Penakluk Kegelapan

Manusia dilahirkan dengan dualitas, terang dan gelap akan selalu menjadi pendamping hingga akhir perjalanan kehidupan. Tentu Tuhan menciptakan hal ini untuk kebaikan, agar kita dapat terus belajar dan berkembang, sebagaimana hidup sejatinya adalah pergerakan.

Terang bisa diartikan dengan bakat, hidup yang berkelimpahan, keberuntungan, optimisme, dan sukacita. Sementara gelap adalah ketidakberdayaan, dendam, kekecewaan, sikap mengasihani diri sendiri, serta kehancuran. Kedua kekuatan ini bekerja tanpa henti untuk berebut kuasa atau dominasi dalam diri, hingga manusia harus selalu melibatkan peran Tuhan, dengan cara menjadi partner pencipta-Nya, alias co-creator di dunia.

Untuk itu saya membuat sebuah jurnal jiwa, yang juga dapat diikuti oleh teman-teman semua sebagai upaya dan langkah penyembuhan. Seperti yang telah saya sebutkan bahwa manusia lahir dengan konseskuensi dualitas, maka salah satu misi yang dibawanya adalah misi penyembuhan.

Entah itu penyembuhan luka batin yang diakibatkan oleh kebiasaan buruk serta trauma masa lalu (baik diri sendiri maupun orang lain), lingkungan, hingga planet bumi. Kelompok yang mengemban misi terakhir dikenal dengan sebutan Lightworker, atau Ksatria Cahaya. Mereka bergerak di berbagai lingkup kehidupan seperti politik, kesehatan, pendidikan, pertanian dan lain sebagainya, dengan cara mendobrak sistem lama dan memberi contoh untuk penciptaan sistem baru yang berbasis cahaya. Tentu sebelum melakukan penyembuhan skala besar ini, para Lightworker telah diuji terlebih dahulu melalui pengalaman hidupnya. Dan dengan mengetahui cara untuk bangkit, ia pun dapat menolong orang lain dan bumi dalam proses penyembuhan.

Jurnal jiwa ini sebenarnya berfungsi sebagai catatan transformasi yang juga dapat digunakan sebagai terapi, terutama untuk pelepasan jalur lama yang tidak lagi mendukung perkembangan jiwa. Melepaskan adalah cara membuka diri terhadap peluang baru, sehingga mengundang apa yang selayaknya menjadi realitas. Lalu apa saja yang dikerjakan dalam jurnal ini?

Pertama, sadari dan tuliskanlah sisi-sisi gelap dalam diri. Rasa kurang, benci, iri hati, pesimis, hingga sikap menghakimi. Tulislah dengan lapang dada sebagaimana kita ingin meletakkan masalah di atas meja, sebagai bentuk kesediaan untuk mengatasinya.

Tahap ini akan menjadi pelajaran penting bahwa semua persepsi buruk yang muncul tentang dunia sesungguhnya bersumber dari sisi gelap kita sendiri. Alasan mengapa seseorang dengan keras menghakimi orang lain misalnya, adalah bentuk rasa tidak aman, ketidakpuasan, dan kekecewaan.

Membedah sisi gelap diri bisa menjadi momentum yang sangat melegakan sekaligus menakutkan. Disini kita membutuhkan kekuatan doa sebagai pelebur, terutama untuk memaafkan diri sendiri dan orang lain. Kadang mungkin akan terasa sangat sulit untuk memaafkan, namun yakinlah bahwa dengan doa, kita dianugerahi kekuatan untuk mampu melakukannya.

“Berdoalah dengan percaya diri layaknya Ia orang paling dekat dalam hidupmu! Dia akan menoleh dalam sapaan pribadi yang dekat, bukan sikap layaknya budak.”

Pada akhirnya, proses ini bertujuan untuk membawa kedamaian dengan menerima sisi gelapmu. Jadikanlah ia sebagai alarm yang melindungi, kala pikiran gelap mencoba untuk menguasai. Pahamilah kehadiran dari entitas ini, dan biarkanlah ia melakukan tugasnya di bawah kendali kuasa cahaya.

Jadilah penakluk kegelapan.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s