Beyond The Science of Yoga

Kita semua setuju bahwa fisika kuantum adalah sebuah materi yang sangat rumit. Richard Feynman, tokoh yang dianggap ahli di bidang tersebut berkata: “if you think you understand quantum mechanics, you don’t understand quantum mechanics.” Poinnya, pikiran adalah lingkup yang terlalu sempit untuk menjabarkan semesta. Hal ini sama seperti yang diungkap oleh para yogi kuno bahwa ide dan kata-kata yang muncul dari pikiran untuk menjabarkan keagungan Tuhan justru mengurangi jarak kita pada kebenaran. Untuk ‘mengalamiNya’, kita membutuhkan keseimbangan antara keheningan, tindakan, dan apa-apa yang berada diantaranya.

Dalam teks ‘Sutras of Patanjali with the Bhashya of Vyasa’ (Yoga Darsana) yang berisi pembahasan mengenai Yoga Sutra oleh Patanjali, Yoga adalah Samadhi atau Meditasi. Samadhi merupakan sebuah kondisi dimana manusia berada dalam kesadaran yang terbebaskan dari maya/ ilusi duniawi, ruang, dan waktu yang selama ini membatasi jangkauan kesadaran manusia menuju kesadaran ilahi. Dengan begitu, samadhi dapat diartikan sebagai sebuah momen dimana manusia menyatu dalam kelilahian, yang bersumber dari kesejatian diri. Sebab itu tidak jarang kita menemukan sejumlah teks yang mengaitkan yoga dengan kata ‘yuj’ dalam bahasa Sanskrit- yang berarti penyatuan, serta ‘connection’ atau hubungan.

Pemahaman ini menegaskan bahwa yoga berusaha membahas sifat-sifat ilahiah/ Tuhan yang tidak jauh dengan ilmu fisika quantum, yaitu melalui energi, vibrasi, dan frekuensi. Fisikawan legendaris Nikola Tesla sering menyebut tiga kata tersebut untuk menjabarkan alam semesta. Ditegaskan bahwa semesta ini adalah sebuah lautan energi. Aliran energi kehidupan tersebut selanjutnya terjabarkan menjadi vibrasi; vibrasi menjadi frekuensi-frekuensi menjadi angka- dan angka dapat diatur menjadi bentuk serta pola, hingga pada akhirnya mewujud menjadi realitas dan materi fisik.

Itulah mengapa semesta ini disebut sebagai suatu hologram, dimana pikiran dan intensi kita adalah bagian dari vibrasi semesta, dan frekuensinyalah yang menentukan realita kehidupan. Istilah multidimensional universe menjadi kian jelas, ketika frekuensi setiap orang yang berbeda juga menciptakan tampilan hologram/ realita yang berbeda.

Lalu bagaimana Yoga yang merupakan sebuah ilmu seni hidup kuno dapat menjelaskan ini? Jawabannya adalah Yoga samasekali bukan ilmu kuno yang tertinggal dalam ketidakutuhan. Sebaliknya, Yoga justru mengarahkan kita untuk merenungi alur dan ritme semesta dengan nyata dan praktikal. Ada dua istilah dasar dalam yoga yang berkaitan dengan energi, yaitu prana dan kundalini. Prana yang lebih dikenal sebagai nafas kehidupan adalah energi yang mengatur pergerakan hingga memungkinkan terjadinya kehidupan. Perputaran planet, nafas yang keluar dan masuk di paru-paru, pertumbuhan menuju kematian sampai kelahiran kembali, merupakan sebuah ritme pergerakan yang diamunisi oleh prana.

Di satu sisi, pergerakkan ini juga menjelaskan bagaimana reinkarnasi menjadi sesuatu yang sangat mungkin, terlepas dari keyakinan agama-agama tertentu. Energi tidaklah pernah mati, melainkan bertransformasi. Ia merubah wujud sesuai keselarasan yang tercipta antara vibrasinya dengan vibrasi semesta. Dan oleh sebab segalanya adalah energi, jiwa pun bertransformasi dan mengganti wadah untuk menyesuaikan getarannya.

Lalu apa itu kundalini?

Berbeda dengan prana, kundalini lebih tepat disebut sebagai kekuatan atau potensi yang berfungsi sebagai agen perubahan. Tradisi yoga mengaitkan kundalini dengan filosofi Siwa dan Sakti, yang merupakan perwakilan dari energi feminim-maskulin atau juga digambarkan melalui hubungan antara jiwa dengan kesadaran murninya.

Yoga meyakini bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan evolusi kesadaran tidak lepas dari peran kundalini, sehingga pada awalnya yoga klasik/ tantra (hatha yoga yang dikenal luas saat ini berakar dari tantra) merupakan serangkaian latihan yang bertujuan untuk membangkitkannya. Secara visual, pada tubuh manusia kundalini bertempat di sekitaran otot perineum (diantara kemaluan dan anus) sebagai energi yang dorman/ tidak aktif. Di Nusantara, energi yang maha dashyat ini sering dihubungkan dengan gunung berapi yang berperan sebagai siwa, beserta magma-nya sebagai sakti.

Dalam praktek latihannya, kundalini bergerak secara gradual menelusuri pusat-pusat chakra yang terletak di sepanjang tulang punggung. Masing-masing chakra mewakili kondisi dan intensi kesadaran seseorang, dan salah satu teks yang menjabarkannya secara apik dalam bentuk simbol dan cerita dapat ditemukan dalam Lontar Sanghyang Tattwajnana Nirmala Nawaruci yang ditulis oleh Mpu Siwamurti pada zaman Majapahit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s