The Age Of Light

Seharusnya lanjutan tulisan dari Penakluk Kegelapan sudah selesai beberapa hari lalu, namun sayangnya tulisan itu tak sengaja terhapus sehingga saya harus mengulanginya lagi. Meski begitu tak ada kekecewaan, saya sepenuhnya mengerti bahwa hal ini berarti saya harus menulis ide yang baru.

Saya pun belajar untuk lebih jeli mengevaluasi dan memerhatikan hal kecil, yang secara tak sadar terus dihindari, namun sebenarnya menentukan langkah berikutnya. Betapa melegakan untuk tidak lagi merasa terbebani, dimana muncul insting untuk menata hidup lebih sederhana.

Selama pengalaman menulis, telah terjadi sejumlah penundaan oleh karena alur yang tidak mengalir. Tidak mudah bagi saya untuk yakin dan mengakui percampuran tangan semesta ini. Hingga diri sejati meminta untuk berhenti, agar tidak lagi menahan diri dan berani mengklaim kelimpahan sebagai janji keadilan Ibu Bumi.

Percayalah Beliau selalu mengasihi dan tahu apa yang terbaik untuk anak-anakNya, terutama bagi yang setia berserah dalam tuntunan rencana-Nya. Saya jadi mengerti bahwa diperlukan ruang yang luas untuk menyimak dan mendengarkan.

Jutaan inspirasi dan jeda adalah cara untuk mengundang berkat alam. Kesabaran semata adalah waktu untuk merasakan puji syukur yang menghantar tahap kedua dari jurnal jiwa ini. Saya pun tidak lagi membicarakan pencerahan, tetapi merasakan mantapnya tercerahkan. Dan itulah yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini: to claim your light.

Kidung Kemujuran

Bercampur aduk hujan dan langit cerah
Membawa purnama yang sama dari orang tua
Sebuah kidung tentang kelahiran, perjumpaan, dan kematian.
Bila begitu, maka inilah kidung kemujuran

Jelang lahirnya Batara Surya, 5 Juni 2020

Adalah watak Rajapatni Gayatri yang agung, sehingga mereka menjelma pemimpin besar sedunia, yang tiada tandingannya. Putri, menantu, dan cucunya menjadi raja dan ratu. Dialah yang menjadikan mereka penguasa dan mengawasi semua tindak tanduk mereka” ~ (Negarakrtagama, Bab 48)

Penakluk Kegelapan

Manusia dilahirkan dengan dualitas, terang dan gelap akan selalu menjadi pendamping hingga akhir perjalanan kehidupan. Tentu Tuhan menciptakan hal ini untuk kebaikan, agar kita dapat terus belajar dan berkembang, sebagaimana hidup sejatinya adalah pergerakan.

Terang bisa diartikan dengan bakat, hidup yang berkelimpahan, keberuntungan, optimisme, dan sukacita. Sementara gelap adalah ketidakberdayaan, dendam, kekecewaan, sikap mengasihani diri sendiri, serta kehancuran. Kedua kekuatan ini bekerja tanpa henti untuk berebut kuasa atau dominasi dalam diri, hingga manusia harus selalu melibatkan peran Tuhan, dengan cara menjadi partner pencipta-Nya, alias co-creator di dunia.

Untuk itu saya membuat sebuah jurnal jiwa, yang juga dapat diikuti oleh teman-teman semua sebagai upaya dan langkah penyembuhan. Seperti yang telah saya sebutkan bahwa manusia lahir dengan konseskuensi dualitas, maka salah satu misi yang dibawanya adalah misi penyembuhan.

Entah itu penyembuhan luka batin yang diakibatkan oleh kebiasaan buruk serta trauma masa lalu (baik diri sendiri maupun orang lain), lingkungan, hingga planet bumi. Kelompok yang mengemban misi terakhir dikenal dengan sebutan Lightworker, atau Ksatria Cahaya. Mereka bergerak di berbagai lingkup kehidupan seperti politik, kesehatan, pendidikan, pertanian dan lain sebagainya, dengan cara mendobrak sistem lama dan memberi contoh untuk penciptaan sistem baru yang berbasis cahaya. Tentu sebelum melakukan penyembuhan skala besar ini, para Lightworker telah diuji terlebih dahulu melalui pengalaman hidupnya. Dan dengan mengetahui cara untuk bangkit, ia pun dapat menolong orang lain dan bumi dalam proses penyembuhan.

Jurnal jiwa ini sebenarnya berfungsi sebagai catatan transformasi yang juga dapat digunakan sebagai terapi, terutama untuk pelepasan jalur lama yang tidak lagi mendukung perkembangan jiwa. Melepaskan adalah cara membuka diri terhadap peluang baru, sehingga mengundang apa yang selayaknya menjadi realitas. Lalu apa saja yang dikerjakan dalam jurnal ini?

Pertama, sadari dan tuliskanlah sisi-sisi gelap dalam diri. Rasa kurang, benci, iri hati, pesimis, hingga sikap menghakimi. Tulislah dengan lapang dada sebagaimana kita ingin meletakkan masalah di atas meja, sebagai bentuk kesediaan untuk mengatasinya.

Tahap ini akan menjadi pelajaran penting bahwa semua persepsi buruk yang muncul tentang dunia sesungguhnya bersumber dari sisi gelap kita sendiri. Alasan mengapa seseorang dengan keras menghakimi orang lain misalnya, adalah bentuk rasa tidak aman, ketidakpuasan, dan kekecewaan.

Membedah sisi gelap diri bisa menjadi momentum yang sangat melegakan sekaligus menakutkan. Disini kita membutuhkan kekuatan doa sebagai pelebur, terutama untuk memaafkan diri sendiri dan orang lain. Kadang mungkin akan terasa sangat sulit untuk memaafkan, namun yakinlah bahwa dengan doa, kita dianugerahi kekuatan untuk mampu melakukannya.

“Berdoalah dengan percaya diri layaknya Ia orang paling dekat dalam hidupmu! Dia akan menoleh dalam sapaan pribadi yang dekat, bukan sikap layaknya budak.”

Pada akhirnya, proses ini bertujuan untuk membawa kedamaian dengan menerima sisi gelapmu. Jadikanlah ia sebagai alarm yang melindungi, kala pikiran gelap mencoba untuk menguasai. Pahamilah kehadiran dari entitas ini, dan biarkanlah ia melakukan tugasnya di bawah kendali kuasa cahaya.

Jadilah penakluk kegelapan.

Bersambung…

Sekolah di Indonesia

Meskipun cenderung tidak mementingkan pendidikan akademik, namun saya tetap menyelesaikan pendidikan di jenjang universitas dengan gelar sarjana ilmu komuniasi. Mengingat passion untuk mengajar sangat kuat, sebenarnya ada pemikiran untuk melanjutkan ke tingkat master, tetapi kata hati saya tidak bisa dibohongi. Cukup deh!

Cukup dengan kenyataan bahwa sistem pendidikan yang saya tempuh tidaklah supportive, baik itu dari segi materi pelajaran, cara penyampaian, hubungan guru-murid, sampai goals dari bersekolah yang melahirkan pertanyaan: aku ini mau dibawa kemana?

Sederhananya murid hanya perlu dibimbing untuk belajar secara mandiri dengan memaksimalkan bakat masing-masing. Seperti nasehat Gusdur pada putrinya Inayah Wahid, manusia hanya bisa menjadi jenius jika berada pada tempatnya. Atau Einsten yang berpendapat bahwa kita tidak dapat menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat.

Ini berarti guru tidak boleh men-general-kan murid untuk melahap kurikulum, tanpa mau tahu apakah hal tersebut nantinya akan berguna di masa depan atau tidak. Saya tidak sedang marah atau menyindir, tetapi kenyataannya dari puluhan guru yang pernah mengajari saya, hanya dua sampai tiga yang berkesan, dan itu karena dukungan secara mental yang telah membuat saya merasa berharga sebagai manusia yang sedang berkembang.

Intinya, sosok guru harusnya menjadi seorang mentor atau coach, yang mengarahkan bagaimana skill seseorang dapat dimanfaatkan. Ia perlu mengenal muridnya tidak sebatas kemampuan akademik, tetapi pribadinya, psikologinya, dan membangun strategi belajar yang efektif dan cukup spesifik untuk mengasah kemampuan terbaiknya.

Mengapa ini penting? Karena bagi saya bakat adalah takdir. Karena sekali lagi, saya percaya bahwa manusia adalah energi yang tidak pernah mati, dan di dalamnya terdapat DNA yang membawa, menyimpan, serta menyandi instruksi-instruksi genetika setiap organisme, sehingga apa yang menjadi kemahiran seseorang bukanlah sesuatu yang kebetulan, dan bisa dibangkitkan.

Lalu bagaimana caranya? Pertama, pangkas waktu belajar di sekolah. Atau lebih tepatnya pangkas waktu tatap muka sebagaimana pandemi telah mengajarkan kita untuk belajar secara mandiri. Bagi saya, belajar akan selalu menjadi sebuah ruang pribadi, sebab pemahaman tidak terletak di alam sadar, dan observasi adalah upaya yang didorong oleh keingintahuan.

Sementara guru yang berperan sebagai mentor memberikan referensi sebanyak-banyaknya, berupa buku apa saja yang harus dibaca, kegiatan tambahan apa yang perlu dilakukan, serta penerapan kebiasaan di rumah dan lingkungan yang mendukung teruwujudnya cita-cita (dan ritual!). Ini adalah cara belajar yang mengikutsertakan seluruh elemen kehidupan si murid, menemukan keterkaitan yang nyata sehingga keinginan lebih cepat diwujudkan.

Seorang tenaga pelajar tidak perlu selalu hadir dan menjabarkan detail pelajaran yang kemungkinan- akan diterjemahkan dengan lebih luwes dan segar oleh muridnya, dengan caranya sendiri. Guru menjadi pembimbing, pemantau, dan pendukung setia. Ia harus total meniru sikap Semar yang mengingat dan memomong generasi selanjutnya, menegaskan bahwa masa depan seseorang pada akhirnya berada di tangannya sendiri.

Dan di akhir paragraf, sebagai seorang Jnana Yogi, perlu disampaikan bahwa kebenaran sejati hanya berasal dari Sang Gusti, dengan mahakarya salah satunya berupa alam semesta ini. Dan semua pemikiran yang dihasilkan dari keingintahuan anak-anakNya, adalah jalan pendekatan diri dan cinta terhadap Beliau. Cinta yang terkadang membuat bingung, rasa ingin bergelud, dan menimbulkan jutaan pertanyaan di hati seperti yang tertuangkan dalam tulisan ini.

Tertanda, anak-Mu yang tidak pernah berhenti bermimpi.

Blessings in Disguise: Job Baru Saat Pandemi

Bagaikan petir di siang bolong, orang-orang yang tengah sibuk dengan rutinitas pekerjaan yang entah sebenarnya cukup berfaedah atau tidak, dipaksa mengunci rapat pintu dan berdiam dalam ketidakpastian.

Ditambah lagi suguhan bunyi dentuman yang menakutkan, alias kabar-kabar burung yang mengalir deras dari media online, hmmm lengkap sudah skenarionya…

Tapi lepas dari apakah berita yang beredar sepenuhnya benar atau tidak, saya jadi terbayang akan kisah Nabi Nuh yang ‘terkepung’ dalam kapalnya sendiri saat banjir besar. Bahkan untuk memastikan keadaan di luar, ia harus mengirimkan seekor burung untuk memantau keadaan. Yaah…  kurang lebih analoginya seperti kita sedang mendambakan jenis masakan tertentu di warung kesukaan, lalu memesannya lewat ojek online. Well, bisalah ya, mengingat burung pengantar surat impian ala Harry Potter ini kerjaannya sudah diinvasi oleh zaman, dan digantikan tukang pos sekarang.

Tetapi seiring dengan waktu, kita pun jadi terbiasa dan menemukan sejumlah rutinitas baru, seperti misalnya menjadi ‘pengatur strategi jalan-jalan yang handal setelah pandemi berakhir’. Rencana ini bisa jadi aktivitas jelajah alam, seperti yang banyak dikicaukan di Facebook komunitas bule yang menetap di Bali: ‘do you know any beach that is open?’ Atau komunitas pendaki gunung: ‘Min, ada info gunung yang sudah dibuka?’ Rata-rata kicauan seperti itu disambut dengan hujatan yang lebih keras daripada tawuran betulan. Well, faktanya sosial media bisa jadi wadah bagi orang-orang yang tidak tahu cara untuk mengekspresikan kemarahan, kekecewaan, atau bahkan cinta dan kasih sayang di dunia nyata. Alhasil, di sosmed bisa lebih galak daripada aslinya! Tapi enggak apa-apalah, setidaknya kita tahu kalau kata-kata bisa menjadi senjata perpecahan atau juga inspirasi yang menenangkan.

Kembali lagi ke penemuan bakat terpendam saat pandemi, salah satu yang berharga adalah feel ibu rumah tangga yang kembali membara. Bisa dibilang ini sepenuhnya blessings in disguise bagi ibu-ibu sekalian (dengan catatan kerjaan suami lancar jaya) karena akhirnya memiliki waktu luang untuk baking kue idaman!
Ini bukan sarkas lho ya, tapi mengingat banyaknya wanita karir yang tahu porsinya untuk berekspresi dalam karir, saat seperti ini menjadi kesempatan untuk menggali kreativitas. Menariknya fenomena ini juga mewabah hingga para pelajar, mahasiswa, dan jomblowati yang serbasalah, sebab mereka harus melakukan beragam pekerjaan rumah tangga tanpa suami.

Dan satu yang terakhir adalah kreativitas yang patut dibanggakan, dimana semua kini berlomba-lomba menjadi kreator. Oh Bukan, bukan soal konten youtube, blog, podcast, atau TikTok, tetapi usaha-usaha yang lahir dengan penawaran hasil kreasi sendiri, yang tentu saja pantas diperjualbelikan!
Akhirnya, apa yang selama ini dibeli, dibuat.
Apa yang selama ini dibayangkan untuk dibuat, direalisasikan.
Apa yang selama ini malu-malu untuk diperkenalkan, dipasarkan juga!

Sungguh fantastis mengetahui pikiran kalian terus bekerja bak professor yang tengah melakukan penelitian, sekaligus bahwa kebutuhan rebahan yang selalu terpenuhi.

Ya sudah deh, kalau ditanya kapan pandemi ini akan berakhir, jawabannya adalah segera setelah kalian menyadari betapa kalian menikmati pandemi ini.

Blessings in Disguise: Manusia Itu Harus Tercerahkan!

Apakah kalian percaya dengan akhir cerita yang indah? Apakah kalian percaya pada kekuatan dari upaya dan harapan yang dapat memutarbalikkan keadaan?

Sebagai seorang yang cukup dewasa untuk menilai, dapat dikatakan bahwa masa kecil dan masa pertumbuhan saya relatif tidak mudah. Banyak rasa malu, tidak percaya diri, kesulitan ekonomi, masalah keluarga, dan pencarian spiritual yang berat. Sejujurnya, saya menitikberatkan akar masalah ini pada diri saya sendiri. Bukan berarti ada kecenderungan rasa bersalah dan penyesalan lho ya, sebaliknya sikap ini menjadi tombak kekuatan internal yang jika dianalogikan, seperti busur panah yang sedang ditarik ke belakang dengan kuat, untuk kemudian melesat cepat dan tepat sasaran. Entah itu karena pilihan saya sendiri, atau desakan keadaan (keadaan sejatinya adalah ‘pilihan’ yang didorong muncul oleh alam bawah sadar).

Jika begitu, maka apa yang tampak mundur sebenarnya adalah bayangan pelindung dari gangguan yang tidak perlu, bahkan cenderung besar. Ini menguatkan keberadaan filter otomatis yang mungkin dikenal dengan suara hati, spirit guide, atau malaikat pelindung. Namun tanpa mengurangi rasa hormat akan keberadaan energi-energi tersebut, mari kita kerucutkan lagi permasalahan sekaligus solusinya hanya pada diri.

Ada keyakinan bahwa kelebihan adalah kekuatan, dan kekurangan pun adalah kekuatan. Kekuatan internal itu melahirkan semacam hukum bahwa seiring dengan banyaknya ketimpangan hidup, banyak pula celah transformasi yang disediakan. Dan transformasi itu telah membangun filter kebenaran yang juga bertransformasi dari waktu ke waktu!

Mengapa? Karena kesadaran perlu ditingkatkan…

Kekuatan Internal

Jika manusia (jiwa) adalah energi, maka jiwa tidak berawal dan tidak berakhir, artinya mati adalah gerbang transformasi. Dan kita telah mengalaminya berulang kali, melalui fase hidup yang bergulir saat ini, atau dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain.

Saya menyebut kekuatan internal ini selayaknya tempat menyimpan dan menyandi instruksi-instruksi genetika setiap organisme, yaitu DNA. Dan saya tidak ingin sekedar berbicara di lingkup bapak dan ibu saja, tetapi hingga leluhur kita yang hidup puluhan ribu tahun sebelumnya, atau bahkan serpihan atmosfer yang melayang-layang di jagad raya. Mau tidak mau, manusia membawa serpihan ingatan ke-Tuhanan, dan itu menjelaskan mengapa kita bertahan, bangkit, dan harus tercerahkan!

1. Titik Awal
Titik awal kita bergerak, alasan mengapa segala kehendak dan emosi muncul- bahkan alasan mengapa dunia ini bergulir, adalah sebuah keyakinan bahwa hal tersebut membawa kebaikan. Pada awalnya secara logika mungkin kita tidak tahu bagaimana kehendak dan emosi itu dapat terekspresi, namun pengetahuan yang terletak di alam bawah sadar sudah mengetahuinya, dan akan terus membimbing kita hingga titik teratas, yang juga harus diterima bahwa itu tak ada batasannya!

2. Titik Kesadaran
Dalam perjalanan, kita akan menemukan diri jatuh cinta lebih mendalam terhadap apa yang dikerjakan. Ini berkah yang sangat istimewa dari bimbingan alam bawah sadar, sebab passion menjadi cahaya penghubung kehidupan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Titik ini adalah saat dimana kita mampu hadir sepenuhnya dalam saat ini, kesadaran membawa informasi yang terus mengalir dan mencerahkan.

3. Titik Kenikmatan
Poinnya sangat jelas: kita tidak sedang mengerjakan hal-hal baru, tetapi memandangnya dengan cara yang baru! Saya tidak perlu menjelaskan bagaimana kerja yang nikmat mengalirkan kreativitas, silakan menjadi saksi yang mampu memberi keputusan terutama terhadap cara pandang sendiri.

Kini, apakah kamu masih percaya akan sebuah akhir yang bahagia? Atau kamu malah yakin, bahwa akhir itu tidak ada, dan bahagia adalah kesadaran yang hadir di setiap saat?

Ajaran Budi

Darimana datangnya Ajaran Budi, dan bagaimanakah perwujudannya?

Ajaran Budi merupakan ajaran dari Sabdo Palon, sosok yang hidup dalam legenda kearifan Jawa, yakni leluhur-nya Wong Jowo itu sendiri. Sosok ini sejatinya sama dengan tokoh lain yang tidak kalah populer, yakni Eyang Semar.

Disebutkan pada zaman Mahabharata, Sang Hyang Batoro Ismoyo, yakni sosok dewa yang dimuliakan sebagai pembimbing Tanah Jawa, mengejewantah menjadi Eyang Semar untuk mendampingi Pandowo. Pandowo Limo adalah ksatria yang berjuang menegakkan kebenaran, dengan lawan Kurowo yang berkehendak sebaliknya.

Sebagai sedulur setia, Semar lalu menciptakan Bagong dari bayangannya sendiri. Kedua tokoh ini lalu melanjutkan tugasnya di masa kerajaan, dengan menitis sebagai Sabdo Palon dan Noyo Genggong. Jadilah mereka sebagai tokoh kunci yang membawa Nusantara ke era kejayaan.

Sementara penitisan dalam Ajaran Jawa merupakan simbol akan adanya ‘satu energi ketuhanan’. Satu energi dapat mengejewantah menjadi beragam sifat, yang masing-masing memiliki kehidupan dan kehendaknya sendiri. Orang Jawa dibebaskan untuk memuliakan sifat mana yang sesuai dan ingin dikembangkan dalam dirinya. Sebagai contoh Brahma-Wisnu-Siwa dengan sifat mencipta, merawat, dan meleburkan. Serta banyak lagi sifat-sifat lainnya.

Perlu ditegaskan bahwa Kawruh Jawa tidak berkaitan atau bertentangan dengan agama-agama tertentu. Justru ajarannya sangat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari yakni berupa laku, sehingga dapat menjadi pegangan manusia sepanjang zaman. Budaya spiritual Jawa menggunakan istilah kawruh sebagai sesuatu yang bukan sekedar diyakini, tetapi sudah diketahui betul sebagai gabungan hasil pelajaran hidup dan laku semedi.

Inti Ajaran Sabdo Palon

Dijabarkan bahwa manusia hendaknya meniru sifat Sabdo Palon, terutama sebagai pemomong, yakni pengasuh yang sabar dan berwelas asih. Hal ini dibarengi dengan sikap setia untuk membela dan mendampingi, teguh dalam berpendirian, mandiri dan tidak ikut-ikutan, sebab sudah menimbang kebenaran yang dihubungkan dengan kebijaksanaan untuk menghasilkan ketepatan (pener).

Beliau juga mengingatkan agar manusia selalu memupuk sikap rajin, bersemangat, dan mau belajar. Adalah penting untuk berlatih olah rasa, membedakan mana rasa yang subjektif dengan rasa yang objektif (rasa sejati). Oleh karena itu diperlukan latihan semedi sebagai optimalisasi ruang alam bawah sadar, agar berperan dan berpengaruh terhadap pikiran sadar. Dijelaskan bahwa dalam kondisi hening, alam bawah sadar sejatinya memberikan pengetahuan dan perintah yang benar, selayaknya pikiran yang secara tidak sadar mengirimkan sinyal pada jantung agar selalu berdetak dan menjaga kehidupan kita.

Sementara kewajiban untuk berkarya adalah komitmen dan semangat memayu hayuning bawono. Seiring dengan itu sebisa mungkin manusia menghindari konflik, sebab adalah sifat manusia untuk mengunggulkan keyakinannya, sehingga perdebatan hanya dapat membawa kehancuran. Di poin ini juga dipertegas bahwa energi yang baik sifatnya menghidupkan, sementara energi yang tidak baik membawa kematian.

Sebagai pribadi kita perlu memahami bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah kelebihan, juga apa yang tidak dimiliki adalah kelebihan. Kiranya kita dapat melihat hal yang sama pada orang lain dan senantiasa bersikap lepas terhadap kehidupan. Dengan begitu, terciptalah pola kerjasama yang indah.

Beliau pun berpesan agar kita selalu berupaya untuk berkomunikasi dengan penguasa jagad, mengenal dan mengingat leluhur, serta membudidayakan Kawruh Jawa pada generasi penerus agar senantiasa selamat.