Blessings From Shiva

A potrait of a Chinese woman, 2018.

Pertama kali aku memiliki ketertarikan pada Siwa adalah di tahun 2017, saat menjalani training filosofi yoga dengan seorang pengajar berlatar ilmu teologi- yang juga mantan biksu di India beraliran Siwaisme. Beliau memberikan selentingan tentang indahnya ajaran tantra, yakni untuk melihat segala sesuatu, bahkan yang bersifat kontradiktif sebagai wujud dari Siwa. Betapa menarik dan sederhana!

Aku pun mulai mempelajari konsep siwa dan sakti, hingga rutinitas mengalihkan perhatian. Dan di awal tahun 2018, aku memutuskan untuk melakukan training di daerah India Utara, sembari merasakan spirit Siwa yang nyata. Kudapati betapa atmosfer pegunungan himalaya dan sungai gangga seketika memperlihatkan spiritualitas yang terletak bukan pada tradisi dan ritual, melainkan sebagai anugerah yang tidak dapat dihindarkan. Semenjak itu Siwa beranjak dari sebuah romansa spiritual menjadi dimensi kesadaran…

Siwa lalu memunculkan ketertarikanku pada sejarah Nusantara, dan membuatku hanyut di dalammya selama tiga bulan penuh pada pertengahan tahun 2018. Itulah yang mendorongku untuk menjelajah dan merasakan getaran Pulau Jawa, terutama kehidupan gunung-gunungnya yang eksotis!

Dan kini baru saja kusadari, tatkala sebuah gambar patung Adiyogi muncul di layar ponsel, bahwa rentetan perjalanan yang berhubungan dengan Siwa adalah jawaban-Nya terhadap pencarianku di jalan yoga. Siwa Sang Adiyogi telah memperlihatkan perannya yang tak terganti sebagai yogi yang pertama, juga sebagai Sang Adiguru, yakni satu-satunya guru yang dapat melimpahkan benih pengetahuan yoga dalam kesadaran umat manusia… Kuharap, terang senantiasa menuntunku tuk menyerapnya.

Adiyogi: The Source Of Yoga, Oleh Sadghuru

Dalam tradisi yoga, Shiva bukan dikenal sebagai Tuhan, melainkan yogi yang pertama- pencipta dari yoga. Dia adalah yang pertama menanamkan benih yoga ke dalam pikiran manusia. Berdasarkan ilmu ini, lebih dari lima belas ribu tahun yang lalu, Shiva mengalami tarian estatik yang intens, dan ketika tarian itu menghasilkan sejumlah gerakan, sekejap ia pun menjadi sepenuhnya diam.

Orang-orang melihatnya mengalami sesuatu yang benar-benar asing, sesuatu yang tak dapat dimengerti, menimbulkan ketertarikan dan keingintahuan. Mereka pun datang dan menunggui Shiva, namun pada akhirnya beranjak pergi sebab Sang Yogi samasekali tak mengindahkan mereka.

Hingga tersisa tujuh orang yang memilih tinggal.

Ketujuh orang ini bersikeras bahwa mereka harus belajar dari Sang Yogi, namun Shiva tetap bersikukuh untuk tidak memerhatikan. Mereka lalu meminta dan memohon: ‘Tolong, kami ingin tahu apa yang kamu ketahui.’ Shiva dengan segera membubarkan mereka dan berkata, “Kalian ini bodoh. Dengan cara seperti ini, kalian tidak akan pernah tahu bahkan dalam jutaan tahun. Ada sangat banyak persiapan yang dibutuhkan, ini bukanlah sebuah pertunjukan.”

Namun mereka tidaklah menyerah. Mereka memulai latihan persipaan itu selama tahun demi tahun, sampai pada hari purnama setelah 84 tahun latihan- tepatnya di saat titik balik matahari beranjak ke musim dingin (dalam tradisi dikenal dengan Dakshinayana), Sang Adiyogi akhirnya melihat ke arah tujuh orang ini, dan mendapati mereka telah berubah menjadi wadah pengetahuan yang bersinar. Mereka dianggap sepenuhnya matang untuk menerima (pengetahuan selanjutnya), sehingga Shiva pun tak dapat mengindahkan mereka lagi.

Beliau menyaksikan mereka dengan seksama selama beberapa hari, dan kala purnama berikutnya tiba, Sang Adiyogi memutuskan untuk menjadi Guru. Ia bertransformasi menjadi Adi Guru; Sang Guru Pertama yang lahir pada saat yang kini dikenal sebagai hari Guru Purnima.

Di tepi danau Kanti Sarovar yang terletak beberapa kilometer di atas Kedarnath, Ia berbelok ke arah Selatan untuk melimpahkan rahmatnya pada umat manusia, dan transmisi pengetahuan yoga pada ketujuh murid ini dimulai. Ilmu sejati yoga tidak seperti yang diketahui di dalam kelas dimana orang-oranh menekuk tubuh mereka- sesuatu yang sudah dilakukan oleh bayi, atau bagaimana cara menahan nafas, yang telah diketahui oleh anak yang belum dilahirkan. Ini adalah ilmu untuk memahami mekanisme dari keseluruhan tubuh manusia.

Setelah beberapa tahun ketika transmisi itu selesai, diturunkanlah tujuh orang suci, Saptarishis, yang kini dipuja dan dirayakan dalam tradisi India. Shiva telah meletakkan aspek-aspek yoga yang berbeda kepada tujuh murid ini, sebagai dasar dari yoga.
Mereka dikirm ke tujuh arah penjuru dunia untuk membawa dimensi dimana manusia dapat berkembang melampaui batasan.

Mereka adalah bagian dari tubuh Shiva, yang membagikan anugerahkan pengetahuan dan teknologi ke seluruh dunia, agar manusia dapat hidup di saat ini juga dengan kualitas Sang Pencipta.

Sang Adiyogi membawa kemungkinan bahwa manusia tidak perlu harus dijelaskan melalui batasan-batasan yang ditetapkan oleh spesies kita. Ada cara untuk menjadi penuh secara fisik, dan untuk tinggal di dalam tubuh tanpa pernah menjadi tubuh itu sendiri. Ada cara untuk menggunakan pikiran pada level yang tertinggi namun tetap tidak pernah mengetahui derita yang dapat diakibatkannya.

Pada dimensi manapun, kita selalu dapat melampuinya- sebab selalu ada cara lain untuk hidup. Ia lalu berkata, “Kamu dapat berkembang melampaui keterbatasanmu saat ini, jika kamu melakukan pekerjaan yang diperlukan atas dirimu sendiri.” Itulah pentingnya Adiyogi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s