The Tree of Life

Di belakang rumahku, ada sebuah pohon yang amat indah. Batangnya kokoh dan tebal, daun-daun yang membentuk keseluruhan atap dan wajahnya menjadi lambang kekayaan eksistensi tempat ini.
Akarnya menyerap sari-sari kehidupan yang menyebar dengan merata, memberi kesuburan dan keharuman di tanah.

Angin bertiup, menyampaikan salam sekaligus membawa momen-momen kehidupan lain yang tak pernah lepas dari keberadaan saat ini dan masa mendatang. Bagaikan kaca yang dindingnya telah diretakkan, air yang mengalirinya dengan bebas dan lentur mengisi ruang-ruang yang tadinya kosong dan terpisah.

Sembari menunggu sandhyakala, aku tenggelam di antara rasa kantuk dan pikiran yang terserakan oleh daya magis belakang halaman rumahku. Angin yang menampar-nampar lengaku bahkan membuat bulu kuduk berdiri, meski di tengah teriknya siang hari.

Semakin lama, tanah yang cokelat dan redup oleh timpahan bayangan pohon menjadi semakin gelap, seolah matahari ditelan oleh batas-batas dunia yang saling bertemu. Kusaksikan bagaimana pengalaman ini mengantarkanku pada kedalaman yang tak membuatku terkejut samasekali.

Tempat yang sungguh luas, namun kosong dan tersembunyi. Tertimpa oleh cahaya kehidupan setiap saat, namun memilih untuk menarik diri. Sungguh aku tak mengerti dengan keinginanku sendiri, meski kurasakan kenyamanan yang membuatku ingin menetap saja.

Terlampau sepi, kuyakin tak ada seorangpun yang tahu keberadaannya. Kucoba mencari sumber denyut nadinya, namun yang kudapati hanyalah angin yang menampar ujung dahan hingga menjatuhkan daunnya di atas pundakku. Kugenggam dan kupandanginya di atas telapak tangan.

Setiap alunan gerakannya hingga sampai di pundakku adalah autentik, tidak pernah sama dengan yang pernah terjadi pada daun yang lain.

Oh, darimana semua ini berasal, dan kemana akan ia berlabuh?
Tidakkah itu adalah tempat yang sama?

Maka dari itu jangan pernah berpikir bahwa ia sedang mengalami kematian, karena roda kehidupan ini justru menyegarkan jiwaku. Sungguh… Sebuah ironi yang dipercaya tentang kehidupan adalah: bahwa hanya di tempat lain, dan di saat yang lain, surga dan keilahian itu berada. Maka kutancapkan dalam diriku, sebuah prasasti nan kokoh dan membawa keseimbangan, diantara riak emosi yang mengombang-ngambing tak pasti.

Kuhantarkan sabda kehidupan, agar kekokohannya bertahan lama dan melindungi berpuluh-puluh generasi; sehingga jadilah kebijaksanaan yang tumbuh melalui ajaran kasih, membawa kelimpahan, dan mampu memberdayakan jiwa-jiwa yang mendambakan terang.

Jika aku menangis, jadilah tangisanku bersumber dari rasa bahagia bahwa dirimu sungguh-sungguh ada! Jangan tinggalkan aku lagi, dimana aku sudah menemukan diriku sendiri, pada dirimu yang kucintai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s