Mampir Ke Rumah Bu Agus

Dapur Bu Agus

Tidak jauh dari Pura Mekori, Pupuan, Kecamatan Tabanan, laju motorku terhenti oleh turunnya hujan. Sudah empat hari ini Tabanan diguyur hujan di jam yang kurang lebih sama, yakni mulai sekitar tengah hari hingga jam empat sore. Aku berteduh di sebuah ruko sederhana yang sedang tutup, menunggu hujan mereda agar dapat melanjutkan perjalanan ke Bukit Jimbaran.

Sebenarnya di seberangku ada sebuah warung yang sedang buka dengan kepulan asap yang menyapu jalan, entah tengah memanggang daging atau ikan, dengan sedikit makanan ringan yang dijajakan. Sementara seorang Bapak tengah sibuk mengipas-ngipas panggangannya, dua orang wanita terlihat duduk santai, sepertinya adalah penghuni rumah tersebut. Aku memilih untuk berteduh di ruko dengan pintu besi berwarna biru yang letaknya di jalur kiri ini, sebab lebih mudah dan cepat untuk menepi dan menghindari hujan yang kian deras.

Ruko pintu berwarna biru.

Cukup lama menunggu, lewatlah dua penduduk setempat yang berjalan dengan bertudungkan payung. Salah satunya adalah seorang Dadong, sementara satunya lagi adalah Ibu-Ibu berbadan bongsor nan gesit yang begitu ramah.

“Di Selatan masih hujan Dek, ayo mampir dulu,” kata si Ibu ini, sementara Si Dadong berjalan lalu terlebih dahulu setelah menjawab sapaanku.

Ternyata rumah beliau ini bertetangga dengan ruko dimana aku berteduh, dan aku pun tak kuasa menolak kebaikan hatinya. Dari jalan raya, rumah tersebut seolah tak kasat mata, sebab dibangun lebih rendah dari jalan utama, sehingga untuk mencapainya harus menuruni jalan setapak terlebih dahulu.

Dan terlihatlah surga kecil dengan warna-warni bunga yang tumbuh bersahaja. Nuansa damai dan harum air hujan yang membasahi tanaman begitu menyegarkan mata. Segera kurogoh ponselku, mengabadikan gambar bunga-bunga yang dengan cepat menyentuh hatiku.

Si Ibu yang mengajakku beristirahat di rumahnya ini lalu tampak sibuk di dapurnya, sementara Si Dadong duduk di teras bersamaku.

“Kalau hujan deras gimana Bu? Airnya turun sampai kesini?” Tanyaku pada si Dadong.

“Oh iya Dek,” jawabnya dengan nada khas logat Bali, sambil meletakkan satu tangannya di area pipi dan rahang.

“Ini Ibu lagi sakit gigi,” katanya dengan wajah menahan sakit.

“Oh dari kapan Ibu? Sudah lama?”

“Baru tadi pagi,” jawabnya.

Aku dan Si Dadong berbasa-basi di teras, ditemani rintik hujan yang menciptakan getar kelembutan di tanah, sementara bunga-bunga sekitar terus-menerus menggodaku untuk memalingkan mata.

Tak lama, keluarlah Si Ibu dari dapur tradisionalnya, tanpa kuduga membawa suguhan teristimewa: air jahe dan pisang rebus!

Sajian dari Bu Agus.

“Minum dulu Dek, biar anget. Makan pisangnya ya,” katanya ringkas sambil berjalan menuju tumpukan duren yang dimilikinya.

Hatiku kagum dan tak henti menciptakan gelombang yang sangat indah, menegaskan diriku agar selalu mengingat, bahwa hati yang tulus adalah penghubung pada Beliau Yang Maha Kuasa.

“Ibu jual duren?” Tanyaku.

“Iya Dek, mau ambil berapa?”

“Sebisa yang dimuat motor saya, Bu,” kataku sambil tersenyum lebar.

Aku belum pernah menyantap duren, dan tidak juga berniat untuk mencobanya. Namun setiap kali melali ke Singaraja, dengan senang hati aku membelinya sebagai oleh-oleh untuk kakak perempuanku.

Dengan kelihaiannya, ia mengamati, menghitung, dan membungkus duren-duren tersebut ke dalam karung beras. Meletakkannya di area pijakan kaki motorku, membuatku merasa nyaman berkendara hingga pulang ke rumah.

“Nanti kalau lewat mampir ya! Ibu juga ada pohon manggis.”

Oh manggis segar! Mendengar itu saja hatiku sudah girang bukan main. Dan belum cukup disitu, ia juga mengoleh-olehiku dengan serangkaian jaje Bali yang biasa digunakan untuk sembahyang.

Jaje Bali.

Kuterima buah tangan darinya dengan sukacita. Kami lalu bertukar nomor telepon, kusimpan di kontakku: Bu Agus. Terlihat foto random kala ia tengah bersama entah siapa di profil whatsapp-nya. Kami mengucapkan salam perpisahan, dan aku pun sudah tidak sabar untuk main ke Tabanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s