Memayu Hayuning Bawana

Sinar kuning bercampur emas menembus ranting-ranting pohon, dan dedaunan terlihat gelap karena tertimpa bayangan. Hembusan angin dengan lembut membelainya, mereka pun saling membentur ke satu sama lainnya.

Kabar mengenai lahan temanku yang ternyata mengandung emas misterius memberi aroma di ruang sore hari ini. Kubayangkan kilau emas yang bagaikan butiran itu menyala-nyala di tangannya, sahabatku yang paling berharga, yang pantas menggenggamnya.

Ia menegaskan, selamanya emas itu akan dibiarkan tertimbun disana, katanya untuk menjaga keseimbangan lahannya- sehingga ia dapat selalu menyebut tempat tinggalnya sebagai rumah.

Kini aku mengerti mengapa orang-orang merendahkannya- kawanku yang maha lembut tutur katanya itu, dengan sebutan ndeso karena logat dan bahasanya. Juga mengapa orang-orang meremehkannya, oleh karena cara hidupnya yang terlalu sederhana. Aku sudah melihat sendiri, bahwa semenjak dahulu kala, orang-orang tidak memiliki kemampuan untuk memahaminya, dan tak sedikitpun terkaan mengenainya yang mendekati kebenaran.

Di teras rumahku yang dikelilingi kebun yang ditumbuhi sejumlah tanaman obat dan umbi-umbian ini, kubayangkan diriku sedang bercakap-cakap dengannya.

“Apa benar berita mengenai emas itu?”

“Iya benar. Leluhurku, aku, dan semua keturunanku, semua mengetahuinya.”

“Kalau begitu mengapa orang-orang sekarang sibuk membicarakannya?”

“Orang-orang sebenarnya tidak tahu, dan selamanya tidak akan pernah tahu.”

“Apa maksudnya?”

“Karena mereka salah mengartikan tentang emas.”

“Emas di lahanku ini, memang dapat memberi lebih dari cukup makanan untuk semua orang di seluruh negeri untuk selamanya. Tapi mereka juga lupa bahwa tanpa memiliki emas ini pun, mereka dapat hidup kenyang jiwa dan raga.”

“Saat ini banyak yang salah paham, ketika mereka tahu bahwa tanah kita adalah Negeri Emas yang hilang, mereka jadi ikut-ikutan menggali untuk diri mereka sendiri. Mereka jadi berebut harta padahal harta yang sesungguhnya tak dapat diperebutkan.”

“Meski memang ada secara fisik, namun bukan itu yang dimaksudkan. Harta yang paling berharga adalah dirimu, kawanku, jiwa yang bebas dan dengan sadar menjaga keindahan negeri ini tanpa keinginan untuk memilikinya.”

“Jiwamu-lah sumber daya yang menambah keindahan Negeri ini. Jiwamu-lah satu dari jiwa-jiwa beraura emas yang menghadirkan zaman penuh kemuliaan di permukaan bumi.”

Kini kutahu, sikapnya yang sederhana adalah emas yang dicari itu, berwujud manusia dan bukanlah siapa siapa di dunia. Semenjak dahulu kala, orang-orang mencoba untuk merundingkan sejumlah penawaran, namun berakhir dalam kebingungan dan keheranan. Dan sampai hari ini, mereka tak mampu melihat sedikitpun Cahaya terang menderang yang mengelilingi sekujur tubuhnya; manusia yang paling didengarkan oleh penghuni langit dan bumi itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s