Yoga: A Culture Of Today And Tommorow

Di zaman modern ini yoga tidak lagi menjadi hal aneh, dimana kelas-kelasnya dapat dijangkau di sejumlah studio dan pusat kebugaran di berbagai wilayah di Indonesia. Media massa pun marak memberitakan manfaat yoga dengan para artis sebagai bintang, bahkan pengajarnya. Hal ini seolah mematahkan mitos bahwa yoga adalah praktek yang berkaitan dengan agama tertentu. Seperti yang diketahui, agama kini menjadi topik yang begitu sensitif dan bahkan menjadi trigger, entah berakhir pada perpecahan atau kesadaran kolektif manusia.

Meski istilah dan nuansa budayanya bercorak Hindu dan India, namun itu tidaklah menggambarkan spirit-nya, dan hal inilah yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini, yakni pesan universal yang terkandung dalam yoga. Apa yang terihat di media dan studio tidak sepenuhnya menyajikan esensinya, bahkan teks-teks kuno hanya menjadi sekedar bahan bacaan, apabila tidak disimak dan dicari benang merahnya dengan kehidupan.
  
     Sebagai asupan gizi menyeluruh yang terutama untuk emosi dan pikiran,  yoga membuka gerbang kesadaran menuju spiritualitas yang sebenarnya. Bagi saya yoga sendiri bukanlah tujuan, melainkan sebuah upaya untuk menghadirkan sesuatu, atau dengan kata lain proses yang bergerak. Apa yang dihasilkan melalui pemahaman sempurna-lah yang akan menjadi gerbang menuju pola hidup spiritual itu, yakni kebangkitan yang menyeluruh dan permanen.

Pengertian Yoga

     Pengertian yoga bergantung pada kondisi dan kebutuhan. Secara umum yoga diasosiasikan dengan kata dalam bahasa sansekerta yaitu ‘yuj‘ yang berarti ‘to join‘ atau ‘to connect‘, dalam hal ini adalah upaya penyatuan tubuh, pikiran, dan jiwa (yang diwakilkan oleh nafas). Ini sepenuhnya benar sebab ketiga elemen itulah yang dilatih secara kontinu hingga mencapai titik keseimbangan.

     Mengacu pada pengertian di atas maka yoga dapat diterjemahkan sebagai sebuah ‘persiapan’ untuk meditasi. Itulah sebabnya tradisi hatha yoga disebut sebagai jalan ‘pemurnian’ atau ‘transformasi’, yang masih berkaitan dengan ilmu kuno alkemi. Disebutkan bahwa pendahulu yang mengembangkan hatha yoga adalah para alkemis, seperti misalnya Yogi Swatmarama, Matsyendranath, Goraknath, dan lainnya.
    
     Sistem Hatha yoga digunakan sebagai ‘energi aktif’ yang bekerja untuk memanipulasi prana untuk mempengaruhi kimia tubuh, dengan tujuan utama mencapai keabadian fisik. Sementara pengertian lainnya adalah yoga sebagai laku meditasi atau semedi. Ini diperuntukkan bagi mereka yang mendalami yoga sebagai bagian dari tradisi kepercayaan, dimana semedi menjadi jalur langsung untuk menghubungkan diri pada dimensi Ketuhanan.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s