Siwa Tandawa

Sambil berbaring, kupandangi kilau di langit yang membentuk gugusan bintang, berusaha agar tetap terjaga karena tak ingin melewatkan malam.

“Apakah kita berasal dari tempat yang sama, mengingat disini aku terlihat sama saja sementara kulitmu berubah menjadi biru bagaikan samudera yang dalam?”

Segaris bulan sabit berwarna perak menyala-nyala di dahinya.

“Bibit yang sama, bahkan bisa dibilang persis sama. Namun berkelana dan mengalami kehidupan yang berbeda, ini yang disebut evolusi jiwa.”

“Jelaskan.”

“Kehidupan seperti halnya sekolah dimana kita belajar dan mengikuti ujian. Jika kita mampu melewatu ujian, maka naiklah kita ke level berikutnya, dalam konteks ini adalah kesadaran. Jiwa kita telah melakukan perjalanan yang panjang dan telah melewati banyak ujian, karena jika tidak kita harus terus mengulangnya.”

“Pada intinya, memang begitulah sifat energi. Sifat dari Jiwa yang ingin terus berkelana…” lanjutnya.

“Bergerak-gerak, muncul dan lenyap, terus berubah…”

“Untuk apa?” tanyaku penasaran.

“Karena ada ruang untuk bergerak. Ada medan tempat mereka muncul dan lenyap, meski seakan mereka bereaksi di luar hukum sebab akibat.”

“Artinya?”

“Tak bisa diprediksi.”

“Ruang adalah potensi, dan pergerakan menciptakan kreasi, energi yang baru. Dari sana saja kita bisa memahami keagungan tentang karunia kehendak bebas. Apapun yang hadir di dunia tiga dimensi, dan terutama bagian yang paling penting yang menghidupimu merupakan alat, atau tepatnya remote control. Disanalah ladang permainan yang sesungguhnya terjadi, ladang pertumbuhan milikmu. Hanya saja manusia adalah makhluk yang istimewa, artinya berkesempatan untuk melesat jauh dan mewujud menjadi makhluk yang lebih mulia lagi.”

“Manusia memainkannya dengan meniru cara Tuhan yang elegan, yaitu melalui cinta yang terekspresi dalam kreativitas,” ia menyelesaikan dengan setengah berbisik.

Di saat bersamaan di tempat yang lain, Sang Gunung Suci Krakatau sudah kembali mengeluarkan gaungnya. Puncaknya sekejap rata dengan lautan samudera, memuncratkan cairan yang juga mengerang di saat bercampur dengan air asin. Sekali lagi, Siwa menari ketika dipersatukan dengan Sakti-nya, potensi tak terbatas yang tertidur dalam dirinya sendiri, dan menunggu untuk dibangunkan pada saatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s