Atlas

Aku duduk di tepi Sungai Abadi sambil memeluk kedua lutut, mencoba meredakan rasa dingin yang begitu menyengat di sebuah malam pada ketinggian Gunung Atlas. Kuperhatikan sungai legenda itu, yang tentu tidak berisi air melainkan lautan energi yang berputar dan menghasilkan cahaya biru keunguan di dalamnya.

Kadangkala cahaya itu melompat seperti ikan yang sedang bermain, lalu kembali ke putaran porosnya selang beberapa detik. Bagaikan bayangan yang tak berwujud nyata, apa yang kulihat seolah adalah sebuah planet lain yang eksis di dalam bumi ini.

Di sekitaranku, daun-daun berukuran raksasa berdiameter hampir sebesar sebuah meja dan berwujud transparan, tumbuh mengitari tepi sungai. Garis-garis yang mengukir permukaannya terlihat seperti arus listrik yang mengalir dan hidup.

“Itu adalah teknologi berbasis tanaman yang menjaga ekosistem alam di sekitar Sungai Abadi.”

“Buatan?” Tanyaku takjub.

“Iya.”

Di belakangku, ia berdiri berbalutkan pakaian menyerupai antara seorang pertapa dan ksatria, sehingga dengan jelas memperlihatkan otot-ototnya yang padat beserta sejumlah aksesoris yang menghiasi kepala dan pinggangnya. Rambut panjangnya terurai bebas menyentuh bahu, dan kulitnya berwarna biru, biru sungguhan! Aku sebisa mungkin menganggapnya wajar, terlebih setelah pengalaman menakjubkan yang terjadi sepanjang malam ini.

“Ayo, perjalanan masih panjang,” katanya seraya memberi isyarat supaya aku mengikutinya.

Sementara, berkeliaran sejumlah makhluk seperti kunang-kunang yang melayang dan memantulkan cahaya biru sebagai penerang. Makhluk itu mengikuti kami memasuki jantung Gunung Atlas, yang kerimbunannya memberi perlindungan pada kehidupan entah apa yang tersembunyi di dalamnya.

Setelah berjalan melewati barisan pohon-pohon tinggi yang terasa begitu hidup dan seolah menyadari kehadiran kami, sampailah kami di sebuah padang savana yang membentang luas dan menopang bangunan-bangunan spektakuler yang menambah eksotisme pemandangan malam itu.

Damn, ada piramida di Gunung Atlas! Pekikku dalam hati.

Tentu aku tak dapat menahan euforia sebab perjalanan ini terus-menerus memberiku kejutan. Jantungku berdegup kencang, hatiku melompat girang penuh semangat. Segala sesuatu yang selama ini mengisi imajinasi, kini hadir secara nyata dan masuk akal.

“Tapi bukankah piramida ini seharusnya sebesar gunung itu sendiri? Maksudku piramida yang tertimbun dan menjadi gunung, bukanberada di dalam gunung,” tanyaku.

“Kalau begitu kamu harus mempertanyakan kembali ukuran Gunung Atlas yang sebenarnya.”

“Memangnya Gunung Atlas sebesar apa?”

“Tidak hanya besar, tapi seluas sebuah benua.”

“Bagaimana bisa?”

“Dengan cara melipat bumi. Yang luasnya ratusan kilometer menjadi satu meter saja.”

“Hah.. ajaib! Ilmu macam apa ini?”

“Ilmu yang didapat dari keheningan dan laku tertentu, yang ada sebelum agama-agama.”

“Jadi ilmu ini mengkonsepkan Tuhan seperti apa? Ceritakan padaku, karena tidaklah masuk akal jika Tuhan senang disembah.”

Ia tertawa kecil tanpa memandangiku.

“Tuhan di dalam diri yang wujudnya gelap, yang kosong, dan sia-sia untuk dijabarkan.”

“Apa aku berasal darisana, sehingga aku tidak memerlukan agama?”

“Soal itu, bukan aku yang berhak memutuskan. Kehidupan ini membentang sangat luas, sehingga kita tidak bisa melihat dari apa yang terlihat. Well, apa yang kamu rasakan saat ini pun tak dapat kulihat, tapi jelas mengisi seluruh semesta dan menguasai alam pikirmu kan.”

Piramida-piramida di hamparan savana ini terbagi menjadi tiga bagian utama yang membentuk sebuah formasi segitiga raksasa. Masing-masing bagiannya terdiri dari tiga buah primada minor yang yang membentuk formasi serupa, sehingga secara total ada sembilan buah piramida yang dibangun di atas padang savana tersebut.

“Apakah ini semacam persembahan, atau representasi dari Brahma-Wisnu-Siwa?” tanyaku mengaitkannya dengan filosofi trimurti.

“Lho, justru sebaliknya,” jawabnya.

“Brahma-Wisnu-Siwa bukanlah persona, melainkan jabatan. Sehingga apa yang kamu lihat saat ini adalah hasil pekerjaan sungguhan, dari orang-orang atau makhluk yang terpilih untuk menduduki jabatan yang kemudian didewakan. Sebab jabatan tersebut memang hanya diisi oleh jiwa-jiwa berkesadaran tinggi.”

“Jadi yang selama ini didewakan adalah manusia?”

“Atau Alien,” tambahnya.

Entah kami sesang membicaran sesuatu yang serius atau bukan, namun jelas ada rasa damai mengisi hatiku di hamparan permukaan padang yang mewadahi piramida ini. Keyakinanku diperkuat sekaligus diperbarui, dan aku sepenuhnya tahu, bahwa kehadiran kami saat ini turut menjadikan piramida ini berpendar dalam cahaya yang berlipatganda.

“Cinta ilahi sangatlah indah, karena bersifat ingin memberi dengan sepenuh tenaga dalam kelembutan dan kreativitas. Ia akan secara terus-menerus membuktikan bahwa segala sesuatu adalah anugerah kehidupan yang menjadi hidup, karena semuanya pun telah berubah menjadi daya hidup yang murni. Di hadapannya, segala macam atribut dunia hancur lebur, tak berguna dan tak berdaya dalam kegemilangan.”

“Intinya begini, kalau kita tahu betul rasanya, kita juga tahu apa yang bukan.”

Aku mengangguk. Dalam diam kami melanjutkan perjalanan yang panjang dan menyenangkan, menyusuri bangunan yang seolah menghilang tertimbun zaman, merasakan semilir angin yang berbalut sepintas kehangatan akibat gesekan pada dinding piramida.

Semenjak kapan piramida-piramida ini dibangun? Dan bagaimana mereka melakukannya? Semakin didekati, terlihat jelas masing-masing bagiannya yang menjulang tinggi, ujungnya menyentuh langit malam yang cerah bertabur bintang. Alih-alih bertanya secara langsung, aku tetap melanjutkan perjalanan tanpa berkata-kata. Amat sayang rasanya, jika pertanyaan yang muncul dari pikiran yang tak berhenti bergerak ini, memecah keheningan malam yang abadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s