Akar dan Tradisi

Bukit Sikunir, Dieng.

Tradisi adalah cara kita memaknai dan merayakan kehidupan. Perjalanan napak tilas, peringatan hari-hari tertentu, sajian/sesajen, aktivitas fisik berupa seni tari, gestur spiritual, bersenggama- hingga benda keseharian seperti buku, pakaian, dan atribut-atribut lain yang memberi detail-  adalah upaya manusia untuk menandai dan memberi jejak pada kehidupan itu sendiri.

Selama masih memiliki badan fisik, kita akan selalu menganggap tradisi sebagai hal penting, yang mampu menghadirkan daya magis. Daya magis itu dapat  berupa rasa syukur atas penyatuan dengan alam- sesuatu tak terdeskripsikan, ikatan batin yang terjadi diantara insan manusia, hingga gerak alur alami semesta seperti prrtumbuhan, penuaian, dan kehancuran.

Perayaan hidup ini menjadi salah satu bukti bahwa pada dasarnya, kita memiliki kecenderungan dan tujuan untuk mewujudkan keindahan. Memayu Hayuning Bawana. Juga menegaskan bahwa esensi setiap makhluk beserta takdir dan karmanya, adalah suci dan bermakna.

Setiap keberadaan memiliki peran yang tak tergantikan. Itulah sebabnya dualitas selalu dianggap sebagai penyeimbang, dan keanekaragaman budaya Nusantara adalah wujud dari meriahnya perayaan.

Daya magis lain yang menjadi fungsi dari tradisi adalah sebagai penembus ruang dan waktu, dimana hal yang sama dan dilakukan secara berulang-ulang, mengingatkan dan memutar (baik ke depan ataupun belakang) sejumlah momentum, menegaskan akar jati diri manusia yang penuh nilai, daya, dan harapan-harapan yang eksis sepanjang waktu.