The New Normal Is Unconditional Love

     Merasa sedih sepenuhnya wajar, tetapi merasa terpuruk apalagi mengasihani diri sendiri adalah bentuk ketidaksyukuran yang justru mengundang kemalangan hidup. Hukum semesta tidak pernah berhenti membaca pikiran dan vibrasi, itulah mengapa orang-orang selalu mengatakan ‘Tuhan maha tahu’ dan ‘maha mengabulkan permintaan manusia’. Masalahnya apakah cara kita meminta sudah tepat? Karena cara kita meminta tergambarkan dari kebiasaan, dan apa yang diminta dibaca melalui frekuensi.

     Frekuensi apa? Setiap sel dalam tubuh kita sesungguhnya adalah sebuah electric impulse, atau percikan listrik yang dapat berubah menjadi gelombang. Darisinilah kita berkomunikasi dengan semesta, yakni kekuatan manifestasi itu sendiri, untuk menghadirkan yang non-fisik ke alam fisik. Hal yang mempengaruhi frekuensi terutama adalah pikiran, intensi, dan emosi. Karena itu pencapaian sangat berhubungan erat dengan kualitas kedisiplinan serta tingkat kesadaran.
    
     Lalu apa hubungannya pengantar di atas dengan ‘new normal‘- fase yang secara serempak dimasuki oleh dunia saat ini? Well, jika cukup jeli membaca situasi, pandemi telah membuka mata kita terhadap kejelasan akan dunia macam apa yang kita inginkan, lebih deep bahkan pada takdir kehidupan. Ini menjadi fase dimana kunci misi jiwa terbuka sehingga apa yang menunjang dan sudah usang menjadi terang: jenis dan pola kehidupan, karir, pasangan, semua sektor diobrak-abrik untuk dipertimbangkan kembali. Yeah, kapan lagi ada waktu mikirin semua itu kan?

     Pembatasan sistem dan interaksi sosial adalah pelajaran terbaik untuk lebih saling menghargai. Karena melaksanakan ‘protokol’ tidak lagi cukup, kita benar-benar harus jujur dalam membangun hubungan. Entah mendekat atau menjauh, masing-masing dari kita berhak untuk mengatur timeline-nya, demi relasi yang seimbang, demi kebangkitan dan pada akhirnya, cinta tanpa syarat.
    
     Secara personal kita juga perlu menimang dan berpikir matang sebelum bertindak: bahwa di setiap pikiran, aksara tertulis, ucapan, hingga perbuatan adalah getaran yang dicatat dalam buku semesta dan harus dipertanggungjawabkan. Ini adalah kesempatan emas bagi para lightworker agar menyesuaikan getarannya dengan realitas yang lebih tinggi. Dan bukankah selama ini, itulah yang dinanti?
    
     Gerbang Aquarius telah terbuka, and this is the judgement. Sebuah zaman pembebasan diberikan untuk mereka yang memilih untuk menyelaraskan frekuensinya, dan sebaliknya dunia lama untuk mereka yang memilih tinggal. Ini adalah zaman dimana tidak ada lagi kekerasan, maka sebisa mungkin- semenjak dini, hancurkan seluruh ego sebagaimana makhluk suci phoenix membakar dirinya dan terlahir kembali dari bekas abunya.
    
     Melenyapkan kesengsaraan dari atas bumi, semua pekerjaan ini bukanlah pengorbanan, tetapi kesadaran. Dari gerbang yang disimbolkan dengan angka 1111 itu (the gate, ascension, kelimpahan dan anugerah yang terbuka), kita didorong untuk beranjak naik, sehingga semenjak saat ini juga setiap langkah (pikiran, ucapan, perbuatan) adalah ujian. Kekuatan manifestasi dilipatgandakan (makna angka 2222), dan ini adalah untuk memeneuhi kebutuhan perjalanan pulang ke rumah.

Pada akhirnya new normal barangkali hanya sebuah istilah untuk menandai cara hidup pasca pandemi oleh pemerintah, namun tentu kita tahu bahwa inilah perjalanan mewujudkan surga di bumi. Jalan dan kebaruan itu adalah cinta tanpa syarat.

Satu tanggapan untuk “The New Normal Is Unconditional Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s