Sekolah di Indonesia

Meskipun cenderung tidak mementingkan pendidikan akademik, namun saya tetap menyelesaikan pendidikan di jenjang universitas dengan gelar sarjana ilmu komuniasi. Mengingat passion untuk mengajar sangat kuat, sebenarnya ada pemikiran untuk melanjutkan ke tingkat master, tetapi kata hati saya tidak bisa dibohongi. Cukup deh!

Cukup dengan kenyataan bahwa sistem pendidikan yang saya tempuh tidaklah supportive, baik itu dari segi materi pelajaran, cara penyampaian, hubungan guru-murid, sampai goals dari bersekolah yang melahirkan pertanyaan: aku ini mau dibawa kemana?

Sederhananya murid hanya perlu dibimbing untuk belajar secara mandiri dengan memaksimalkan bakat masing-masing. Seperti nasehat Gusdur pada putrinya Inayah Wahid, manusia hanya bisa menjadi jenius jika berada pada tempatnya. Atau Einsten yang berpendapat bahwa kita tidak dapat menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat.

Ini berarti guru tidak boleh men-general-kan murid untuk melahap kurikulum, tanpa mau tahu apakah hal tersebut nantinya akan berguna di masa depan atau tidak. Saya tidak sedang marah atau menyindir, tetapi kenyataannya dari puluhan guru yang pernah mengajari saya, hanya dua sampai tiga yang berkesan, dan itu karena dukungan secara mental yang telah membuat saya merasa berharga sebagai manusia yang sedang berkembang.

Intinya, sosok guru harusnya menjadi seorang mentor atau coach, yang mengarahkan bagaimana skill seseorang dapat dimanfaatkan. Ia perlu mengenal muridnya tidak sebatas kemampuan akademik, tetapi pribadinya, psikologinya, dan membangun strategi belajar yang efektif dan cukup spesifik untuk mengasah kemampuan terbaiknya.

Mengapa ini penting? Karena bagi saya bakat adalah takdir. Karena sekali lagi, saya percaya bahwa manusia adalah energi yang tidak pernah mati, dan di dalamnya terdapat DNA yang membawa, menyimpan, serta menyandi instruksi-instruksi genetika setiap organisme, sehingga apa yang menjadi kemahiran seseorang bukanlah sesuatu yang kebetulan, dan bisa dibangkitkan.

Lalu bagaimana caranya? Pertama, pangkas waktu belajar di sekolah. Atau lebih tepatnya pangkas waktu tatap muka sebagaimana pandemi telah mengajarkan kita untuk belajar secara mandiri. Bagi saya, belajar akan selalu menjadi sebuah ruang pribadi, sebab pemahaman tidak terletak di alam sadar, dan observasi adalah upaya yang didorong oleh keingintahuan.

Sementara guru yang berperan sebagai mentor memberikan referensi sebanyak-banyaknya, berupa buku apa saja yang harus dibaca, kegiatan tambahan apa yang perlu dilakukan, serta penerapan kebiasaan di rumah dan lingkungan yang mendukung teruwujudnya cita-cita (dan ritual!). Ini adalah cara belajar yang mengikutsertakan seluruh elemen kehidupan si murid, menemukan keterkaitan yang nyata sehingga keinginan lebih cepat diwujudkan.

Seorang tenaga pelajar tidak perlu selalu hadir dan menjabarkan detail pelajaran yang kemungkinan- akan diterjemahkan dengan lebih luwes dan segar oleh muridnya, dengan caranya sendiri. Guru menjadi pembimbing, pemantau, dan pendukung setia. Ia harus total meniru sikap Semar yang mengingat dan memomong generasi selanjutnya, menegaskan bahwa masa depan seseorang pada akhirnya berada di tangannya sendiri.

Dan di akhir paragraf, sebagai seorang Jnana Yogi, perlu disampaikan bahwa kebenaran sejati hanya berasal dari Sang Gusti, dengan mahakarya salah satunya berupa alam semesta ini. Dan semua pemikiran yang dihasilkan dari keingintahuan anak-anakNya, adalah jalan pendekatan diri dan cinta terhadap Beliau. Cinta yang terkadang membuat bingung, rasa ingin bergelud, dan menimbulkan jutaan pertanyaan di hati seperti yang tertuangkan dalam tulisan ini.

Tertanda, anak-Mu yang tidak pernah berhenti bermimpi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s