Tilem

Dalam bahasa Kawi, tilem berarti malam yang gelap, berhubungan dengan sebuah awal dan perjalanan. Dinaungi oleh keheningan dan bintang-bintang yang tertutupi kabut, pertanda cuaca ekstrim yang dimaknai sebagai musim pembersihan dimulai.

Dan terjadilah.

Beberapa hari setelah tilem, bulan sabit tercentang di langit-langit, membuatku teringat pada Dewa Siwa, dan lagi-lagi membuatku bertanya, mengapa Siwa? Mengapa ia begitu agung secara rahasia di kalangan jiwa-jiwa penghuni Nusantara?

Ohh Siwa adalah sebuah perlambang!
Siwa adalah Jiwa yang telah berhasil mencapai kesempurnaan. Secara samar-samar, manusia Nusantara menyebut dirinya sudah pernah mencapai kesempurnaan dan membungkusnya dengan nama Siwa, kala itu.

Tapi musim telah berganti, dan tentu kita tidak ingin menyamakannya lagi. Jika memang harus terjadi lagi maka biarlah nyanyian Salomon/Sulaiman/Sleman bergema menjadi nyata dan menjadi perlambang kesempurnaan hati kita:
Dimana bunga-bunga telah bermekaran, dan suara pekikan burung terdengar di seluruh tanah kita.

Kesempurnaan itu terjadi secara serempak. Di seluruh jagad raya, dimulai dari diri ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s