Nyepi 2020

Desa Sambangan, Kec. Sukasada, Buleleng.

Suara air mengalir dari dalam selokan di depan sebuah sekolah dasar yang sedang diliburkan. Bukan selokan biasa, sebab alirannya bagaikan arus yang hidup, deras, berwarna jernih dan baunya harum. Maklum saja, sekolah dasar ini terletak tepat di samping tempat wisata air terjun Aling-Aling, yang aksesnya juga ditutup sebagai antisipasi penyebaran virus korona.

“Nanti April buka lagi,” kata seorang Bapak yang sedang santai menyeruput kopi Banyuatis, dengan attitude yang menunjukkan bahwa ialah penjaga tempat tersebut.

Di utara Bali memang terdapat banyak air terjun. Air terjun sendiri melambangkan daya hidup, purifikasi, serta ketenangan dan kekayaan pengetahuan spiritual. Merenungkan esensi air bagi bumi dan manusia, otomatis menghidupkan perasaan tertentu perihal misteri dan rahasia kehidupan.

Air, yang sangat dekat dengan tanah, menjadi penghubung pada hal-hal yang tak terlihat, yakni pertumbuhan internal serta belas kasih dari Sang Maha Pelindung; merujuk pada perannya sebagai ‘sumber hidup feminim’ (pengetahuan sejati), dan pembasuh dunia dari ketidakjernihan selubung ilusi.

Seorang Ibu pemilik satu-satunya warung yang terletak di ujung paling kiri, terlihat asik bermain ‘olahraga-olahragaan’ bersama sejumlah anak muda yang sepertinya adalah gabungan dari anak beserta ponakan-ponakannya. Meski begitu, suasana nyepi tetaplah kental. Sebuah ogoh-ogoh berwarna merah berwujud bathara kala membentangkan kedua tangan di udara dengan gestur mudra, satu kaki yang terangkat menunjukkan kesiapannya untuk mencari mangsa.

Simbol ini adalah sebuah pengingat, apakah manusia yang hidup beriringan dengan waktu hanya berserah mengikuti arus, tumbuh dengan semu, menua dan meniada tanpa memahami esensi kehadirannya di dunia. Atau sebaliknya, menaklukkan dan menggunakan waktu sebagai kesempatan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sudah ditentukan jauh sebelum kedatangannya.

Atmosfir Bali Utara yang khas membuatku sadar bahwa kesunyian yang diupayakan secara serentak di seluruh dunia saat ini, adalah sebuah ‘acara besar’ yang telah lama dipersiapkan. Dalam diam batinku, suara burung berdendang riuh, saling menyaut dalam kesibukan sehingga melarutkan pikiran pada pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar.

Wabah yang ditemani oleh bathara kala pun menjadi penunaian tugas untuk menyebarkan pesan: “Jangan menengok, kala daya yang lebih besar dan tak terjangkau oleh kesadaranmu bekerja. Jangan bermain dengan ‘kekuatan’ yang berada di luar kendalimu. Renungilah sifat-sifat alam, jelas terlihat bahwa dunia masih indah. Bahkan sudah lebih indah.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s