Mentari yang Tak Pernah Terbenam

PSX_20190813_200937.jpg
Gunung Prau, Jawa Tengah.

Saat hujan membasahi bumi, aku akan melupakan sejenak- segala kerumitan dan sekat yang selama ini terselip di batinku, mengenaimu.

Betapa sulit aku untuk memulai atau bahkan mengakhiri semua ini. Dan lebih sulit lagi untuk menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi, sehingga kadang aku pun ragu, apakah semua ini adalah nyata, atau hanya pada diriku saja.

Hujan yang menjadi tanda gelak sukacita para dewa di kahyangan, membuatku malu untuk terus merasa seperti itu.
Aku yakin mereka akan kasihan pada diriku yang gelisah, dan betapa tidak percaya dirinya aku pada Cinta, dorongan yang telah mewarnai dan memporak-porandakan jagad raya selama ini.

Guntur menghantam lagit. Kuyakin mereka pasti sedang tertawa lebih keras, mengetahui aku yang turut menyadari keberadaan mereka.

Aku tahu, satu diantaranya telah membantu menjaga api yang kugunakan untuk membakar dupa, agar tetap menyala meski di tengah angin pantai yang kencang sore itu.
Aku juga tahu betapa mereka senang dan menghadiahkan sapaan berupa warna manis dari atas langit. Dan burung-burung yang mengitari selama aku berlatih di tempatku yang biasa, tentu tidak hanya sekedar lewat untuk melantunkan nyanyian indahnya. Aku merasakanmu, sahabat-sahabatku.

Betapa dekatnya langit dan bumi, kita semua dapat menyelaraskan getaran pada apa saja yang diinginkan. Terkecuali, diriMu. Bukankah begitu, Cinta adalah kebebasan yang sejati?

Dirimu yang layak menjalankan getar-getar indah kehidupan- bagaikan mentari, aku akan berlari menyongsong pagi sebagai tanda sukacita terhadapmu. Aku juga akan menunggu dengan sabar, kala sinarmu perlahan meredup- dan dunia tampak amat berbeda.

Benar, bagaikan mentari, tentu cinta tidak sekedar hanya melihat dan merasakan saja. Tidakkah dirimu selamanya hadir, menembus celah malam untuk menampakkan keanggunan cinta sejati?

Hujan berhenti, dunia terasa sunyi, seolah menjawab keinginanku untuk dekat denganmu.

Sungguh aku lupa bahwa cinta ini tidak pernah bertepuk sebelah tangan. Cintamu amat besar dan perkasa, bahkan dapat menampung segala kehidupan.

Bagaikan Mentari, ketiadaanmu amat sangat sebentar, berlalu dengan anggun. Tidakkah aku berpikir, begitulah cintamu dapat menyeimbangkan jagad ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s