itu juga menyebut angka yang jauh di atasnya, yakni lebih dari 10000 tahun yang lalu. Era yang disebut sebagai pre-classical yoga ini bermula dari Peradaban Lembah Sungai Indus (sekarang Pakistan dan India Barat) yang berpusat di kota Mohenjodaro dan Harappa dan berkembang pada tahun 3000 SM hingga1700 SM oleh bangsa Dravida.

     Diperkirakan bangsa Dravida sudah lama menetap di wilayah Lembah Sungai Indus, dan berhasil membangun sebuah peradaban kuno yang sangat hebat di dataran Asia. Selain ahli dalam berdagang dan teknologi- yang terbukti dari konstruksi bangunan, tata jalan, serta pembuangan limbah modern yang ditinggalkan- terdapat kaum brahmanas dan sramanas yang menjalankan hidup selayaknya pertapa dan kemudian memunculkan ajaran yoga, jainisme, dan buddhisme.

     Setelah tahun 1700 SM terjadi kontak antara penduduk Sungai Indus dengan bangsa Arya, dimana kedatangan mereka mengakibatkan percampuran budaya, terutama mengenai konsep Tuhan/Dewa. Secara umum bangsa pendatang ini mengagungkan kekuatan alam dengan berbagai elemennya, dan agama yang didasarkan pada ritual persembahan, nyanyian, serta mantra. Kontak inilah yang menjadi awal lahirnya Periode Weda (1700 SM – 800 SM) dimana sistem kasta diperkenalkan, dan pada salah satu bagiannya yakni Rig-Veda, tertulis kata yoga untuk pertama kali.

     Siapakah sebenarnya bangsa Arya yang nomaden dan konon membawa pengetahuan canggih ‘dari atas langit’ ini? Ah, long story! Perlu pembahasan khusus mengenai kisah ini- dan sebagai pemancingnya, saya mengutipkan tulisan Prof. Arysio Santos dalam buku fenomenal Atlantis The Lost Continent Finally Found sebagai berikut:

Mesir, India, dan Asal Mula Legenda Atlantis (hal. 72-74): Plato mengakui bahwa ia mempelajari legenda Atlantis dari Solon yang, pada gilirannya, mendapatkan cerita itu dari para pendeta Mesir. Tetapi, para pendeta Mesir pada gilirannya mendapatkan cerita itu dari orang-orang Hindu, yaitu di India dan Indonesia, tempat legenda yang bisa saja benar itu senyatanya terjadi. Indonesia adalah Punt yang merupakan Tanah Leluhur (Tower), “Pulau Api” tempat bangsa Mesir semula berasal, pada zaman dahulu sekali. Bangsa itu terpaksa keluar karena bencana alam yang meluluhlantakkan tanah asal mereka, Indonesia (Punt), mereka pindah ke Tanah Harapan, di Timur Dekat. Mesir adalah Het-ka-Ptah, “kediaman-kedua Ptah”. Ptah adalah Pencipta Tertinggi dalam pantheon Mesir. Dia melambangkan paideuma Mesir, yaitu seluruh kebudayaan dan peradabannya.

Dari “Tanah Para Dewa” inilah bangsa Arya, Yahudi, dan Funisia juga berasal, demikian juga beberapa bangsa lain berketurunan campuran yang membangun peradaban luar biasa di masa kuno, termasuk bangsa Amerika. Hal itu menjadi alasan, mengapa semua bangsa ini berbicara secara obsesif tentang surga yang Hilang dan tentang daratan yang sudah tenggelam. Dari surga yang Hilang inilah—dari Atlantis purba—berkembang semua atau sebagian besar mitos suci dan tradisi agama kita. Dan senyatanya, tradisi-tradisi serta kenangan-kenangan suci itulah, satu-satunya yang membuat manusia berjaya di antara makhluk-makhluk liar lainnya di alam ini.
Dari Atlantis jugalah, langsung ataupun tidak langsung, tersebar semua atau sebagian dari ilmu pengetahuan dan tekno logi kita: irigasi, budaya bercocok tanam, metalurgi, penjinakan binatang, penggembalaan ternak, perkakas batu, astronomi, musik, agama, filsafat, abjad, penenunan serat seperti sutra dan kapas, bubuk mesiu, kertas, kompas magnetik, pengasahan batu mulia, dan sebagainya. Bahkan, bahasa sendiri sampai kepada kita tak bukan adalah dari sana.
Penemuan-penemuan ini sering sehingga tampak begitu alamiah kali begitu maju dan cemerlang, layaknya udara yang kita hirup dan dewa-dewa yang kita puja. Tetapi, penemuan-penemuan yang luar biasa maju itulah yang sampai kepada kita dari zaman purba, dari Atlantis kembar yang sudah kita lupakan sama sekali.

Bangsa Cina menegaskan bahwa “ikan adalah satu-satunya makhluk yang akan paling akhir menyadari keberadaan air”. Demikian juga, tidaklah mengejutkan jika kita begitu tidak peduli pada realitas yang tak terelakkan dari Atlantis, surga yang Hilang, yang dibicarakan oleh semua tradisi suci kita. Tetapi, Atlantis adalah jiwa dan semangat kita, Jiwa Dunia. Hubungan ini juga mengklarifikasi penggunaan kata ka (jiwa, semangat) oleh bangsa Mesir untuk menunjuk tanah asal mereka yang hilang. Punt, surga yang Hilang milik mereka, tak lain dan tak bukan adalah Indonesia, “tanah wewangian dan rempah-rempah” (Moluccas atau Maluku).

     Pada tahun 800 SM – 500 SM, yoga perlahan dikembangkan oleh para Resi dan pemuka agama yang mendokumentasikan latihan dan keyakinan mereka dalam sebuah karya yang disebut upanisads (bagian akhir dari weda). Dilanjutkan dengan karya epik Bhagavad Gita, hingga masa yang lebih terang saat tradisi bhakti (devosi) berkembang dan periode classical yoga yang ditandai oleh lahirnya teks Yoga Sutra Patanjali pada abad ke 4 masehi, sebagai sebuah presentasi sistematis Yoga yang pertama. Teks ini menjabarkan jalan dari Raja Yoga yang berisi tahap-tahap dan langkah menuju Samadhi.

Bersambung

The New Normal Is Unconditional Love

     Merasa sedih sepenuhnya wajar, tetapi merasa terpuruk apalagi mengasihani diri sendiri adalah bentuk ketidaksyukuran yang justru mengundang kemalangan hidup. Hukum semesta tidak pernah berhenti membaca pikiran dan vibrasi, itulah mengapa orang-orang selalu mengatakan ‘Tuhan maha tahu’ dan ‘maha mengabulkan permintaan manusia’. Masalahnya apakah cara kita meminta sudah tepat? Karena cara kita meminta tergambarkan dari kebiasaan, dan apa yang diminta dibaca melalui frekuensi.

     Frekuensi apa? Setiap sel dalam tubuh kita sesungguhnya adalah sebuah electric impulse, atau percikan listrik yang dapat berubah menjadi gelombang. Darisinilah kita berkomunikasi dengan semesta, yakni kekuatan manifestasi itu sendiri, untuk menghadirkan yang non-fisik ke alam fisik. Hal yang mempengaruhi frekuensi terutama adalah pikiran, intensi, dan emosi. Karena itu pencapaian sangat berhubungan erat dengan kualitas kedisiplinan serta tingkat kesadaran.
    
     Lalu apa hubungannya pengantar di atas dengan ‘new normal‘- fase yang secara serempak dimasuki oleh dunia saat ini? Well, jika cukup jeli membaca situasi, pandemi telah membuka mata kita terhadap kejelasan akan dunia macam apa yang kita inginkan, lebih deep bahkan pada takdir kehidupan. Ini menjadi fase dimana kunci misi jiwa terbuka sehingga apa yang menunjang dan sudah usang menjadi terang: jenis dan pola kehidupan, karir, pasangan, semua sektor diobrak-abrik untuk dipertimbangkan kembali. Yeah, kapan lagi ada waktu mikirin semua itu kan?

     Pembatasan sistem dan interaksi sosial adalah pelajaran terbaik untuk lebih saling menghargai. Karena melaksanakan ‘protokol’ tidak lagi cukup, kita benar-benar harus jujur dalam membangun hubungan. Entah mendekat atau menjauh, masing-masing dari kita berhak untuk mengatur timeline-nya, demi relasi yang seimbang, demi kebangkitan dan pada akhirnya, cinta tanpa syarat.
    
     Secara personal kita juga perlu menimang dan berpikir matang sebelum bertindak: bahwa di setiap pikiran, aksara tertulis, ucapan, hingga perbuatan adalah getaran yang dicatat dalam buku semesta dan harus dipertanggungjawabkan. Ini adalah kesempatan emas bagi para lightworker agar menyesuaikan getarannya dengan realitas yang lebih tinggi. Dan bukankah selama ini, itulah yang dinanti?
    
     Gerbang Aquarius telah terbuka, and this is the judgement. Sebuah zaman pembebasan diberikan untuk mereka yang memilih untuk menyelaraskan frekuensinya, dan sebaliknya dunia lama untuk mereka yang memilih tinggal. Ini adalah zaman dimana tidak ada lagi kekerasan, maka sebisa mungkin- semenjak dini, hancurkan seluruh ego sebagaimana makhluk suci phoenix membakar dirinya dan terlahir kembali dari bekas abunya.
    
     Melenyapkan kesengsaraan dari atas bumi, semua pekerjaan ini bukanlah pengorbanan, tetapi kesadaran. Dari gerbang yang disimbolkan dengan angka 1111 itu (the gate, ascension, kelimpahan dan anugerah yang terbuka), kita didorong untuk beranjak naik, sehingga semenjak saat ini juga setiap langkah (pikiran, ucapan, perbuatan) adalah ujian. Kekuatan manifestasi dilipatgandakan (makna angka 2222), dan ini adalah untuk memeneuhi kebutuhan perjalanan pulang ke rumah.

Pada akhirnya new normal barangkali hanya sebuah istilah untuk menandai cara hidup pasca pandemi oleh pemerintah, namun tentu kita tahu bahwa inilah perjalanan mewujudkan surga di bumi. Jalan dan kebaruan itu adalah cinta tanpa syarat.