Mimpi yang Bertransformasi

Ketika masih kecil, terjadi peristiwa bom Bali yang membuatku bersemangat membaca koran dan menonton berita demi mendapatkan update informasi, sesuatu yang awalanya tidak kusukai samasekali.

Setiap hari sepulang sekolah, hal pertama yang kucari adalah koran Jawa Pos, dilanjutkan dengan menonton berita Liputan 6 SCTV. Waktu itu aku kelas 6 SD, dan kebiasaan ini berlanjut sampai masa SMA- dimana bau kertas koran, notes dan pulpen untuk menulis, serta sebaris novel yang kubaca berulang-ulang (The Kite Runner, To Kill A Mockingbird, Life of Pi, dan Harry Potter series) menjadi hal paling menggairahkan di duniaku saat itu. Well, bisa dibilang itulah cinta pertamaku! Dunia jurnalistik, dunia tulis-menulis.

Mainanku antara lain adalah pura-pura menjadi news anchor, reporter, penulis berita, pemimpin redaksi koran, sampai kepala sekolah. Aku benar-benar tahu aku ingin jadi jurnalis (dan sedikit menjadi guru). Terutama saat SMP dimana aku mengabaikan sekolah dan hanya ingin bermain dan menulis saja. Nulis pake tangan, bikin berita sepakbola (ehem, mantan Juventini garis tak jelas) – bahkan sampai bikin majalah bola yang isinya hampir 20 halaman dengan frekuensi terbit seminggu sekali (terinspirasi dari tabloid Soccer dan Bola), serta novel tak beraturan yang tak kunjung selesai.

Dari menulis pakai tangan, mimpi pun dilanjutkan dengan angan-angan untuk menulis di halaman Mircrosoft Word pada komputer milik sendiri. Dan terima kasih untuk Tante Paula yang sudah membantu mewujudkan impian itu, sehingga majalah bola buatanku dalam bentuk print, berhasil terbit untuk yang pertama kali, sebagai konsumsi pribadi (saat itu aku dah duduk di bangku SMA). Mewah pokoknya waktu itu punya komputer.

Singkat cerita, mimpi mengenai jurnalis ini lalu terkubur oleh kenyataan bahwa tidak ada kuliah jurusan jurnalistik di Bali, tidak ada cukup biaya untuk menyekolahkanku ke luar kota, serta pemikiran orangtua yang menganggap pekerjaan jurnalistik tidak menjanjikan secara finansial. But well, bukan itu sih intinya aku menuliskan ini sekarang.

Aku hanya ingin mengingat kembali betapa berharga, kaya, dan kreatifnya dunia jurnalistik itu, sampai dapat menghidupkan semangat seorang anak selama bertahun-tahun.
Juga bahwa konten media massa saat itu yang terasa jauh lebih masuk akal dan mendidik. Orang-orang yang terlibat pun memiliki integritas serta kemampuan untuk menginspirasi, menghasilkan suguhan berita yang berkesan, membuat seorang anak, aku, jatuh cinta dan mengidam-idamkan profesi mereka.

Oh Life! Begitulah… Saat ini mimpiku sudah bertransformasi. Sesuatu yang lebih baik ‘menjadi’ dan aku berjanji untuk meneruskannya hingga masa mendatang untuk tujuan yg lebih besar.

Dan pada akhirnya apapun mimpi itu, semoga teman-teman dapat selalu mengutamakan kualitas, integritas dan nilai-nilai yang membawa makna dalam kehidupan. Hidup ini nyata, jalanilah dengan gairah dan ketenangan untuk membesarkannya…

Satu tanggapan untuk “Mimpi yang Bertransformasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s