Blessings in Disguise: Job Baru Saat Pandemi

Bagaikan petir di siang bolong, orang-orang yang tengah sibuk dengan rutinitas pekerjaan yang entah sebenarnya cukup berfaedah atau tidak, dipaksa mengunci rapat pintu dan berdiam dalam ketidakpastian.

Ditambah lagi suguhan bunyi dentuman yang menakutkan, alias kabar-kabar burung yang mengalir deras dari media online, hmmm lengkap sudah skenarionya…

Tapi lepas dari apakah berita yang beredar sepenuhnya benar atau tidak, saya jadi terbayang akan kisah Nabi Nuh yang ‘terkepung’ dalam kapalnya sendiri saat banjir besar. Bahkan untuk memastikan keadaan di luar, ia harus mengirimkan seekor burung untuk memantau keadaan. Yaah…  kurang lebih analoginya seperti kita sedang mendambakan jenis masakan tertentu di warung kesukaan, lalu memesannya lewat ojek online. Well, bisalah ya, mengingat burung pengantar surat impian ala Harry Potter ini kerjaannya sudah diinvasi oleh zaman, dan digantikan tukang pos sekarang.

Tetapi seiring dengan waktu, kita pun jadi terbiasa dan menemukan sejumlah rutinitas baru, seperti misalnya menjadi ‘pengatur strategi jalan-jalan yang handal setelah pandemi berakhir’. Rencana ini bisa jadi aktivitas jelajah alam, seperti yang banyak dikicaukan di Facebook komunitas bule yang menetap di Bali: ‘do you know any beach that is open?’ Atau komunitas pendaki gunung: ‘Min, ada info gunung yang sudah dibuka?’ Rata-rata kicauan seperti itu disambut dengan hujatan yang lebih keras daripada tawuran betulan. Well, faktanya sosial media bisa jadi wadah bagi orang-orang yang tidak tahu cara untuk mengekspresikan kemarahan, kekecewaan, atau bahkan cinta dan kasih sayang di dunia nyata. Alhasil, di sosmed bisa lebih galak daripada aslinya! Tapi enggak apa-apalah, setidaknya kita tahu kalau kata-kata bisa menjadi senjata perpecahan atau juga inspirasi yang menenangkan.

Kembali lagi ke penemuan bakat terpendam saat pandemi, salah satu yang berharga adalah feel ibu rumah tangga yang kembali membara. Bisa dibilang ini sepenuhnya blessings in disguise bagi ibu-ibu sekalian (dengan catatan kerjaan suami lancar jaya) karena akhirnya memiliki waktu luang untuk baking kue idaman!
Ini bukan sarkas lho ya, tapi mengingat banyaknya wanita karir yang tahu porsinya untuk berekspresi dalam karir, saat seperti ini menjadi kesempatan untuk menggali kreativitas. Menariknya fenomena ini juga mewabah hingga para pelajar, mahasiswa, dan jomblowati yang serbasalah, sebab mereka harus melakukan beragam pekerjaan rumah tangga tanpa suami.

Dan satu yang terakhir adalah kreativitas yang patut dibanggakan, dimana semua kini berlomba-lomba menjadi kreator. Oh Bukan, bukan soal konten youtube, blog, podcast, atau TikTok, tetapi usaha-usaha yang lahir dengan penawaran hasil kreasi sendiri, yang tentu saja pantas diperjualbelikan!
Akhirnya, apa yang selama ini dibeli, dibuat.
Apa yang selama ini dibayangkan untuk dibuat, direalisasikan.
Apa yang selama ini malu-malu untuk diperkenalkan, dipasarkan juga!

Sungguh fantastis mengetahui pikiran kalian terus bekerja bak professor yang tengah melakukan penelitian, sekaligus bahwa kebutuhan rebahan yang selalu terpenuhi.

Ya sudah deh, kalau ditanya kapan pandemi ini akan berakhir, jawabannya adalah segera setelah kalian menyadari betapa kalian menikmati pandemi ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s