Java, the Island of Gods

Hana desya lêngong lêyêp kangonya/ ri Yawadwipa kasankhya nusha sasyri/ palupuy Hyang Agastya tan hanoli/ ya tika träsa hilang halepnya mangke.

Ada sebuah negeri sangat indah/ keindahannya bagai di alam mimpi/ namanya Yawadwipa/ sebuah pulau agung yang merupakan kitab Hyang Agastya nan sakti/ pulau yang tiada bandingnya/ kini pulau itu dihinggapi ketakutan dan keindahannya seolah hilang

-Lontar Smaradahana, Sarga 53, Sloka 2-

Cerita tentang pulau Jawa tak pernah ada habisnya. Dikelilingi oleh lekukan pegunungan yang jumlahnya tak terhitung, buih-buih mistis berpadu dengan keasrian, membekas dalam kesadaran.

Barangkali Jawa itu nenek moyangku, juga untukmu yang merindukan kesempurnaan jiwa. Bukan di dalam darahku memang, tapi jauh tertanam dalam guratan yang lebih halus. Buktinya jiwaku yang bebas dan selalu ingin berkelana mencari sesuatu untuk dikerjakan, melompat girang mendengar namanya. Cerita-ceritanya yang fantastis dan seolah tak mungkin benar-benar terjadi, mengantarkanku pada nostalgia yang menggairahkan.

Memang tak semua yang muncul dari nostalgia itu menyenangkan, tapi jika sudah pernah bersentuhan dengan narasumbernya, sungguh-sungguh! Tembok-tembok ketidakyakinan itu akan runtuh, dan kamu tak akan takut pada filter-filter kepalsuan yang memang sesungguhnya tak berdaya. Kamu hanya tak perlu ragu bahwa memang dirimu dilahirkan untuk mengungkapkan kesejatian ini.

Lihat saja! Candi-candi, piramida, portal rahasia yang tersembunyi di dalam perut gunung, semua itu siap membangunkan ingatanmu kembali akan sifat-sifat kebudayaan kuno yang melampaui modernitas. Semua itu adalah bagian terluar dan kode-kode tentang kemuliaan yang tidak pernah hilang dalam hati jiwa-jiwa yang sempurna.

Jika keyakinanmu cukup, tidaklah perlu kamu naik ke atas gunung atau pergi ke tempat-tempat tertentu, karena sesungguhnya masih banyak filter yang terbalutkan disana, dan banyak pula yang ingin didewa-dewakan.

Jadilah dirimu apa adanya. Dirimu yang dilahirkan untuk mengungkapkan kesejatian jiwa.
Dengarkanlah desiran angin yang secara halus membisikkan rahasianya. Renungkanlah cerita pohon-pohon yang telah menyaksikan jatuh bangun kejadian di tempat itu. Dan cobalah berbaring di atas tanahnya yang berdegup bagaikan detak jantung, hingga kamu pun dipercaya sebagai anaknya yang mulia!

Menyentuhmu- guratan alam yang ada nyata di dunia- telah membuka ruang-ruang yang begitu luas untuk dapat diisi oleh semua sahabat-sahabatku. Ruang itu bukanlah tempat- melainkan hati yang meluas dan mampu menciptakan hidup yang pantas.

Dan janganlah lagi bertanya siapa para dewa penghuni tanah surga ini.

Biarlah musim berganti dalam keindahan, biarlah jiwa kita menjelma dalam kesempurnaan, biarlah kita menjadi kebijaksanaan yang penuh kasih sayang di tanah kita sendiri.

Kamu, sahabatku, adalah Dewa dari para Dewa, yang terbaca melalui gerak-gerikmu di dunia.

Jelang matahari terbenam

Bali, 13 Juli 2019

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s