Cahaya Yang Memudar

Aku merasa bagai tiang yang runtuh. Hancur menjadi serpihan yang diterbangkan oleh sejuknya angin menjelang musim kemarau.
Waktu itu, tepat di pohon ini, tak ada seorangpun yang melihat, terkecuali bayang-bayang indah bagai lukisan di sore hari.

Aku mendengar janji-janji para petinggi yang luntur wibawanya oleh harta duniawi. Seiring dengan itu, muncul pertanda diawalinya zaman Kalabendu ini. Tak kuasa menolak takdir Sang Maha Agung, dan untuk merenung bahwa Beliaulah yang akan menjaga serta mengembalikan kewibawaan kita nanti. Maka aku menangis, semoga kiranya airmataku menjadi minuman untuk kehidupan yang panjang dan anggun.

Dapat kulihat reruntuhan daun-daun yang layu serta tumbuhnya tunas-tunas baru. Kiranya Beliau Yang Maha Meliputi mengabulkan doaku, doa alam semesta ini. Setelah itu aku harus beranjak ke dunia yang lain, sebab dunia ini bukan lagi tempatku. Bersama ingatan berupa kebenaran, suatu saat meskipun jalan untuk mengalahkan angkara murka tersedia dalam beragam bentuk dan cerita, hanya akan ada satu kebenaran, tempat dimana kita bertemu dan meluapkan perasaan yang bercampur aduk ini!

Kukatakan padamu, apa yang membuat kita manusia, yang membuat kita dapat bercengkrama dengan alam, adalah perasaan yang kita miliki. Maka itu janganlah mengabaikan perasaan ini, sebab itulah penanda bahwa kita adalah anak-anak Sang Hyang Taya, kesunyataan yang mendengungkan rindu.

Jika suara ini mematahkan keinginan-keingananmu, dan tak sekalipun dapat menggoyahkan keteguhan hatimu, maka kesunyataan adalah jalanmu.

Berjalanlah bersama angkara murka, biarlah ia tetap hidup sebagai teman kewaspadaan. Sampai saatnya ia mengucapkan selamat tinggal, dengan kehormatan, meleburlah dunia yang lama.

Cinderamata

Tak ada manusia yang dapat bersikap adil. Keadilan senantiasa menjadi milik Alam, Tuhan yang Maha Agung itu sendiri.
Alam tidak berpihak pada apa dan siapapun,  namun secara berkala melakukan seleksi untuk menegakkan keadilan, melahirkan keseimbangan.
Semoga kita senantiasa ‘selamat’ dan selaras dengan Sang Ratu Adil.

Seperti yang sudah dimengerti bahwa tak ada bentuk pemikiran yang mampu menghasilkan keadilan, melainkan hanya sebagai penyeimbang oleh kosmos melalui manusia atau wujud alam lainnya; maka catatan-catatan yang ditulis, serta bangunan-bangunan yang ditinggalkan adalah referensi jejak kesadaran.

Coba lihat! Kemegahan dan relief candi bukan sepenuhnya mengenai estetika dan sebuah cerita masa lampau. Alasan yang ada dibalik pembangunannya, pemikiran megah yang hanya mampu mewujudkan satu persen dari apa yang dilihat.

Kini ia berdiri sebagai jejak kesadaran yang melampaui ruang dan waktu, mengguncah rasa di titik sanubari, menjadi sebuah cenderamata tentang kesadaran yang pernah dan telah tercapai.

Begitupun dengan kitab-kitab yang ditulis dengan hati-hati dan tanpa nama. Bukan sepenggal catatan kaku tentang apa yang sudah terjadi, untuk dipelajari dengan pikiran dan filosofi yang rumit. Tetapi kisah-kisah tentang anak manusia dengan serangkaian kemungkinan, pengulangan, dan ikatan yang mendorong untuk berpetualang.

Gunakan bekalmu sebagai asupan yang cukup, untuk menciptakan kisahmu sebagai cinderemata yang indah!

Lalu berlarilah, pergi ke tempat yang lebih tinggi dan turunlah sesekali. Bertemu kangen dengan sahabat dan saudara-saudaramu, berbagi inspirasi dan menyemangati mereka.
Sebarkan lebih banyak jejak di dunia- dengan cara menyentuh hati manusia dengan cinta, cinta!

Manunggaling Kawula Gusti

Masyarakat Jawa pasti tidak asing dengan istilah Manunggaling Kawula Gusti, yang berarti menyatu dengan Gusti. Ajaran yang naluriah ini hidup dengan alami, sebelum berkembangnya sistem dan ragam agama yang dikenal saat ini.

Pada masa tersebut, istilah agama tidak dimaknai seperti sekarang, apalagi sebagai label yang kental dengan budaya tertentu. Agama adalah hasil interaksi yang tak terputus- sebuah pemahaman yang mendalam terhadap Alam, upaya yang tak berkesudahan.

Untuk itu kita mendengar bahwa leluhur Nusantara meyakini ajaran animisme dan dinamisme, sebuah pendekatan terhadap jalur-jalur indah planet ini- serangkaian pengetahuan tentang alam semesta yang menuntun manusia pada kecerdasan.

Selain bersifat pribadi, agama memiliki nuansa kalem, rendah hati, mendalam dan penuh makna/ filosofis. Juga ditekankan nilai-nilai feminim seperti pemeliharaan dan cinta kasih yang sangat dominan, oleh karena kedekatannya dengan Ibu Pertiwi.

Animisme sendiri mempelajari tentang jiwa, yakni cara mengolah jiwa, mengembangkan kepribadian yang luhur, serta memahami sifat jiwa yang abadi. Sementara dinamisme mempelajari bahwa alam ini adalah lautan energi, daya hidup yang mengalir dan menggerakkan kehidupan.

Pupuh Dangdanggula

(mengekspresikan ketentraman, keagungan, dan kegembiraan)

Sakehing kan dumadi makardi
Lir Hyang Widhi kan tansah makarya
Nguribi jagad tan leren
Surya, candra lan bayu
Bhumi tirta kalawan agni
Paparing panguripan
Mring pamrih wus mungkur
Anane nuhoni dharma
Iku dadya “sastra cetha” tanpa tulis
Nulat lakuning alam

Segala sesuatu yang mengada, bekerja
Bahkan Tuhan pun bekerja
Menghidupi dunia ini tanpa henti
Matahari, bulan, angin,
Bumi, air, dan api, semua bekerja demi kelangsungan hidup, tanpa pamrih.
Dasarnya hanyalah merasa wajib.
Alam adalah “ilmu nyata” yang tak tertulis
Kita wajib meniru dharma bhakti alam ini.

Avalokitesvara dan Ramadhan

Sambungan dari tulisan Samadhi

Kami berjalan tanpa henti untuk menghindari kebekuan udara. Pemandangan fantastis rumah pemukiman menyala indah,
membuat kami sesekali berhenti mencuri pandang dan melayangkan senyum ke jagad raya.

“Apakah pada saatnya nanti kita akan mewartakan berita ini, lalu pergi meninggalkan semuanya sesuai tradisi?” Tanyaku bersemangat, seolah hutan yang sebelumnya kulewati telah melengkapkan inisiasiku yang panjang.

“Oh! Amatlah disayangkan jika betul kamu ingin segera mengakhirinya. Lihat dirimu, kini berada sangat dekat dengan bintang-bintang. Apakah kamu hanya ingin meninggalkan cerita bagi orang-orang yang tertidur lelap, dibalik atap rumah yang memancarkan cahaya indah dari atas?”

Ia mengarahkan pandangan ke bawah, sebuah dunia yang penuh kecerdasan dan akan menentukan wajah bumi masa depan. Aku mengerti dan tersenyum bagaikan bulan sabit yang memancarkan harapan. Hari itu tepat memasuki bulan Ramadhan, bulan yang membuktikan bahwa ada kesejukan dalam beragama.

“Bagaimana aku dapat membangun jembatan diantara dua dunia? Sementara aku sendiri bergelut setiap hari dengannya.”

“Oh! Tak ada seorangpun yang dapat menolong atau mengulurkan tangan, itu akan mengakibatkan ketidakluwesan dan ketidakseimbangan yang destruktif.”

“Lihat dirimu! Kini cukup memiliki kekuatan untuk menciptakan lingkungan dimana mereka akan tumbuh dalam keanggunan… hingga pengetahuan tentang kesejatian bermekaran bagai musim yang tak dapat dihindar.”

Aku mengingat-ngingat teman, sahabat, dan saudaraku yang sedang tertidur. Sekumpulan jiwa yang selalu bersama-sama denganku melampaui dimensi waktu; saling menyapa di berbagai bentuk kehidupan, mendukung pertumbuhan satu sama lainnya.

Lalu, siapakah kamu? Mengapa dirimu tak seperti jiwa-jiwa yang lain? Mengapa dirimu mengetahui sangat banyak hal dan hadir di saat yang tepat? Aku hanya dapat mengenalimu melalui suara saja.

“Jika tidak dapat membangun jembatan, maka hiduplah seperti jembatan,” katamu.

“Itu adalah mimpi yang sangat liar.”

“Menjadi jembatan berarti memiliki sikap welas asih dan tidak menghakimi. Itu adalah keliaran yang mulia.”

“Sekarang sudah ramadhan,” kataku

“Iya.”

“Kamu telah berpuasa sepanjang hidupmu. Itu pilihan yang tepat, yang akan mengokohkan jalanmu yang luarbiasa.

“Tentukanlah harapanmu dari sekarang, kita akan menyampaikannya dengan lantang saat tiba di puncak.”

Ia mengisyaratkanku untuk melanjutkan perjalanan, seraya berjalan menjauhiku menuju dunia atas. Sebelumnya, aku menyempatkan diri untuk menatap cahaya-cahaya indah dari bawah, yang memberikan kekaguman yang dirindukan oleh para pejalan, yang melakukan hal yang sama sebelum giliranku.

Di dalam hati, aku telah mengutarakan doaku dan menggengamnya dengan erat: Aku ingin hadir sepenuhnya di masa depan dan melakukannya lagi bersama kalian.

Samadhi

Tatapanku terpaku pada barisan pohon yang tinggi dan berlatar kegelapan. Seketika pikiranku menjadi liar, kubayangkan makhluk menyeramkan yang bergelantungan di rantingnya, dan binatang buas yang tinggal di baliknya.

“Jangan termenung, kita suka mengisi ketidaktahuan dengan ketakutan, menciptakan tindakan-tindakan yang menyesatkan.”

Kata-katanya membuyarkan pikiranku yang sejenak lupa akan apa yang harusnya kulakukan.

“Berjalanlah dengan ringan, semua ini sudah tampak seperti apa adanya.”

Aku kembali melangkah sambil memandang ke tanah, menyatukan kembali kesadaran, hingga akhirnya kutanyakan sesuatu yang selama ini membuatku heran:

“Jika memang begitu, mengapa hutan di malam hari terasa begitu mencekam? Membuat bulu kuduk berdiri seolah ada banyak makhluk yang berlintasan.”

“Ada banyak macam energi, tidak hanya di hutan, tapi di seluruh bagian planet ini. Dengan begitu juga ada banyak macam kehidupan dengan tujuannya masing-masing. Sama seperti kita yang berjalan melintasi hutan ini. Jangan termenung dan membiarkan energi lain mengisimu dengan tujuannya, ingat tujuanmu sendiri.”

Tak ada bulan di langit, malam ini adalah malam Siwa, bersamaan dengan hari Rabu yang dalam bahasa Sansekerta berarti Buddha. Pohon yang rimbun menutupi bintang-bintang, sementara kabut membuat jarak pandang kian menyempit.

“Apa kamu merasa sesak?”
“Ya.”
“Ayo beristirahat.”

Kami duduk di atas akar pohon besar dan kuat yang tumbuh melintasi jalur pejalan. Di baliknya, terdengar suara yang kuyakini sebagai babi hutan yang memang sering melintas mendekati manusia yang membawa bekal makanan.

“Bagaimana pada masanya, Siwa dan Budha menyatu?” Tanyaku.

“Dengan melihat roh yang sama untuk ditempa melalui jalur yang berbeda. Sebuah destinasi agung yang ditelusuri dengan kebebasan untuk mewujudkan takdir masing-masing.”

“Apakah kita memang terlahir demikian, dengan bakat tertentu?”

“Tentu, bakat dan tujuan istimewa. Keragaman sangat membantu untuk mencapai fungsi maksimal, sebuah peran unik yang tak tergantikan.”

“Bagaimana kita dapat mencapai titik keseimbangan itu?”

“Samadhi.”

Tak ada seorangpun yang mengucapkan kata itu sesempurna dirinya. Seolah ucapannya itu sendiri adalah gerbang menuju samadhi.

“Entah bumi sedang bergoncang atau diam dalam kesenyapan, kesadaran selalu ada, bebas menentukan pilihan. Kondisi yang penuh kemawasan diri ini tidak membutuhkan alasan.”

“Ayo, kita harus berjalan menuju ketinggian, ada banyak hal yang sayang dilewatkan.”

Kini perjalanan terasa lebih ringan, sementara kabut perlahan memudar dan memberi keleluasaan untuk bernafas. Tak lama hutan rimbun pun terlewati, digantingan oleh jalan menanjak yang memperlihatkan keindahan bintang-bintang.

Tilem Kedasa

Malam telah tiba, kami memutuskan untuk masuk ke dalam gua, membuka lembaran kertas sebuah buku yang telah menghibur kami selama ini. Membacanya dengan khidmat, seperti biasa.

Nyala lampu minyak membuat wajahnya bercahaya, berwarna kuning. Aneh, aku seperti melihat wajahku sendiri disana. Bukan secara fisik, tetapi ada pada ingatan.

Kami membaca bait dari Pupuh Sinom, karya sastra anonim yang seharusnya dilagukan. Tetapi juga seperti biasa, kami membaca setiap baitnya dengan pelan dan lemah, seolah kata-kata itu dapat mengisi kekosongan yang panjang saat ini.

“Apa kamu tahu mengapa penulisnya tidak mencantumkan namanya?”

Aku menggeleng, bukan karena sepenuhnya tidak tahu, tetapi lelah untuk menerka.

“Karena karya sastra yang besar adalah milik bersama.”

“Ada saatnya ilmu padi kembali bersemi melalui Manusia Jawa,” ia melanjutkan.

Aku masih diam.

“Apa kamu merasa bosan? Ayo kita keluar melihat bintang-bintang.”

Aku mengangkat wajah dan memandang lurus ke kegelapan.

“Tidak. Dari sudut manapun tempat ini begitu indah. Namun sama seperti kebanyakan manusia, kita tidak terikat dengan tempat, melainkan pada jiwa  yang mengingatkan pada siapa diri kita.”

“Manusia adalah makhluk yg luarbiasa… Tidakkah begitu?”

Kini dirimu yang terdiam. Apakah sebabnya adalah dirimu bukan manusia?

“Menurutmu apakah Tuhan dapat kita resapi sebagai sebuah pribadi?”

Dengan datar ia menjawab:

“Jika memang manusia dianggap memiliki citra diriNya, maka mengapa tidak demikian?”

“Bisa jadi, itu justru menjadi cara yang rendah hati dalam memandang kehidupan. Aku sungguh menyukai ide itu, dimana tidak ada sekat antara derita dan kebahagiaan.”

Aku memerhatikan lampu minyak yang mengeluarkan asap tipis hitam, yang berbaur dengan udara dab menempel di kulitku.

“Ayo kita keluar,” kataku.

Ia mengangguk kecil seraya memintaku untuk mematikan api.

“Cahaya mengundang banyak makhluk, lagipula kita ingin melihat bintang-bintang kan?”

Kutiup apinya, digantikan asap putih pendek yang mengahadirkan kegelapan yang mencekam.

Pupuh Sinom

Jenek ring meru sarira
Kastiti Hyang Maha suci
Mapuspa padma hredaya
Magenta swaraning sepi
Maganda ya tisnis budi
Malepana sila rahayu
Mawija menget prakasa
Kukusing sad ripu dagdidupan ipun
Madipa hidepe galang

Gunakanlah tubuh ini sebagai tempat suci, 
yang disadari oleh bathin yang suci
Bunganya adalah bunga padma
Gentanya adalah keheningan bathin
Gandanya adalah kesabaran dan welas asih tanpa syarat
Lepananya adalah tingkah laku yang indah.
Bijanya adalah bathin yang tegar dan kokoh
Dengan demikian, lenyapnya seluruh kegelapan bathin
Kini bathinnya laksana cahaya terang benderang.

Dengarkanlah Pohon Berbicara

Dengarkanlah pohon berbicara

Maka dirimu akan mengerti bahwa isu yang menakuti saat ini adalah momentum supaya manusia dapat menghargai entitas yg lebih kecil: pada semut-semut, nyamuk, cacing, bakteri, makhluk lain yg berkesadaran lebih rendah.

Dengarkanlah pohon berbicara

Supaya dirimu tidak bertindak semena-mena dan menyakiti mereka, karena yang melakukan itu tidak lebih mulia darinya.

Dengarkanlah pohon yang diam, dan membiarkan daun serta ranting-rantingnya bergoyang mengikuti semilir angin yang sejuk….

Bahwa selama ini, makhluk-makhluk yang dikira lebih rendah, telah melaksanakan tugas dan berdoa dengan sempurna, membuat alam ini senang.

Dengarkanlah pohon-pohon yang menjulang tinggi dan mengakar pada kedalaman tanah, menyaksikan beragam macam kehidupan dan keindahan…

Bahwa semenjak dahulu kala, manusia menghadapi problema serta pilihan yang sama, cenderung mengulangi kesalahan yang sama; hingga tiba saatnya dunia ini tidak berdaya, dan kesenanganmu dilenyapkan.

Bersukacitalah bagi yang telah bergerak bersama cahaya, karena kita sedang berjalan dalam keabadian.