Kopi Hitam Pahit, Simbol Hidup Terlampau Manis

   Duduk di meja yang sama dimana saya rutin ngopi sambil mencari inspirasi untuk menulis, terlintas sebuah gambaran tentang fase hidup dimana kenikmatan tidak lagi terasa semanis gula-gula. Seolah ada penegasan bahwa gula justru merusak cita rasa ‘kopiku yang autentik’, kujadikan warna hitam dan sentuhan bau tanah yang mengepul di udara sebagai simbol kreativitas, bahkan kebahagiaan.

   Ah udara! Elemen ini menjadi simbol yang terhubung dengan keduniawian, mulai dari pikiran yang bergerak-gerak, hasrat, dan indera-indera yang menjadi gerbang pengalaman dunia. Ini mengingatkan saya pada nasehat sinandi Alas Ketonggo yang terkenal di Pulau Jawa. Singkatnya, fenomena Alas Ketonggo mewakili kehidupan buwana alit atau tubuh jasmani, yang harus ditaklukkan untuk kebaikan hidup kolektif. Inilah kunci dan pijakan dasar untuk dapat memahami tujuh alam kehidupan rohani, yang perlu dialami oleh siapapun yang menjadikan kehadirat Tuhan sebagai tujuan akhir perjalanan.

   Filosofi Jawa memang serba wingit alias sakral. Ajaran yang diturunkan melalui tradisi mulut ke mulut hanya dapat dimaknai dengan sempurna kala jiwa telah siap untuk terhubung dengan sumber sejati, sehingga ia menjadi ajaran hidup berpengaruh dalam keseharian.

Eling Lan Waspada

   Kembali ke kopi yang senantiasa menemani, energinya masih terasa kuat meski telah men-dingin seiring dengan suhu ruangan yang terserap oleh gelas. Saya mulai belajar minum kopi semenjak masuk dunia kerja, untuk menghindari rasa kantuk dan sebagai energy booster tentu saja.

   Seumur hidup pekerjaan ‘resmi’ saya adalah mengajar hatha yoga, atau yang lebih dikenal sebagai sebuah seni latihan perpaduan nafas, gerakan/postur tubuh, dan pikiran yang terkonsentrasi. Sebenarnya ada satu hal yang secara spesik menjadi sentral jika praktik ini dihubungkan dengan ajaran filosofis Jawa, yaitu eling lan waspada.

   Eling berarti menyadari sepenuhnya asal-usul kita. Ini adalah pesan bahwa manusia harus tahu dan sadar diri untuk selalu manembah marang Gusti, sebagai sumber karunia dan kasih sayang. Sementara waspada yang dimaksud adalah mampu dengan jelas membedakan antara terang dan gelap, selalu berhati-hati dalam menyaring dan menyikapi segala macam hal di dunia.

   Kesederhanaan ajaran Jawa menguatkan kesan oral tradition dimana seolah tersampaikan secara langsung oleh orang tua. Contoh lainnya seperti pepatah ojo gumunan, ojo kagetan, lan ojo dumeh, yang berarti jangan mudah takjub, jangan mudah kaget, dan jangan bersikap mentang-mentang. Ini berarti terdapat takaran dalam menanggapi dan menikmati dunia. Di alam yang dinamis dan senantiasa berputar ini, bersikaplah sebagaimana manusia yang tidak kekal, sejenak mampir untuk menggenapkan tugasnya.

   Hmm… Obrolan semakin berat dan kopi sudah hampir habis nih. Btw, dibandingkan kopi mesin, kopi tubruk adalah favorit saya. Selain bau tanah yang mengingatkan hasil kerja petani lokal, ada aroma kayu yang berasal dari sepertiga sendok teh bubuk kayu manis yang saya tambahkan. Betul, kayu manis sangat baik untuk menjaga kesehatan. Perpaduan ini seketika mengingatkan saya pada suasana hutan, dan rasa nyaman dihadirkan perlahan mengaktifkan pineal gland, titik yang terletak di tengah alis mata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s