Proses Ascension

Sepertinya omong kosong jika saya membicarakan ascension tanpa memberi petunjuk jelas bagaimana cara melauinya. Yang ada hanyalah gambaran-gambaran ‘di atas’, tanpa informasi tentang perjalanannya. Untuk memperjelas, eksis terang dan gelap di dunia. Maka jangan pernah menganggap kegelapan sebagai sesuatu yang buruk, karena itu adalah persepsi.

Kegelapan adalah salah satu elemen keseimbangan, maka itu haruslah ditaklukkan, agar ia tidak menguasai. Sebagai contoh, sering muncul pikiran yang buruk, namun pikiran itu dapat dihentikan dan segera dikendalikan. Banyak orang-orang ‘terang’ menjadi gelap, karena tidak mampu menahan desiran energi kebangkitan. Gelap itu amatlah mudah, yakni mengikuti ego dan kenikmatan sesaat di dunia.

Sementara kebangkitan adalah ujian. Ujian harus ‘dikerjakan’ untuk dilalui, dan ujian ini tidaklah untuk semua orang, maka bersukacitalah dalam mengerjakannya!
Kebangkitan menyajikan banyak pelajaran, sehingga kadang perjalanan terasa sangat melelahkan. Maka berhenti dan nikmatilah Bumi, karena Ibu Bumi tidak ingin kita menjadi menjadi sakit dan bersedih.

Jika berkesempatan untuk menjalaninya, perlu diingat bahwa proses kebangkitan terjadi tidak hanya sekali, tetapi terus-menerus bagaikan estafet, sebab bumi ingin segera menyelasikan prosesnya secara menyeluruh, termasuk melalui diri kita. Jangan mengeluh! Bagian ini sangat baik untuk membakar semua karma. Jika memang kita mampu mengikuti petunjuk semesta, ini akan menjadi kehidupan terkahir sebagai manusia yang mengalami dualitas. Itulah Janji Semeta.

Forget The Past

Avoid dwelling on all the wrong things you have done. They do not belong to you now. Let them be forgotten. It is attention that creates habit and memory.
As soon as you put the needle on a phonograph record, it begins to play. Attention is the needle that plays the record of past actions. So you should not put your attention on bad ones. Why go on suffering over the unwise actions of your past? Cast their memory from your mind, and take care not to repeat those actions again.

Lupakanlah Masa Lalu

Hindarilah untuk berpikir terlalu jauh pada kesalahan yang telah diperbuat. Mereka bukan lagi dirimu, biarkanlah mereka dilupakan. Adalah perhatian yang telah menciptakan kebisaan dan ingatan.
Segera setelah diletakkannya jarum pada catatan fonograf (alat penyimpan suara), maka semua segera dimainkan. Perhatian adalah jarum yang memainkan catatan masa lalu. Jadi mengapa kamu harus memberi perhatianmu pada hal yang buruk? Mengapa harus menderita atas perlakuan tidak bijaksana yang pernah dilakukan? Keluarkanlah semua itu dari pikiranmu, dan berhati-hatilah untuk tidak mengulangi itu lagi.

~ Paramahansa Yogananda, Kriya Yoga guru, disciple of Mahaavatar Babaji

Asal-Usul Yoga: Sebuah Kisah Tentang Siwa

     Tulisan ini adalah sebuah opini pribadi, bahwa asal-usul yoga berdampingan dengan peradaban tertua manusia. Alasannya adalah jika memang tujuan dari praktek yoga adalah untuk mencapai dimensi ketuhanan, maka seharusnya yoga pun berasal dari tempat yang sama. Ini kurang lebih sama seperti penyederhanaan bahwa dalam ragam perannya, ‘perjalanan ke dalam’ adalah signifikasi terang bahwa leluhur kita adalah para yogi.
    
     Secara lebih spesifik yoga hadir diantara awal dan akhir, menawarkan jalan ‘penyembuhan’ saat terjadinya gonjang-ganjing. Artinya yoga dirancang sesempurna mungkin oleh Sang Maha Agung, dan diturunkan pada masa transisi sebagai ‘anugerah’ untuk memberi jawaban perihal cara untuk kembali kepada-Nya. Maka dari itu izinkan saya memulai cerita mengenai turunnya yoga ke dunia melalui Sang Hyang Siwa, Sang Maha Guru, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bathara Guru di Nusantara. Beliau adalah anak dari Sang Hyang Tunggal dengan istrinya Dewi Rekatawati, dimana bersama mereka telah menciptakan sebuah telur yang bersinar.
    
     Telur itu terbagi menjadi tiga, yakni kulitnya menjadi Sang Hyang Maha Punggung (Togog), putih telur menjadi Sang Hyang Ismaya (Semar), dan kuningnya menjadi Sang Hyang Manikmaya (Batara Guru). Hyang Tunggal lalu menugaskan Manikmaya untuk berkuasa di Suryalaya, sebagai pemimpin para dewa di kahyangan. Untuk itulah sebutan Mahadewa, dewa dari para dewa, ia dapatkan. Sementara dua saudaranya, Ismaya dan Hyang Punggung, turun ke bumi untuk mengasuh para Pandawa dan Kurawa sebagai simbol penguasa terang dan gelap.

     Cerita tentang Siwa memang tidak berdiri sendiri, sebab ada banyak sifat dan elemen yang membangun keseimbangan dunia. Maka jangan heran terdapat pula banyak dewa yang dipuja dalam ragamnya tradisi. Di Nusantara sendiri nama Siwa disebut dalam sejumlah Kakawin kuno seperti Arjunawiwaha karangan Mpu Kanwa di abad ke-10, Siwaratrikalpa karangan Mpu Tanakung di akhir masa kejayaan Majapahit abad ke-15, Kakawain Kunjarakarna, dan lain sebagainya.
    
     Selain siwaisme, sejumlah keyakinan juga pernah berkembang di Nusantara antara lain adalah waisnawa, buddha, tantra, hingga titik kejayaan saat terjadinya sinkritisme ajaran siwa dan buddha, menjadi siwa buda. Berikut adalah kutipan dari Kakawin Sutasoma yang mashyur nyawanya bagi Indonesia, karangan Mpu Tantular pada abad ke-14:
    
Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangkang Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Terjemahan:
Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Namun bagaimana kita dapat menyatakannya berbeda hanya dalam selintas pandang?
Sebab  hakikat Sanghyang Jina (Buddha) dan Sanghyang Siwa adalah tunggal adanya
Terlihat berbeda tapi tunggal juga, sebab tiada dharma (kebenaran) yang mendua

Siwa dan Tantra

Ada yang menyebutkan bahwa tantra pertama kali muncul di daratan India sekitar 5000 SM, dalam bentuk keyakinan lokal yang belum terpadu. Tak lama Siwa lahir di tempat yang sama, dan memperkenalkan tantra sebagai sebuah ajaran yang lebih mudah diterima. Berikut kutipan cerita yang tersebar mengenainya:

Namanya Sadashiva, artinya ‘dia yang selalu terserap dalam kesadaran’ dan ‘dia yang sumpah satu-satunya hanyalah untuk memajukan kesejahteraan menyeluruh semua kehidupan’. Sadashiva, dikenal juga sebagai Shiva, adalah seorang Guru rohani yang istimewa. Meskipun Tantra sudah dipraktikkan sejak sebelum kelahirannya, namun beliaulah yang pertama kali mengungkapkan perkara rohani secara sistematis bagi umat manusia.”

Bukan saja beliau adalah seorang guru spiritual, namun beliau juga pelopor sistem musik dan tari India, dari sebab itu beliau terkadang dikenal pula sebagai Nataraj (Tuhan Penata Tari). Shiva juga merupakan pelopor ilmu pengobatan India, dan menurunkan suatu sistem yang terkenal dengan nama Vaedya Shastra.

Dalam bidang sosial Shiva juga memainkan peranan penting. Beliau memelopori sistem pernikahan, yaitu kedua mempelai menerima saling tanggung jawab demi keberhasilan perkawinan, tanpa memandang kasta atau suku. Shiva sendiri melakukan perkawinan campur, dan dengan mengawini seorang putri Arya beliau membantu menyatukan berbagai pihak di India yang sedang saling berperang dan memberikan bagi mereka suatu sudut pandang sosial yang lebih universal. Karena kepeloporan sosial ini Shiva dikenal juga sebagai ‘Bapa peradaban manusia’.”

Sumbangan terbesar dari Shiva pada kelahiran peradaban yang baru adalah pengenalan konsep dharma. Dharma adalah suatu kata Sansekerta yang berarti ‘sifat dari sananya’. Apakah yang menjadi sifat alamiah dan kekhasan manusia? Shiva menerangkan bahwa manusia selalu menginginkan lebih, lebih daripada kenikmatan yang diperoleh dari kepuasan inderawi. Beliau mengatakan bahwa manusia berbeda dengan tanaman atau binatang karena apa yang sangat diinginkan oleh manusia adalah kedamaian mutlak. Itu adalah tujuan hidup manusia, dan ajaran rohani Shiva ditujukan untuk memberdayakan manusia untuk mencapai tujuan itu.”

Seperti halnya dengan berbagai ajaran kuno lainnya, ajaran Shiva disampaikan dari mulut ke mulut, dan baru kemudian dituliskan ke dalam buku. Isteri Shiva, Parvati, sering bertanya pada beliau mengenai berbagai pengetahuan rohani. Shiva memberikan jawabannya, dan kumpulan tanya jawab ini dikenal sebagai Tantra Shastra (kitab suci Tantra). Ada dua macam buku. Prinsip-prinsip Tantra terdapat dalam buku bernama Nigama, sedangkan praktik-praktiknya dalam buku Agama. Sebagian buku-buku kono itu telah hilang dan sebagian lagi tak dapat dimengerti karena tertulis dalam tulisan rahasia untuk menjaga kerahasiaan Tantra terhadap mereka yang tak memperoleh inisiasi, namun dengan demikian pemikiran-pemikiran Tantra tak pernah terungkapkan dengan jelas.”

Tantra yang secara etimologi berarti memperluas kesadaran, menjadi ajaran filosofi yang terurai indah di kalangan tantris sektor kanan. Di sisi kiri yang terkenal melalui ritualnya, kemudian dianggap nyeleneh dan membuat tantra dipandang sebagai ajaran gelap oleh masyarakat. Seiring waktu ajatan tantra ‘diperhalus’ dan menurun menjadi hatha, kundalini, kriya, dan lainnya. Signifikasi kuat dari tantra pelatihan kebangkitan kundalini dan inisiasi.

Artikel terkait: Yoga: A Culture Of Today And Tommorow

Siwa Mahadewa

Semenjak ku tahu bahwa tiada jalan dapat memuaskan dahagaku,
Selain ajaran dari Sang Mahaguru, Siwa Mahadewa
Kulepaskan tahta yang menopang kepala dan membungkus kakiku
Untuk berjalan tanpa alas dan mahkota menuju taman dimana teratai emas tumbuh

Jalan yang terlampau sepi
Hanya kesendirian yang tertinggal sambil menggenggam erat rasa percaya
Bagaikan jangkar yang tertancap dan menegakkan badan
Adalah sabda-Mu, aksara yang melahirkan pikiran dan detak jantung
Di dunia tempat aku berpijak, membutuhkan dengungan suara, denyut, dan tarian-Mu
Di manakah semua itu?
Apakah tertinggal pada sunyi kuncup teratai?

Om Namah Siwaya!

Sungguh kubutuh perlindungan, tuntunan, dan keselamatan dari-Mu.

Yoga: A Culture Of Today And Tommorow

Di zaman modern ini yoga tidak lagi menjadi hal aneh, dimana kelas-kelasnya dapat dijangkau di sejumlah studio dan pusat kebugaran di berbagai wilayah di Indonesia. Media massa pun marak memberitakan manfaat yoga dengan para artis sebagai bintang, bahkan pengajarnya. Hal ini seolah mematahkan mitos bahwa yoga adalah praktek yang berkaitan dengan agama tertentu. Seperti yang diketahui, agama kini menjadi topik yang begitu sensitif dan bahkan menjadi trigger, entah berakhir pada perpecahan atau kesadaran kolektif manusia.

Meski istilah dan nuansa budayanya bercorak Hindu dan India, namun itu tidaklah menggambarkan spirit-nya, dan hal inilah yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini, yakni pesan universal yang terkandung dalam yoga. Apa yang terihat di media dan studio tidak sepenuhnya menyajikan esensinya, bahkan teks-teks kuno hanya menjadi sekedar bahan bacaan, apabila tidak disimak dan dicari benang merahnya dengan kehidupan.
  
     Sebagai asupan gizi menyeluruh yang terutama untuk emosi dan pikiran,  yoga membuka gerbang kesadaran menuju spiritualitas yang sebenarnya. Bagi saya yoga sendiri bukanlah tujuan, melainkan sebuah upaya untuk menghadirkan sesuatu, atau dengan kata lain proses yang bergerak. Apa yang dihasilkan melalui pemahaman sempurna-lah yang akan menjadi gerbang menuju pola hidup spiritual itu, yakni kebangkitan yang menyeluruh dan permanen.

Pengertian Yoga

     Pengertian yoga bergantung pada kondisi dan kebutuhan. Secara umum yoga diasosiasikan dengan kata dalam bahasa sansekerta yaitu ‘yuj‘ yang berarti ‘to join‘ atau ‘to connect‘, dalam hal ini adalah upaya penyatuan tubuh, pikiran, dan jiwa (yang diwakilkan oleh nafas). Ini sepenuhnya benar sebab ketiga elemen itulah yang dilatih secara kontinu hingga mencapai titik keseimbangan.

     Mengacu pada pengertian di atas maka yoga dapat diterjemahkan sebagai sebuah ‘persiapan’ untuk meditasi. Itulah sebabnya tradisi hatha yoga disebut sebagai jalan ‘pemurnian’ atau ‘transformasi’, yang masih berkaitan dengan ilmu kuno alkemi. Disebutkan bahwa pendahulu yang mengembangkan hatha yoga adalah para alkemis, seperti misalnya Yogi Swatmarama, Matsyendranath, Goraknath, dan lainnya.
    
     Sistem Hatha yoga digunakan sebagai ‘energi aktif’ yang bekerja untuk memanipulasi prana untuk mempengaruhi kimia tubuh, dengan tujuan utama mencapai keabadian fisik. Sementara pengertian lainnya adalah yoga sebagai laku meditasi atau semedi. Ini diperuntukkan bagi mereka yang mendalami yoga sebagai bagian dari tradisi kepercayaan, dimana semedi menjadi jalur langsung untuk menghubungkan diri pada dimensi Ketuhanan.

Bersambung…

Kopi Hitam Pahit, Simbol Hidup Terlampau Manis

   Duduk di meja yang sama dimana saya rutin ngopi sambil mencari inspirasi untuk menulis, terlintas sebuah gambaran tentang fase hidup dimana kenikmatan tidak lagi terasa semanis gula-gula. Seolah ada penegasan bahwa gula justru merusak cita rasa ‘kopiku yang autentik’, kujadikan warna hitam dan sentuhan bau tanah yang mengepul di udara sebagai simbol kreativitas, bahkan kebahagiaan.

   Ah udara! Elemen ini menjadi simbol yang terhubung dengan keduniawian, mulai dari pikiran yang bergerak-gerak, hasrat, dan indera-indera yang menjadi gerbang pengalaman dunia. Ini mengingatkan saya pada nasehat sinandi Alas Ketonggo yang terkenal di Pulau Jawa. Singkatnya, fenomena Alas Ketonggo mewakili kehidupan buwana alit atau tubuh jasmani, yang harus ditaklukkan untuk kebaikan hidup kolektif. Inilah kunci dan pijakan dasar untuk dapat memahami tujuh alam kehidupan rohani, yang perlu dialami oleh siapapun yang menjadikan kehadirat Tuhan sebagai tujuan akhir perjalanan.

   Filosofi Jawa memang serba wingit alias sakral. Ajaran yang diturunkan melalui tradisi mulut ke mulut hanya dapat dimaknai dengan sempurna kala jiwa telah siap untuk terhubung dengan sumber sejati, sehingga ia menjadi ajaran hidup berpengaruh dalam keseharian.

Eling Lan Waspada

   Kembali ke kopi yang senantiasa menemani, energinya masih terasa kuat meski telah men-dingin seiring dengan suhu ruangan yang terserap oleh gelas. Saya mulai belajar minum kopi semenjak masuk dunia kerja, untuk menghindari rasa kantuk dan sebagai energy booster tentu saja.

   Seumur hidup pekerjaan ‘resmi’ saya adalah mengajar hatha yoga, atau yang lebih dikenal sebagai sebuah seni latihan perpaduan nafas, gerakan/postur tubuh, dan pikiran yang terkonsentrasi. Sebenarnya ada satu hal yang secara spesik menjadi sentral jika praktik ini dihubungkan dengan ajaran filosofis Jawa, yaitu eling lan waspada.

   Eling berarti menyadari sepenuhnya asal-usul kita. Ini adalah pesan bahwa manusia harus tahu dan sadar diri untuk selalu manembah marang Gusti, sebagai sumber karunia dan kasih sayang. Sementara waspada yang dimaksud adalah mampu dengan jelas membedakan antara terang dan gelap, selalu berhati-hati dalam menyaring dan menyikapi segala macam hal di dunia.

   Kesederhanaan ajaran Jawa menguatkan kesan oral tradition dimana seolah tersampaikan secara langsung oleh orang tua. Contoh lainnya seperti pepatah ojo gumunan, ojo kagetan, lan ojo dumeh, yang berarti jangan mudah takjub, jangan mudah kaget, dan jangan bersikap mentang-mentang. Ini berarti terdapat takaran dalam menanggapi dan menikmati dunia. Di alam yang dinamis dan senantiasa berputar ini, bersikaplah sebagaimana manusia yang tidak kekal, sejenak mampir untuk menggenapkan tugasnya.

   Hmm… Obrolan semakin berat dan kopi sudah hampir habis nih. Btw, dibandingkan kopi mesin, kopi tubruk adalah favorit saya. Selain bau tanah yang mengingatkan hasil kerja petani lokal, ada aroma kayu yang berasal dari sepertiga sendok teh bubuk kayu manis yang saya tambahkan. Betul, kayu manis sangat baik untuk menjaga kesehatan. Perpaduan ini seketika mengingatkan saya pada suasana hutan, dan rasa nyaman dihadirkan perlahan mengaktifkan pineal gland, titik yang terletak di tengah alis mata.

The Age Of Light

Seharusnya lanjutan tulisan dari Penakluk Kegelapan sudah selesai beberapa hari lalu, namun sayangnya tulisan itu tak sengaja terhapus sehingga saya harus mengulanginya lagi. Meski begitu tak ada kekecewaan, saya sepenuhnya mengerti bahwa hal ini berarti saya harus menulis ide yang baru.

Saya pun belajar untuk lebih jeli mengevaluasi dan memerhatikan hal kecil, yang secara tak sadar terus dihindari, namun sebenarnya menentukan langkah berikutnya. Betapa melegakan untuk tidak lagi merasa terbebani, dimana muncul insting untuk menata hidup lebih sederhana.

Selama pengalaman menulis, telah terjadi sejumlah penundaan oleh karena alur yang tidak mengalir. Tidak mudah bagi saya untuk yakin dan mengakui percampuran tangan semesta ini. Hingga diri sejati meminta untuk berhenti, agar tidak lagi menahan diri dan berani mengklaim kelimpahan sebagai janji keadilan Ibu Bumi.

Percayalah Beliau selalu mengasihi dan tahu apa yang terbaik untuk anak-anakNya, terutama bagi yang setia berserah dalam tuntunan rencana-Nya. Saya jadi mengerti bahwa diperlukan ruang yang luas untuk menyimak dan mendengarkan.

Jutaan inspirasi dan jeda adalah cara untuk mengundang berkat alam. Kesabaran semata adalah waktu untuk merasakan puji syukur yang menghantar tahap kedua dari jurnal jiwa ini. Saya pun tidak lagi membicarakan pencerahan, tetapi merasakan mantapnya tercerahkan. Dan itulah yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini: to claim your light.

Penakluk Kegelapan

Manusia dilahirkan dengan dualitas, terang dan gelap akan selalu menjadi pendamping hingga akhir perjalanan kehidupan. Tentu Tuhan menciptakan hal ini untuk kebaikan, agar kita dapat terus belajar dan berkembang, sebagaimana hidup sejatinya adalah pergerakan.

Terang bisa diartikan dengan bakat, hidup yang berkelimpahan, keberuntungan, optimisme, dan sukacita. Sementara gelap adalah ketidakberdayaan, dendam, kekecewaan, sikap mengasihani diri sendiri, serta kehancuran. Kedua kekuatan ini bekerja tanpa henti untuk berebut kuasa atau dominasi dalam diri, hingga manusia harus selalu melibatkan peran Tuhan, dengan cara menjadi partner pencipta-Nya, alias co-creator di dunia.

Untuk itu saya membuat sebuah jurnal jiwa, yang juga dapat diikuti oleh teman-teman semua sebagai upaya dan langkah penyembuhan. Seperti yang telah saya sebutkan bahwa manusia lahir dengan konseskuensi dualitas, maka salah satu misi yang dibawanya adalah misi penyembuhan.

Entah itu penyembuhan luka batin yang diakibatkan oleh kebiasaan buruk serta trauma masa lalu (baik diri sendiri maupun orang lain), lingkungan, hingga planet bumi. Kelompok yang mengemban misi terakhir dikenal dengan sebutan Lightworker, atau Ksatria Cahaya. Mereka bergerak di berbagai lingkup kehidupan seperti politik, kesehatan, pendidikan, pertanian dan lain sebagainya, dengan cara mendobrak sistem lama dan memberi contoh untuk penciptaan sistem baru yang berbasis cahaya. Tentu sebelum melakukan penyembuhan skala besar ini, para Lightworker telah diuji terlebih dahulu melalui pengalaman hidupnya. Dan dengan mengetahui cara untuk bangkit, ia pun dapat menolong orang lain dan bumi dalam proses penyembuhan.

Jurnal jiwa ini sebenarnya berfungsi sebagai catatan transformasi yang juga dapat digunakan sebagai terapi, terutama untuk pelepasan jalur lama yang tidak lagi mendukung perkembangan jiwa. Melepaskan adalah cara membuka diri terhadap peluang baru, sehingga mengundang apa yang selayaknya menjadi realitas. Lalu apa saja yang dikerjakan dalam jurnal ini?

Pertama, sadari dan tuliskanlah sisi-sisi gelap dalam diri. Rasa kurang, benci, iri hati, pesimis, hingga sikap menghakimi. Tulislah dengan lapang dada sebagaimana kita ingin meletakkan masalah di atas meja, sebagai bentuk kesediaan untuk mengatasinya.

Tahap ini akan menjadi pelajaran penting bahwa semua persepsi buruk yang muncul tentang dunia sesungguhnya bersumber dari sisi gelap kita sendiri. Alasan mengapa seseorang dengan keras menghakimi orang lain misalnya, adalah bentuk rasa tidak aman, ketidakpuasan, dan kekecewaan.

Membedah sisi gelap diri bisa menjadi momentum yang sangat melegakan sekaligus menakutkan. Disini kita membutuhkan kekuatan doa sebagai pelebur, terutama untuk memaafkan diri sendiri dan orang lain. Kadang mungkin akan terasa sangat sulit untuk memaafkan, namun yakinlah bahwa dengan doa, kita dianugerahi kekuatan untuk mampu melakukannya.

“Berdoalah dengan percaya diri layaknya Ia orang paling dekat dalam hidupmu! Dia akan menoleh dalam sapaan pribadi yang dekat, bukan sikap layaknya budak.”

Pada akhirnya, proses ini bertujuan untuk membawa kedamaian dengan menerima sisi gelapmu. Jadikanlah ia sebagai alarm yang melindungi, kala pikiran gelap mencoba untuk menguasai. Pahamilah kehadiran dari entitas ini, dan biarkanlah ia melakukan tugasnya di bawah kendali kuasa cahaya.

Jadilah penakluk kegelapan.

Bersambung…

Sekolah di Indonesia

Meskipun cenderung tidak mementingkan pendidikan akademik, namun saya tetap menyelesaikan pendidikan di jenjang universitas dengan gelar sarjana ilmu komuniasi. Mengingat passion untuk mengajar sangat kuat, sebenarnya ada pemikiran untuk melanjutkan ke tingkat master, tetapi kata hati saya tidak bisa dibohongi. Cukup deh!

Cukup dengan kenyataan bahwa sistem pendidikan yang saya tempuh tidaklah supportive, baik itu dari segi materi pelajaran, cara penyampaian, hubungan guru-murid, sampai goals dari bersekolah yang melahirkan pertanyaan: aku ini mau dibawa kemana?

Sederhananya murid hanya perlu dibimbing untuk belajar secara mandiri dengan memaksimalkan bakat masing-masing. Seperti nasehat Gusdur pada putrinya Inayah Wahid, manusia hanya bisa menjadi jenius jika berada pada tempatnya. Atau Einsten yang berpendapat bahwa kita tidak dapat menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat.

Ini berarti guru tidak boleh men-general-kan murid untuk melahap kurikulum, tanpa mau tahu apakah hal tersebut nantinya akan berguna di masa depan atau tidak. Saya tidak sedang marah atau menyindir, tetapi kenyataannya dari puluhan guru yang pernah mengajari saya, hanya dua sampai tiga yang berkesan, dan itu karena dukungan secara mental yang telah membuat saya merasa berharga sebagai manusia yang sedang berkembang.

Intinya, sosok guru harusnya menjadi seorang mentor atau coach, yang mengarahkan bagaimana skill seseorang dapat dimanfaatkan. Ia perlu mengenal muridnya tidak sebatas kemampuan akademik, tetapi pribadinya, psikologinya, dan membangun strategi belajar yang efektif dan cukup spesifik untuk mengasah kemampuan terbaiknya.

Mengapa ini penting? Karena bagi saya bakat adalah takdir. Karena sekali lagi, saya percaya bahwa manusia adalah energi yang tidak pernah mati, dan di dalamnya terdapat DNA yang membawa, menyimpan, serta menyandi instruksi-instruksi genetika setiap organisme, sehingga apa yang menjadi kemahiran seseorang bukanlah sesuatu yang kebetulan, dan bisa dibangkitkan.

Lalu bagaimana caranya? Pertama, pangkas waktu belajar di sekolah. Atau lebih tepatnya pangkas waktu tatap muka sebagaimana pandemi telah mengajarkan kita untuk belajar secara mandiri. Bagi saya, belajar akan selalu menjadi sebuah ruang pribadi, sebab pemahaman tidak terletak di alam sadar, dan observasi adalah upaya yang didorong oleh keingintahuan.

Sementara guru yang berperan sebagai mentor memberikan referensi sebanyak-banyaknya, berupa buku apa saja yang harus dibaca, kegiatan tambahan apa yang perlu dilakukan, serta penerapan kebiasaan di rumah dan lingkungan yang mendukung teruwujudnya cita-cita (dan ritual!). Ini adalah cara belajar yang mengikutsertakan seluruh elemen kehidupan si murid, menemukan keterkaitan yang nyata sehingga keinginan lebih cepat diwujudkan.

Seorang tenaga pelajar tidak perlu selalu hadir dan menjabarkan detail pelajaran yang kemungkinan- akan diterjemahkan dengan lebih luwes dan segar oleh muridnya, dengan caranya sendiri. Guru menjadi pembimbing, pemantau, dan pendukung setia. Ia harus total meniru sikap Semar yang mengingat dan memomong generasi selanjutnya, menegaskan bahwa masa depan seseorang pada akhirnya berada di tangannya sendiri.

Dan di akhir paragraf, sebagai seorang Jnana Yogi, perlu disampaikan bahwa kebenaran sejati hanya berasal dari Sang Gusti, dengan mahakarya salah satunya berupa alam semesta ini. Dan semua pemikiran yang dihasilkan dari keingintahuan anak-anakNya, adalah jalan pendekatan diri dan cinta terhadap Beliau. Cinta yang terkadang membuat bingung, rasa ingin bergelud, dan menimbulkan jutaan pertanyaan di hati seperti yang tertuangkan dalam tulisan ini.

Tertanda, anak-Mu yang tidak pernah berhenti bermimpi.

Blessings in Disguise: Job Baru Saat Pandemi

Bagaikan petir di siang bolong, orang-orang yang tengah sibuk dengan rutinitas pekerjaan yang entah sebenarnya cukup berfaedah atau tidak, dipaksa mengunci rapat pintu dan berdiam dalam ketidakpastian.

Ditambah lagi suguhan bunyi dentuman yang menakutkan, alias kabar-kabar burung yang mengalir deras dari media online, hmmm lengkap sudah skenarionya…

Tapi lepas dari apakah berita yang beredar sepenuhnya benar atau tidak, saya jadi terbayang akan kisah Nabi Nuh yang ‘terkepung’ dalam kapalnya sendiri saat banjir besar. Bahkan untuk memastikan keadaan di luar, ia harus mengirimkan seekor burung untuk memantau keadaan. Yaah…  kurang lebih analoginya seperti kita sedang mendambakan jenis masakan tertentu di warung kesukaan, lalu memesannya lewat ojek online. Well, bisalah ya, mengingat burung pengantar surat impian ala Harry Potter ini kerjaannya sudah diinvasi oleh zaman, dan digantikan tukang pos sekarang.

Tetapi seiring dengan waktu, kita pun jadi terbiasa dan menemukan sejumlah rutinitas baru, seperti misalnya menjadi ‘pengatur strategi jalan-jalan yang handal setelah pandemi berakhir’. Rencana ini bisa jadi aktivitas jelajah alam, seperti yang banyak dikicaukan di Facebook komunitas bule yang menetap di Bali: ‘do you know any beach that is open?’ Atau komunitas pendaki gunung: ‘Min, ada info gunung yang sudah dibuka?’ Rata-rata kicauan seperti itu disambut dengan hujatan yang lebih keras daripada tawuran betulan. Well, faktanya sosial media bisa jadi wadah bagi orang-orang yang tidak tahu cara untuk mengekspresikan kemarahan, kekecewaan, atau bahkan cinta dan kasih sayang di dunia nyata. Alhasil, di sosmed bisa lebih galak daripada aslinya! Tapi enggak apa-apalah, setidaknya kita tahu kalau kata-kata bisa menjadi senjata perpecahan atau juga inspirasi yang menenangkan.

Kembali lagi ke penemuan bakat terpendam saat pandemi, salah satu yang berharga adalah feel ibu rumah tangga yang kembali membara. Bisa dibilang ini sepenuhnya blessings in disguise bagi ibu-ibu sekalian (dengan catatan kerjaan suami lancar jaya) karena akhirnya memiliki waktu luang untuk baking kue idaman!
Ini bukan sarkas lho ya, tapi mengingat banyaknya wanita karir yang tahu porsinya untuk berekspresi dalam karir, saat seperti ini menjadi kesempatan untuk menggali kreativitas. Menariknya fenomena ini juga mewabah hingga para pelajar, mahasiswa, dan jomblowati yang serbasalah, sebab mereka harus melakukan beragam pekerjaan rumah tangga tanpa suami.

Dan satu yang terakhir adalah kreativitas yang patut dibanggakan, dimana semua kini berlomba-lomba menjadi kreator. Oh Bukan, bukan soal konten youtube, blog, podcast, atau TikTok, tetapi usaha-usaha yang lahir dengan penawaran hasil kreasi sendiri, yang tentu saja pantas diperjualbelikan!
Akhirnya, apa yang selama ini dibeli, dibuat.
Apa yang selama ini dibayangkan untuk dibuat, direalisasikan.
Apa yang selama ini malu-malu untuk diperkenalkan, dipasarkan juga!

Sungguh fantastis mengetahui pikiran kalian terus bekerja bak professor yang tengah melakukan penelitian, sekaligus bahwa kebutuhan rebahan yang selalu terpenuhi.

Ya sudah deh, kalau ditanya kapan pandemi ini akan berakhir, jawabannya adalah segera setelah kalian menyadari betapa kalian menikmati pandemi ini.