Purnama

Aku berbaring di atas batuan berundak, sementara ia duduk di sebelahku, menikmati setiap momen di hamparan alam yang berbalik menyaksikan kami saat itu. Gunung di malam hari, bersama seorang yang tidak sepenuhnya asing…

Di beberapa waktu sebelumnya, saat purnama pada Sasih Kapah yang jatuh di bulan Juli kalender Masehi, terjadi gempa dengan guncangan yang membangunkan makhluk-makhluk yang tengah asyik tertidur. Tentu ‘membangunkan’ adalah sebuah kiasan.

Mereka bertutur, bahwa sebelum gempa membangunkan dan memaksa mereka berlari pontang-panting ke luar rumah, penantian di paruh musim pertama sangatlah berat. Tapi juga diakui, bahwa pengorbanan itu sendiri menciptakan hidup terfantastis yang pernah terjadi bagi masyarakat gabungan tiga generasi tersebut.

Yeah, memang mereka tidak mengutarakannya dengan kelugasan seperti itu. Selain kosakata yang tidak sederhana, fenomena blank mendadak yang khas terjadi pada masyarakat yang sedang mengalami pergeseran, membuat permainan waktu begitu terasa di tempat itu. Singkat cerita, saat mereka keluar dan mengarahkan kepala ke atas, tampik garis-garis awan tipis dengan sedikit lekukan emas, bagaikan sekawanan burung yang ramai menghiasi langit.

“Itulah mengapa Solar Flare, sebutan untuk badai matahari, digambarkan dalam budaya masyarakat setempat sebagai burung Phoenix. Phoenix lalu dinamai Garuda oleh masyarakat sekitar, adalah simbol dari keabadian, Bathara Kala yang sesungguhnya. Ia adalah ruang dan waktu. Ia adalah matahari itu sendiri, yang membuat kita memutuskan kapan siang dan malam terjadi, dan perputarannya melahirkan sistem kalender yang menandai waktu di bumi.”

Aku bercerita, siapa tahu ia merasa tertarik pada kisah semacam ini.

“Namun, matahari juga sama seperti bulan, perputarannya dapat dipercepat dan diperlambat, bahkan pada suatu titik berhenti untuk berbalik arah putaran. Itulah sifat dari waktu yang tidak absolut, dapat diatur sesuai pikiran dan emosi kita yang menjalaninya, sehingga tubuh pun, yang merupakan bagian terluar dari Jiwa, mengikuti arusnya.”

Ia menengokkan kepala menatapi bulan yang masih sempurna. Saat itu selang dua hari setelah bulan purnama, jelang akhir musim kemarau yang menyejukkan. Dalam hati ada rasa gembira, entah itu karena cuaca yang indah atau kelembutan yang samar memancar.

“Kamu tahu, itu tidak asli,” kataku yang tak dapat menahan diri untuk tidak memperhatikan bulan.

“Apa maksudnya tidak asli?” Tanyanya datar, seolah ia sudah tahu jawabannya.

“Itu tidak alami, melainkan sebuah satelit buatan manusia.”

Ia membalikkan wajah dan menatapku dengan senyum lebar. Senyuman yang sangat aneh menurutku.

“Leluhur kita sakti,” aku menambahkan begitu saja, menegaskan maksudku yang sebenarnya dengan lebih detail.

Ia terdiam. Sosoknya begitu tenang, jelas betul jiwanya sudah melewati berbagai macam kehidupan. Jiwa-jiwa yang membawa ketentraman di planet ini, batinku.

Rasa senang yang samar kian jelas setelah mentari terbit, kala gulungan ombak awan melapisi angkasa, dan rasa dingin yang perlahan mereda. Mengiringi perpisahan yang perlu untuk sementara, aku berjalan pulang dengan perasaan netral, yang menjadi letak dari ladang penciptaan yang tak terbatas.

PSX_20190717_193854.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s