Nadi-Nadi Swargaloka…

Angin dingin musim kemarau menyapu punggungku, meski sudah berpakaian tebal. Bintang berkelap-kelip di angkasa, bau asap yang membakar ranting kayu memberi aroma menghangatkan, namun rasa ngilu tetap menusuk tulangku dengan tak tertahankan.

Saat ini ribuan manusia yang tengah serius mempelajari Weda Jawa dan tersebar dengan ritme yang mengagumkan, bersorak-sorai menanti petualangan yang menggetarkan. Petualangan yang perlahan akan mengungkap jati diri insan manusia, yang masing-masing membawa serpihan cerita untuk kemudian dipersatukan, agar menemukan jalan keluar.

Mereka berjalan sendiri-sendiri, menyelesaikan permasalah demi permasalahan, sendiri-sendiri. Terlindung oleh malaikat yang mengawal dari berbagai penjuru, mereka hanya perlu yakin dan menjaga batin agar tetap seputih salju.

Ah betapa menyejukkan, jiwa-jiwa pencipta Swargaloka bertebaran di bumi… berupa mereka yang mencintai, melestarikan, dan hidup dalam kreativitas. Berupa mereka yang senantiasa setia pada dharma, dan berusaha menegakkannya. Dalam hati, di seumur hidupnya, rasa tentang keadilan begitu kuat hingga auranya terpancar dengan dominan dibanding teman-teman seusianya.

Seni, budaya, dan teknologi bukan hanya menjadi alat untuk menghidupkan kembali wujud jati diri yang telah lama dikaburkan oleh lapisan-lapisan ketidaksadaran. Tetapi menjadi nadi yang mewarnai kehidupan sehari-hari… Nadi-nadi Swargaloka…

“Memang sebenarnya, jiwa-jiwa lama yang kesadarannya sudah terlanjur terbolak-balikkan tidak lagi dapat ditolong…”

“Jadi apa mereka semua harus mati?”

“Betul.”

Aku bergidik ngeri, kubayangkan jika akumulasi dari jiwa yang tak tertolong ini pada akhirnya harus menghadirkan bencana besar dan menghanyutkan seluruh pulau, seperti yang pernah terjadi puluhan ribu tahun lalu.

“Dengan pemahaman bahwa kematian dan kelahiran menjadi satu-satunya jalur alamiah yang akan menyeimbangkan segala sesuatu yang sudah terlanjur, jiwa-jiwa pencipta Swargaloka itu hadir. Mereka sendiri, setelah mengalami berbagai cobaan kehidupan terutama saat remaja, sadar bahwa proses ini harus dialami oleh setiap orang yang ingin terbebaskan dari kepalsuan.”

“Mati sajroning urip, urip sajroning pati.”

“Tepat.”

“Seperti apa itu menjadi mati?”

“Kematian bagi kebanyakan orang hanya terjadi pada jasad, yakni selayaknya berganti pakaian, atribut, ruang, dan waktu. Tetapi bagi para Ksatria, Pendeta Agung, dan Para Raja, kematian sama dengan kelahiran, dimana puing-puing belenggu telah tersingkirkan. Hidup bukan sekedar hidup. Hidup adalah kesadaran.”

Jangkrik berhenti mengerik. Angin berhenti bertiup. Awan-awan kecil yang sebelumnya melayang bebas tak terarah seolah membeku di angkasa. Kuyakin sejenak waktu terhenti- atau melamban dengan begitu signifikan.

Perlahan, suara derak api yang membakar ranting-ranting kering kembali memantulkan getarannya di udara. Rasa dingin menusuk tulangku lagi, menyibukkan pikiran dengan mencari cara untuk menghangatkan diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s