Niat, Atensi, dan Cinta

“Tetaplah memusatkan pikiran, perasaan, dan segala daya pada tujuan. Yakinlah bahwa Tuhan akan membukakan peluang dengan cara yang paling selaras. Semua itu terjadi melalui niat!”

Katakanlah cinta dan benci, semua itu pada dasarnya adalah energi yang melibatkan emosi dan atensi yang sangat besar. Sering kita mendapati benci berubah menjadi cinta, tapi menurutku cinta tak akan pernah berubah menjadi benci!

Contohnya seseorang yang sering diremehkan dan direndahkan, dengan pola pikir yang baik dan kecerdasan spiritual, ia justru dapat mengelola kondisi yang tidak suportif menjadi bahan bakar dan semangat untuk meraih kesuksesan. Juga sebaliknya, orang yang kita anggap buruk karena telah meremehkan dan merendahkan, pun tengah ‘menunaikan tugasnya’ dengan mengerahkan energi hingga menempatkan ‘target’ pada emosi dan perasaan di titik maksimal, untuk bergerak dan merasakan sensasi kehidupan. Jadi apa itu kalau bukan cinta?

Semua toh memiliki sumber yang sama, emosi dan atensi…  juga mengenai inti yang menggerakkan kehidupan: energi- sehingga respon kitalah yang pada akhirnya menciptakan wajah kehidupan. Tugas kita adalah untuk mengelola energi yang besar tersebut (yang mampu mempengaruhi emosi dan perasaan) agar menjadi sesuatu yang bermanfaat dan produktif.

Hidup ini adalah kesempatan, latihan-latihan, dan petualangan. Adalah hal yang sia-sia untuk menanggapinya dengan rasa pesimis sebab hilangnya semangat adalah kematian itu sendiri. Juga adalah membosankan jika menanggapinya sebagai sesuatu yang terlalu serius, karena memandang kehidupan sebagai permainan adalah sikap bijaksana yang membuat sebuah pribadi selalu bangkit dan segar.

Niat, atensi, dan cinta… disanalah jalan Tuhan yang menuntunmu pada sejumlah keajaiban dan indahnya kehidupan!