Ajaran Budi

Darimana datangnya Ajaran Budi, dan bagaimanakah perwujudannya?

Ajaran Budi merupakan ajaran dari Sabdo Palon, sosok yang hidup dalam legenda kearifan Jawa, yakni leluhur-nya Wong Jowo itu sendiri. Sosok ini sejatinya sama dengan tokoh lain yang tidak kalah populer, yakni Eyang Semar.

Disebutkan pada zaman Mahabharata, Sang Hyang Batoro Ismoyo, yakni sosok dewa yang dimuliakan sebagai pembimbing Tanah Jawa, mengejewantah menjadi Eyang Semar untuk mendampingi Pandowo. Pandowo Limo adalah ksatria yang berjuang menegakkan kebenaran, dengan lawan Kurowo yang berkehendak sebaliknya.

Sebagai sedulur setia, Semar lalu menciptakan Bagong dari bayangannya sendiri. Kedua tokoh ini lalu melanjutkan tugasnya di masa kerajaan, dengan menitis sebagai Sabdo Palon dan Noyo Genggong. Jadilah mereka sebagai tokoh kunci yang membawa Nusantara ke era kejayaan.

Sementara penitisan dalam Ajaran Jawa merupakan simbol akan adanya ‘satu energi ketuhanan’. Satu energi dapat mengejewantah menjadi beragam sifat, yang masing-masing memiliki kehidupan dan kehendaknya sendiri. Orang Jawa dibebaskan untuk memuliakan sifat mana yang sesuai dan ingin dikembangkan dalam dirinya. Sebagai contoh Brahma-Wisnu-Siwa dengan sifat mencipta, merawat, dan meleburkan. Serta banyak lagi sifat-sifat lainnya.

Perlu ditegaskan bahwa Kawruh Jawa tidak berkaitan atau bertentangan dengan agama-agama tertentu. Justru ajarannya sangat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari yakni berupa laku, sehingga dapat menjadi pegangan manusia sepanjang zaman. Budaya spiritual Jawa menggunakan istilah kawruh sebagai sesuatu yang bukan sekedar diyakini, tetapi sudah diketahui betul sebagai gabungan hasil pelajaran hidup dan laku semedi.

Inti Ajaran Sabdo Palon

Dijabarkan bahwa manusia hendaknya meniru sifat Sabdo Palon, terutama sebagai pemomong, yakni pengasuh yang sabar dan berwelas asih. Hal ini dibarengi dengan sikap setia untuk membela dan mendampingi, teguh dalam berpendirian, mandiri dan tidak ikut-ikutan, sebab sudah menimbang kebenaran yang dihubungkan dengan kebijaksanaan untuk menghasilkan ketepatan (pener).

Beliau juga mengingatkan agar manusia selalu memupuk sikap rajin, bersemangat, dan mau belajar. Adalah penting untuk berlatih olah rasa, membedakan mana rasa yang subjektif dengan rasa yang objektif (rasa sejati). Oleh karena itu diperlukan latihan semedi sebagai optimalisasi ruang alam bawah sadar, agar berperan dan berpengaruh terhadap pikiran sadar. Dijelaskan bahwa dalam kondisi hening, alam bawah sadar sejatinya memberikan pengetahuan dan perintah yang benar, selayaknya pikiran yang secara tidak sadar mengirimkan sinyal pada jantung agar selalu berdetak dan menjaga kehidupan kita.

Sementara kewajiban untuk berkarya adalah komitmen dan semangat memayu hayuning bawono. Seiring dengan itu sebisa mungkin manusia menghindari konflik, sebab adalah sifat manusia untuk mengunggulkan keyakinannya, sehingga perdebatan hanya dapat membawa kehancuran. Di poin ini juga dipertegas bahwa energi yang baik sifatnya menghidupkan, sementara energi yang tidak baik membawa kematian.

Sebagai pribadi kita perlu memahami bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah kelebihan, juga apa yang tidak dimiliki adalah kelebihan. Kiranya kita dapat melihat hal yang sama pada orang lain dan senantiasa bersikap lepas terhadap kehidupan. Dengan begitu, terciptalah pola kerjasama yang indah.

Beliau pun berpesan agar kita selalu berupaya untuk berkomunikasi dengan penguasa jagad, mengenal dan mengingat leluhur, serta membudidayakan Kawruh Jawa pada generasi penerus agar senantiasa selamat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s