Tilem Kedasa

Malam telah tiba, kami memutuskan untuk masuk ke dalam gua, membuka lembaran kertas sebuah buku yang telah menghibur kami selama ini. Membacanya dengan khidmat, seperti biasa.

Nyala lampu minyak membuat wajahnya bercahaya, berwarna kuning. Aneh, aku seperti melihat wajahku sendiri disana. Bukan secara fisik, tetapi ada pada ingatan.

Kami membaca bait dari Pupuh Sinom, karya sastra anonim yang seharusnya dilagukan. Tetapi juga seperti biasa, kami membaca setiap baitnya dengan pelan dan lemah, seolah kata-kata itu dapat mengisi kekosongan yang panjang saat ini.

“Apa kamu tahu mengapa penulisnya tidak mencantumkan namanya?”

Aku menggeleng, bukan karena sepenuhnya tidak tahu, tetapi lelah untuk menerka.

“Karena karya sastra yang besar adalah milik bersama.”

“Ada saatnya ilmu padi kembali bersemi melalui Manusia Jawa,” ia melanjutkan.

Aku masih diam.

“Apa kamu merasa bosan? Ayo kita keluar melihat bintang-bintang.”

Aku mengangkat wajah dan memandang lurus ke kegelapan.

“Tidak. Dari sudut manapun tempat ini begitu indah. Namun sama seperti kebanyakan manusia, kita tidak terikat dengan tempat, melainkan pada jiwa  yang mengingatkan pada siapa diri kita.”

“Manusia adalah makhluk yg luarbiasa… Tidakkah begitu?”

Kini dirimu yang terdiam. Apakah sebabnya adalah dirimu bukan manusia?

“Menurutmu apakah Tuhan dapat kita resapi sebagai sebuah pribadi?”

Dengan datar ia menjawab:

“Jika memang manusia dianggap memiliki citra diriNya, maka mengapa tidak demikian?”

“Bisa jadi, itu justru menjadi cara yang rendah hati dalam memandang kehidupan. Aku sungguh menyukai ide itu, dimana tidak ada sekat antara derita dan kebahagiaan.”

Aku memerhatikan lampu minyak yang mengeluarkan asap tipis hitam, yang berbaur dengan udara dab menempel di kulitku.

“Ayo kita keluar,” kataku.

Ia mengangguk kecil seraya memintaku untuk mematikan api.

“Cahaya mengundang banyak makhluk, lagipula kita ingin melihat bintang-bintang kan?”

Kutiup apinya, digantikan asap putih pendek yang mengahadirkan kegelapan yang mencekam.

Pupuh Sinom

Jenek ring meru sarira
Kastiti Hyang Maha suci
Mapuspa padma hredaya
Magenta swaraning sepi
Maganda ya tisnis budi
Malepana sila rahayu
Mawija menget prakasa
Kukusing sad ripu dagdidupan ipun
Madipa hidepe galang

Gunakanlah tubuh ini sebagai tempat suci, 
yang disadari oleh bathin yang suci
Bunganya adalah bunga padma
Gentanya adalah keheningan bathin
Gandanya adalah kesabaran dan welas asih tanpa syarat
Lepananya adalah tingkah laku yang indah.
Bijanya adalah bathin yang tegar dan kokoh
Dengan demikian, lenyapnya seluruh kegelapan bathin
Kini bathinnya laksana cahaya terang benderang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s