Samadhi

Tatapanku terpaku pada barisan pohon yang tinggi dan berlatar kegelapan. Seketika pikiranku menjadi liar, kubayangkan makhluk menyeramkan yang bergelantungan di rantingnya, dan binatang buas yang tinggal di baliknya.

“Jangan termenung, kita suka mengisi ketidaktahuan dengan ketakutan, menciptakan tindakan-tindakan yang menyesatkan.”

Kata-katanya membuyarkan pikiranku yang sejenak lupa akan apa yang harusnya kulakukan.

“Berjalanlah dengan ringan, semua ini sudah tampak seperti apa adanya.”

Aku kembali melangkah sambil memandang ke tanah, menyatukan kembali kesadaran, hingga akhirnya kutanyakan sesuatu yang selama ini membuatku heran:

“Jika memang begitu, mengapa hutan di malam hari terasa begitu mencekam? Membuat bulu kuduk berdiri seolah ada banyak makhluk yang berlintasan.”

“Ada banyak macam energi, tidak hanya di hutan, tapi di seluruh bagian planet ini. Dengan begitu juga ada banyak macam kehidupan dengan tujuannya masing-masing. Sama seperti kita yang berjalan melintasi hutan ini. Jangan termenung dan membiarkan energi lain mengisimu dengan tujuannya, ingat tujuanmu sendiri.”

Tak ada bulan di langit, malam ini adalah malam Siwa, bersamaan dengan hari Rabu yang dalam bahasa Sansekerta berarti Buddha. Pohon yang rimbun menutupi bintang-bintang, sementara kabut membuat jarak pandang kian menyempit.

“Apa kamu merasa sesak?”
“Ya.”
“Ayo beristirahat.”

Kami duduk di atas akar pohon besar dan kuat yang tumbuh melintasi jalur pejalan. Di baliknya, terdengar suara yang kuyakini sebagai babi hutan yang memang sering melintas mendekati manusia yang membawa bekal makanan.

“Bagaimana pada masanya, Siwa dan Budha menyatu?” Tanyaku.

“Dengan melihat roh yang sama untuk ditempa melalui jalur yang berbeda. Sebuah destinasi agung yang ditelusuri dengan kebebasan untuk mewujudkan takdir masing-masing.”

“Apakah kita memang terlahir demikian, dengan bakat tertentu?”

“Tentu, bakat dan tujuan istimewa. Keragaman sangat membantu untuk mencapai fungsi maksimal, sebuah peran unik yang tak tergantikan.”

“Bagaimana kita dapat mencapai titik keseimbangan itu?”

“Samadhi.”

Tak ada seorangpun yang mengucapkan kata itu sesempurna dirinya. Seolah ucapannya itu sendiri adalah gerbang menuju samadhi.

“Entah bumi sedang bergoncang atau diam dalam kesenyapan, kesadaran selalu ada, bebas menentukan pilihan. Kondisi yang penuh kemawasan diri ini tidak membutuhkan alasan.”

“Ayo, kita harus berjalan menuju ketinggian, ada banyak hal yang sayang dilewatkan.”

Kini perjalanan terasa lebih ringan, sementara kabut perlahan memudar dan memberi keleluasaan untuk bernafas. Tak lama hutan rimbun pun terlewati, digantingan oleh jalan menanjak yang memperlihatkan keindahan bintang-bintang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s