Masa Kecilku dan Penyatuan

Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Aku lahir di Dili, Timor Leste (waktu itu Timor Timur) tahun 1991. Ibuku orang Cina, sementara Bapakku campuran ras Timor, Portugis, dan Afrika. Di usia 7 tahun, aku sekeluarga pindah ke Bali atas konsekuensi memilih untuk tetap berkewarganegaraan Indonesia, dan aku pun melanjutkan hidup di pulau ini.

Tinggal di Bali, untuk pertama kali aku merasakan perbedaan budaya, kehidupan sosial, dan agama. Aku sendiri beragama Katolik kala itu, agama warisan yang rata-rata dianut oleh orang Timor. Menariknya sekolah SD-ku yang terletak di daerah Ubung tidak mempunyai guru agama Katolik, sehingga setiap pelajaran agama aku tetap duduk di kelas utama bersama teman-teman Hindu yang memang menjadi mayoritas di Bali.

Layaknya seorang anak, secara otomatis aku merekam dan menerima apa yang diajarkan. Aku bahkan menghafal mantra Puja Tri Sandya, dan menjadikannya semacam ‘permainan serius’ di rumah. Aku membuat canang beserta segehan sederhana dari dedaunan dan bunga yang dipetik di sekitaran rumah, mengenakan kemben, dan meniru cara orang Bali yang tengah bersembahyang. Betapa senangnya! Lengkap dengan lidi yang kubakar sebagai pengganti dupa, tanganku membentuk gestur mudra.

Kisah dalam agama Hindu yang paling berbekas untukku adalah tentang Lubdaka, seorang pemburu yang tak sengaja melakukan tapa di malam suci Siwaratri, sehingga berhasil melebur dan memurnikan dirinya. Kisah ini tak kusangka kutemukan benang merah dan maknanya di saat sudah dewasa.

Masa awal kehidupanku di Bali sangat penting dan menjadi dasar yang membentuk kepribadianku. Sebab untuk pertama kali aku merasakan kompleksitas hidup yang memberi pelajaran. Kesulitan orangtua untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, perbedaan budaya yang signifikan, hingga lingkungan sekolah yang tidak kondusif.

Ceritanya ada seorang anak perempuan yang merasa dirinya paling cantik, entah bagaimana menjadi bos di antara seluruh perempuan di kelas (persislah kaya di sinetron). Wangi namanya (beneran, bukan Bunga sebagai nama samaran, hehe). Ya namanya juga sudah main bos-bosan, maka perempuan lain harus mematuhi permainan dan perintahnya. Apalagi aku ini yang hanya merupakan murid pindahan, auto follower deh kalo mau main bareng saat jam istirahat.

Namun jika dipikir lagi saat ini, keberadaan Wangi justru menjadi latihan yang memicu ‘rasa keadilan’ dalam diriku. Karena dari peristiwa itulah aku mulai berpikir bahwa setiap manusia adalah berharga. Darisanalah aku jadi tahu bahwa manusia adalah makhluk yang berkesadaran. Dan kesadaran inilah yang mewujud menjadi kecerdasan emosi serta tindakan yang nyata. Bukan sesuatu yang kosong sehingga mengeluarkan hal-hal ‘tanpa isi’ dan bergantungkan pada hal eksternal, itu bukanlah sifat manusia.

Beberapa tahun terakhir sikap membedakan yang terjadi dalam masyarakat ditampilkan dengan jelas di media. Bagiku ini adalah wujud nyata dari kondisi yang ada, sekaligus pemicu bagi ‘rasa kesatuan’ untuk bangkit dalam diri manusia.

Benar, jika kita mengganggap ras, agama, atau apapun yang bersifat eksternal untuk mengidentifikasikan Indonesia, maka itu hanya membuat ‘rasa’ kita sebagai manusia menjadi mati dan tak berdaya, mengakibatkan degradasi yang berdampak pada peradaban. Terutama setelah terbiasa berinteraksi dengan wisatawan mancanegara yang melancong ke Pulau Bali, serta diriku sendiri yang bercampur aduk ini- bagiku jelas bahwa manusia memiliki rasa dan menjunjung nilai-nilai yang pada dasarnya sama. Kita ditarik untuk menyatu dan bekerjasama menciptakan kehidupan dan peradaban yang luhur. Tidakkah teman-teman merasa demikian?

Untuk itu marilah kita mengutamakan kualitas, nilai-nilai, serta tujuan yang luhur. Dengan begitu agama menjadi sesuatu yang personal, kita tidak membicarakan apalagi mendebatnya, sebab semua jelas terlihat melalui nilai-nilai pribadimu, tindakanmu.

Ras, warna kulit, bentuk tubuh, adalah wujud keindahan dan anugerah Sang Maha Pencipta, kita menggunakannya untuk memperkaya kehidupan. Kita tidak terlalu berbangga atau merasa rendah karenanya, kita selalu menyadari bahwa diri ini adalah Jiwa!

Dari percampuran darah yang ada dalam diriku, aku merasa tempat dimana aku tinggal dan dibesarkan adalah rumah. Indonesia, atau apapun kita menyebutnya, adalah selamanya sebuah keragaman. Semoga kita selalu dapat memaknai proses kehidupan ini dan melihatnya secara keseluruhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s