Urip Iku Urup

Sesaat setelah terbangun, aku bertanya, apakah masih ada utang rasa-ku padamu? Sebab semalam sebelum tertidur aku mendengar lantunan tembang Mbah Tejo, hingga terbuai sukmaku bagai asap-asap yang mengepul dari tungku yang tampak lusuh, menebarkan wewangian hidup.

Kini, hujan yang menetes di bawah payung mendung seolah sedang menanggung sesuatu. Menahan gumpalan kerinduan di hatiku, Gusti.

Hujan yang turun di saat titik balik matahari telah memasuki musim kemarau membuatku merenung dan tak bisa menarik diri, hingga apa saja kini menjadi riak riuh pertanda-Mu: petir yang menggelegar, daun-daun yang diajak menari oleh angin, orang-orang yang melintas dan memudar. Yang kudengar dan kusaksikan hanyalah diri-Mu.

Kau hantarkan serpihan cahaya yang samar-samar menembus batas ruang, hingga aku pun dapat mendengar kejelasan rencana-Mu. Hatiku melompat girang kala mengetahui aku termasuk dalam rencana itu. Meski tak sepenuhnya mengerti dan bahkan seringkali ingin ‘mangkir’, tetapi bahkan angan-angan pun tak sanggup berpaling.

Aku mengerti, bahwa hidup itu berarti ‘nyala‘, haruslah menjadi terang. Sebagaimana ‘berserah‘ juga penuh dengan tanggungjawab dan pembuktian, untuk pantas menjadi instrumen semesta. Bagaikan sebuah pertunjukkan wayang, Engkau adalah Sang Dalang yang telah memulai dan menentukan ceritanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s