Avalokitesvara dan Ramadhan

Sambungan dari tulisan Samadhi

Kami berjalan tanpa henti untuk menghindari kebekuan udara. Pemandangan fantastis rumah pemukiman menyala indah,
membuat kami sesekali berhenti mencuri pandang dan melayangkan senyum ke jagad raya.

“Apakah pada saatnya nanti kita akan mewartakan berita ini, lalu pergi meninggalkan semuanya sesuai tradisi?” Tanyaku bersemangat, seolah hutan yang sebelumnya kulewati telah melengkapkan inisiasiku yang panjang.

“Oh! Amatlah disayangkan jika betul kamu ingin segera mengakhirinya. Lihat dirimu, kini berada sangat dekat dengan bintang-bintang. Apakah kamu hanya ingin meninggalkan cerita bagi orang-orang yang tertidur lelap, dibalik atap rumah yang memancarkan cahaya indah dari atas?”

Ia mengarahkan pandangan ke bawah, sebuah dunia yang penuh kecerdasan dan akan menentukan wajah bumi masa depan. Aku mengerti dan tersenyum bagaikan bulan sabit yang memancarkan harapan. Hari itu tepat memasuki bulan Ramadhan, bulan yang membuktikan bahwa ada kesejukan dalam beragama.

“Bagaimana aku dapat membangun jembatan diantara dua dunia? Sementara aku sendiri bergelut setiap hari dengannya.”

“Oh! Tak ada seorangpun yang dapat menolong atau mengulurkan tangan, itu akan mengakibatkan ketidakluwesan dan ketidakseimbangan yang destruktif.”

“Lihat dirimu! Kini cukup memiliki kekuatan untuk menciptakan lingkungan dimana mereka akan tumbuh dalam keanggunan… hingga pengetahuan tentang kesejatian bermekaran bagai musim yang tak dapat dihindar.”

Aku mengingat-ngingat teman, sahabat, dan saudaraku yang sedang tertidur. Sekumpulan jiwa yang selalu bersama-sama denganku melampaui dimensi waktu; saling menyapa di berbagai bentuk kehidupan, mendukung pertumbuhan satu sama lainnya.

Lalu, siapakah kamu? Mengapa dirimu tak seperti jiwa-jiwa yang lain? Mengapa dirimu mengetahui sangat banyak hal dan hadir di saat yang tepat? Aku hanya dapat mengenalimu melalui suara saja.

“Jika tidak dapat membangun jembatan, maka hiduplah seperti jembatan,” katamu.

“Itu adalah mimpi yang sangat liar.”

“Menjadi jembatan berarti memiliki sikap welas asih dan tidak menghakimi. Itu adalah keliaran yang mulia.”

“Sekarang sudah ramadhan,” kataku

“Iya.”

“Kamu telah berpuasa sepanjang hidupmu. Itu pilihan yang tepat, yang akan mengokohkan jalanmu yang luarbiasa.

“Tentukanlah harapanmu dari sekarang, kita akan menyampaikannya dengan lantang saat tiba di puncak.”

Ia mengisyaratkanku untuk melanjutkan perjalanan, seraya berjalan menjauhiku menuju dunia atas. Sebelumnya, aku menyempatkan diri untuk menatap cahaya-cahaya indah dari bawah, yang memberikan kekaguman yang dirindukan oleh para pejalan, yang melakukan hal yang sama sebelum giliranku.

Di dalam hati, aku telah mengutarakan doaku dan menggengamnya dengan erat: Aku ingin hadir sepenuhnya di masa depan dan melakukannya lagi bersama kalian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s