Asal-Usul Yoga: Sebuah Kisah Tentang Siwa

     Tulisan ini adalah sebuah opini pribadi, bahwa asal-usul yoga berdampingan dengan peradaban tertua manusia. Alasannya adalah jika memang tujuan dari praktek yoga adalah untuk mencapai dimensi ketuhanan, maka seharusnya yoga pun berasal dari tempat yang sama. Ini kurang lebih sama seperti penyederhanaan bahwa dalam ragam perannya, ‘perjalanan ke dalam’ adalah signifikasi terang bahwa leluhur kita adalah para yogi.
    
     Secara lebih spesifik yoga hadir diantara awal dan akhir, menawarkan jalan ‘penyembuhan’ saat terjadinya gonjang-ganjing. Artinya yoga dirancang sesempurna mungkin oleh Sang Maha Agung, dan diturunkan pada masa transisi sebagai ‘anugerah’ untuk memberi jawaban perihal cara untuk kembali kepada-Nya. Maka dari itu izinkan saya memulai cerita mengenai turunnya yoga ke dunia melalui Sang Hyang Siwa, Sang Maha Guru, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bathara Guru di Nusantara. Beliau adalah anak dari Sang Hyang Tunggal dengan istrinya Dewi Rekatawati, dimana bersama mereka telah menciptakan sebuah telur yang bersinar.
    
     Telur itu terbagi menjadi tiga, yakni kulitnya menjadi Sang Hyang Maha Punggung (Togog), putih telur menjadi Sang Hyang Ismaya (Semar), dan kuningnya menjadi Sang Hyang Manikmaya (Batara Guru). Hyang Tunggal lalu menugaskan Manikmaya untuk berkuasa di Suryalaya, sebagai pemimpin para dewa di kahyangan. Untuk itulah sebutan Mahadewa, dewa dari para dewa, ia dapatkan. Sementara dua saudaranya, Ismaya dan Hyang Punggung, turun ke bumi untuk mengasuh para Pandawa dan Kurawa sebagai simbol penguasa terang dan gelap.

     Cerita tentang Siwa memang tidak berdiri sendiri, sebab ada banyak sifat dan elemen yang membangun keseimbangan dunia. Maka jangan heran terdapat pula banyak dewa yang dipuja dalam ragamnya tradisi. Di Nusantara sendiri nama Siwa disebut dalam sejumlah Kakawin kuno seperti Arjunawiwaha karangan Mpu Kanwa di abad ke-10, Siwaratrikalpa karangan Mpu Tanakung di akhir masa kejayaan Majapahit abad ke-15, Kakawain Kunjarakarna, dan lain sebagainya.
    
     Selain siwaisme, sejumlah keyakinan juga pernah berkembang di Nusantara antara lain adalah waisnawa, buddha, tantra, hingga titik kejayaan saat terjadinya sinkritisme ajaran siwa dan buddha, menjadi siwa buda. Berikut adalah kutipan dari Kakawin Sutasoma yang mashyur nyawanya bagi Indonesia, karangan Mpu Tantular pada abad ke-14:
    
Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangkang Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Terjemahan:
Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Namun bagaimana kita dapat menyatakannya berbeda hanya dalam selintas pandang?
Sebab  hakikat Sanghyang Jina (Buddha) dan Sanghyang Siwa adalah tunggal adanya
Terlihat berbeda tapi tunggal juga, sebab tiada dharma (kebenaran) yang mendua

Siwa dan Tantra

Ada yang menyebutkan bahwa tantra pertama kali muncul di daratan India sekitar 5000 SM, dalam bentuk keyakinan lokal yang belum terpadu. Tak lama Siwa lahir di tempat yang sama, dan memperkenalkan tantra sebagai sebuah ajaran yang lebih mudah diterima. Berikut kutipan cerita yang tersebar mengenainya:

Namanya Sadashiva, artinya ‘dia yang selalu terserap dalam kesadaran’ dan ‘dia yang sumpah satu-satunya hanyalah untuk memajukan kesejahteraan menyeluruh semua kehidupan’. Sadashiva, dikenal juga sebagai Shiva, adalah seorang Guru rohani yang istimewa. Meskipun Tantra sudah dipraktikkan sejak sebelum kelahirannya, namun beliaulah yang pertama kali mengungkapkan perkara rohani secara sistematis bagi umat manusia.”

Bukan saja beliau adalah seorang guru spiritual, namun beliau juga pelopor sistem musik dan tari India, dari sebab itu beliau terkadang dikenal pula sebagai Nataraj (Tuhan Penata Tari). Shiva juga merupakan pelopor ilmu pengobatan India, dan menurunkan suatu sistem yang terkenal dengan nama Vaedya Shastra.

Dalam bidang sosial Shiva juga memainkan peranan penting. Beliau memelopori sistem pernikahan, yaitu kedua mempelai menerima saling tanggung jawab demi keberhasilan perkawinan, tanpa memandang kasta atau suku. Shiva sendiri melakukan perkawinan campur, dan dengan mengawini seorang putri Arya beliau membantu menyatukan berbagai pihak di India yang sedang saling berperang dan memberikan bagi mereka suatu sudut pandang sosial yang lebih universal. Karena kepeloporan sosial ini Shiva dikenal juga sebagai ‘Bapa peradaban manusia’.”

Sumbangan terbesar dari Shiva pada kelahiran peradaban yang baru adalah pengenalan konsep dharma. Dharma adalah suatu kata Sansekerta yang berarti ‘sifat dari sananya’. Apakah yang menjadi sifat alamiah dan kekhasan manusia? Shiva menerangkan bahwa manusia selalu menginginkan lebih, lebih daripada kenikmatan yang diperoleh dari kepuasan inderawi. Beliau mengatakan bahwa manusia berbeda dengan tanaman atau binatang karena apa yang sangat diinginkan oleh manusia adalah kedamaian mutlak. Itu adalah tujuan hidup manusia, dan ajaran rohani Shiva ditujukan untuk memberdayakan manusia untuk mencapai tujuan itu.”

Seperti halnya dengan berbagai ajaran kuno lainnya, ajaran Shiva disampaikan dari mulut ke mulut, dan baru kemudian dituliskan ke dalam buku. Isteri Shiva, Parvati, sering bertanya pada beliau mengenai berbagai pengetahuan rohani. Shiva memberikan jawabannya, dan kumpulan tanya jawab ini dikenal sebagai Tantra Shastra (kitab suci Tantra). Ada dua macam buku. Prinsip-prinsip Tantra terdapat dalam buku bernama Nigama, sedangkan praktik-praktiknya dalam buku Agama. Sebagian buku-buku kono itu telah hilang dan sebagian lagi tak dapat dimengerti karena tertulis dalam tulisan rahasia untuk menjaga kerahasiaan Tantra terhadap mereka yang tak memperoleh inisiasi, namun dengan demikian pemikiran-pemikiran Tantra tak pernah terungkapkan dengan jelas.”

Tantra yang secara etimologi berarti memperluas kesadaran, menjadi ajaran filosofi yang terurai indah di kalangan tantris sektor kanan. Di sisi kiri yang terkenal melalui ritualnya, kemudian dianggap nyeleneh dan membuat tantra dipandang sebagai ajaran gelap oleh masyarakat. Seiring waktu ajatan tantra ‘diperhalus’ dan menurun menjadi hatha, kundalini, kriya, dan lainnya. Signifikasi kuat dari tantra pelatihan kebangkitan kundalini dan inisiasi.

Artikel terkait: Yoga: A Culture Of Today And Tommorow

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s