The Purpose Of Yoga (2)

“Prostating first to the guru, Yogi Swatmarama instructs the knowledge of hatha yoga only for the highest state of yoga (raja yoga).” ~ Hatha Yoga Pradipika, Chapter 1, Verse 2

Sujud pada Sang Guru (Sri Adinath), Yogi Swatmarama menginstruksikan pengetahuan hatha yoga sebagai jalan mencapai raja yoga.

Dengan memberikan penghormatan pada guru sebagai awal, Yogi Swatmarama menegaskan bahwa dirinya hanya berfungsi sebagai alat transmisi bagi pengetahuan yang akan diberikan. Hatha yoga saat ini banyak digunakan sebagai sarana pemulihan kesehatan, juga untuk memperkuat dan memperindah tubuh- sesuatu yang sebenarnya pasti didapat sebagai ‘efek samping’ latihan. Juga menjadi kebutuhan untuk membantu banyak orang, karena sains tidak mampu memberi jawaban yang mengakar terutama yang berhubungan dengan kesehatan mental. Namun sebagai yogi, kita tidak melihatnya dengan sepintas, lalu menjadikan ini sebagai tujuan utama.

Kita tahu bahwa kesehatan tubuh dan mental saja tidak pernah cukup, sebab setiap orang adalah makhluk spiritual yang tidak berhenti di titik tertentu- tetapi berevolusi dan sepatutnya mengalami kebangkitan. Artinya yoga tidak hadir sebagai pengetahuan kuno yang menjawab problematika manusia di satu musim saja, tetapi di setiap musim dengan setiap tantangannya. Kita tidak dianjurkan untuk berhenti setelah mencapai kesehatan tubuh fisik, melainkan dituntut untuk terbebaskan darinya, serta melampaui aspek-aspeknya yang menjadi sumber kemelekatan dan penderitaan.

Dengan teknik pelatihan hatha yoga, potensi pada tubuh dan mental seseorang akan meningkat secara signifikan. Diketahui bahwa otak manusia secara umum hanya digunakan sepersepuluh dari keseluruhan kapasitasnya, sementara lainnya tertidur, dan sains menyebutnya ‘silent area’. Sangat sedikit yang diketahui tentang area yang tertidur ini, namun sejumlah neurologis mengutarakan bahwa ini berhubungan dengan potensi supranatural.

Setelah latihan yang sulit dan panjang, potensi ini akan termanifestasi biasanya dalam wujud clairvoyance, clairaudience, clairsentience, telepati, telekinesis, psychic healing, dan lainnya. Wujud potensi inilah yang disebut siddhis. Sejumlah orang menganggapnya sebagai pencapaian yang besar, namun sebaliknya, ini hanyalah efek samping dan justru dapat menghambat perkembangan spiritual. Karena pada dasarnya tujuan latihan spiritual adalah untuk menemukan dan merasakan spirit universal di dalam diri.

Sebagaimanapun hebatnya perubahan dan buah-buah yang didapatkan, ingatlah bahwa manfaat terapetik, pencapaian duniawi, hingga kekuatan psikis bukanlah alasan dan tujuan hatha yoga yang diajarkan selama ribuan tahun. Dan barangsiapa yang melakukan yoga untuk tujuan-tujuan tersebut, tidak akan pernah berhasil menemukan kebebasan, dan tersesat dalam fluktuasi sensasi dan keinginan yang datang silih berganti.

HYP, Chapter 1, Verse 3

The Highest state of raja yoga is unknown due to misconceptions (darkness) created by varying ideas and concepts. In good will and as a blessing, Swatmarama offers light on hatha yoga.

Puncak dari raja yoga tidak diketahui oleh karena kesalahpahaman dari berbagai gagasan dan konsep. Untuk itu dengan berkat dan tujuan yang baik, Swatmarama menghadirkan pencerahan dalam hatha yoga.

Pencapaian tertinggi dari keseluruhan latihan spiritual adalah kaivalya, yang juga merupakan titik puncak dari raja yoga. Dalam  penggalan syair di atas, Swatmarama-  sebagai yang telah tercerahkan, dengan rendah hati memberi instruksi hatha yoga yang sistematis dan lebih mudah bagi kebanyakan orang.

The Purpose Of Yoga

Beberapa abad setelah Buddha, Patanjali, Mahavir (penemu sekte Jain), hingga Yesus Kristus, era yang kini disebut post classical yoga pun dimulai. Hal ini ditandai dengan munculnya teks-teks seperti Goraksha Samhita, Gheranda Samhita, Hatha Yoga Pradipika, hingga Hatharatnavali pada abad ke-6 hingga 15 masehi.

Dalam rentang waktu tersebut para yogis menyusun sistem yang bertolak belakang dengan ajaran klasik Veda- didesain untuk meremajakan tubuh dan memperpanjang kehidupan (alchemy). Ajaran ini adalah perkembangan dari tantra, yaitu hatha yoga yang menawarkan teknik untuk membersihkan tubuh dan pikiran sebagai sumber kemelekatan pada dunia.

Ini menjadi jawaban dari para yogi seperti Goraknath dan Matsyendranath, yang menemukan bahwa seiring dengan waktu, inti terpenting dari ajaran yoga telah dilupakan, dan bahkan disalahartikan. Untuk itu mereka memisahkan hatha yoga dengan praktik raja yoga yang masih merupakan lingkup dari ajaran tantra, terutama bagian ritual-ritualnya.

Mereka merasa perlu untuk memberikan ajaran yang jelas dan sistematis, sebagai persiapan menuju jalur meditasi. Sehingga disimpulkan bahwa tema utama dari hatha yoga adalah sebagai gerbang untuk memandu seorang praktisi agar dapat memahami meditasi, dan berhasil melaluinya.

Perbedaan Yoga Dan Hatha Yoga

Ketika tubuh dibersihkan dari kekeruhan, jalur energi akan berfungsi maksimal, sementara jalur yang terblokir menjadi terbuka. Energi pun mengalir seperti gelombang frekuensi melalui jalur-jalur pada struktur tubuh fisik menuju otak. Oleh karena itu hatha yoga dianggap sebagai awal dari latihan tantra, raja yoga, kundalini, dan kriya yoga.

Terdiri dari dua bija mantra, ha berarti prana shakti atau energi, dan tha berarti manas shakti, yaitu pikiran. Setiap benda di semesta, mulai dari atom yang terkecil hingga bintang-bintang yang sangat besar, tersusun dari kedua shakti ini. Sebab hanya dengan interaksi dari keduanyalah, penciptaan atau kreasi dapat terjadi.

Pada dasarnya kepadatan adalah bentuk kasar dari energi, sehingga melalui latihan yoga terjadi proses transmutasi pada elemen fisik untuk kembali pada kemurniannya. Hal ini tidak hanya terjadi pada manusia, bahkan benda mati pun turut melalui proses ini.

Perbedaannya, manusia dapat mempercepat proses evolusi itu melalui latihan spiritual, dimana terdapat tiga nadis mayor pada tulang punggung manusia yang sangat berpengaruh pada proses kebangkitan, yaitu ida, pinggala, dan sushumna.

Nadi berarti saluran energi, dimana ida nadi adalah aliran yang bersifat negatif, pingala nadi adalah aliran positif, dan sushumna adalah energi spiritual yang bersifat netral. Jika dua energi yang bertolak belakang bertemu di jalur sushumna, maka terjadilah hal luarbiasa yang mengarahkannya mengalir menuju pusatnya, yakni ajna chakra. Dan secara literal inilah yang disebut hatha yoga.

Ketika terjadi reuni dari ketiganya pada ajna chakra, maka akan terjadi kebangkitan secara instan pada mooladhara chakra, yang merupakan kedudukan dari energi utama, kundalini shakti. Dan ketika kebangkitan kundalini ini terjadi, maka ia akan naik ke alam yang lebih tinggi dan duduk pada sahasrara chakra. Dan inilah yang disebut yoga, pertemuan antara kesadaran Shiva dengan kekuatan Shakti.

Secara berurutan aktivasi yang harus dicapai adalah pengaktifan chakra, sushumna, dan kundalini. Sistematika kebangkitan ini menjadikan praktisi memiliki pikiran yang terbuka, terarah, dan dipenuhi buah-buah pengetahuan spiritual.

Pineal Gland

“The eye is the lamp of the body. So, if your eye is healthy, your whole body will be full of light.” ~ (Matthew 6:22). Yogananda said this refers to a “third eye” that becomes visible during deep meditation, appearing in the middle of the forehead. This is a doorway into the presence of God.

Di bagian tertentu pada otak kita, terdapat sebuah kelenjar berbentuk seperti biji pinus, yang banyak dibicarakan oleh tradisi-tradisi mistik dunia. Pada dasarnya kelenjar ini adalah portal antara dunia fisik dan spiritual. Ketika diaktifkan, terdapat sensasi kebersatuan yang memenuhi pikiran, dan memberi rasa pengetahuan akan segala hal.

Ini sesuai dengan sebutan yang digunakan oleh tradisi yoga pada area ini, yaitu ajna chakra yang berarti ‘command’, atau ‘to know, to obey, or to follow’, atau ‘the monitoring centre’, hingga julukan seperti ‘the guru chakra‘ dan ‘the eye of intuition‘.

Ajna adalah jembatan yang menghubungkan seorang praktisi yoga dengan para guru atau ascended masters yang menaungi dan melindungi bidang tertentu yang dikuasai. Disinilah seorang yogi berkomunikasi dengan higher self-nya, yang dijangkau melalui meditasi yang dalam, saat ia tenggelam dalam kekosongan yang disebut shoonya.

Kondisi ini adalah kelenyapan akan segala hal- ketika nama, bentuk, subjek, objek, dan produk-produk yang dihasilkan oleh sensasi inderawi lainnya menjadi padam. Pikiran dan kesadaran berhenti berfungsi, serta tak ada ego yang tertinggal.

Di India, ajna chakra disebut dengan divya chaksu atau the divine eye, juga jnana chaksu atau the eye of knowledge. Sebabnya disinilah seseorang mendapatkan wahyu, penglihatan, dan eksistensi dari dunia lain. Dan selayaknya Siwa sebagai lambang meditasi, sebutan the eye of Shiva pun melekat pada mata yang melihat ke dalam ini.

Ketika Ajna bangkit, budi manusia terjernihkan. Pikiran, ucapan, dan perbuatannya menjadi selaras, sebabnya ia telah terbebaskan dari ilusi. Nalurinya tajam, kemampuan dalam segala hal meningkat. Ia hidup dalam kenyataan dan mampu mengatasi masalah kehidupan. Inilah hasil latihan, disiplin, dan kegigihan manusia yang setia dalam jalan kebenaran; entah itu melalui jalan karma, bhakti, jnana, atau raja yoga.

Blessings From Shiva

A potrait of a Chinese woman, 2018.

Pertama kali aku memiliki ketertarikan pada Siwa adalah di tahun 2017, saat menjalani training filosofi yoga dengan seorang pengajar berlatar ilmu teologi- yang juga mantan biksu di India beraliran Siwaisme. Beliau memberikan selentingan tentang indahnya ajaran tantra, yakni untuk melihat segala sesuatu, bahkan yang bersifat kontradiktif sebagai wujud dari Siwa. Betapa menarik dan sederhana!

Aku pun mulai mempelajari konsep siwa dan sakti, hingga rutinitas mengalihkan perhatian. Dan di awal tahun 2018, aku memutuskan untuk melakukan training di daerah India Utara, sembari merasakan spirit Siwa yang nyata. Kudapati betapa atmosfer pegunungan himalaya dan sungai gangga seketika memperlihatkan spiritualitas yang terletak bukan pada tradisi dan ritual, melainkan sebagai anugerah yang tidak dapat dihindarkan. Semenjak itu Siwa beranjak dari sebuah romansa spiritual menjadi dimensi kesadaran…

Siwa lalu memunculkan ketertarikanku pada sejarah Nusantara, dan membuatku hanyut di dalammya selama tiga bulan penuh pada pertengahan tahun 2018. Itulah yang mendorongku untuk menjelajah dan merasakan getaran Pulau Jawa, terutama kehidupan gunung-gunungnya yang eksotis!

Dan kini baru saja kusadari, tatkala sebuah gambar patung Adiyogi muncul di layar ponsel, bahwa rentetan perjalanan yang berhubungan dengan Siwa adalah jawaban-Nya terhadap pencarianku di jalan yoga. Siwa Sang Adiyogi telah memperlihatkan perannya yang tak terganti sebagai yogi yang pertama, juga sebagai Sang Adiguru, yakni satu-satunya guru yang dapat melimpahkan benih pengetahuan yoga dalam kesadaran umat manusia… Kuharap, terang senantiasa menuntunku tuk menyerapnya.

Adiyogi: The Source Of Yoga, Oleh Sadghuru

Dalam tradisi yoga, Shiva bukan dikenal sebagai Tuhan, melainkan yogi yang pertama- pencipta dari yoga. Dia adalah yang pertama menanamkan benih yoga ke dalam pikiran manusia. Berdasarkan ilmu ini, lebih dari lima belas ribu tahun yang lalu, Shiva mengalami tarian estatik yang intens, dan ketika tarian itu menghasilkan sejumlah gerakan, sekejap ia pun menjadi sepenuhnya diam.

Orang-orang melihatnya mengalami sesuatu yang benar-benar asing, sesuatu yang tak dapat dimengerti, menimbulkan ketertarikan dan keingintahuan. Mereka pun datang dan menunggui Shiva, namun pada akhirnya beranjak pergi sebab Sang Yogi samasekali tak mengindahkan mereka.

Hingga tersisa tujuh orang yang memilih tinggal.

Ketujuh orang ini bersikeras bahwa mereka harus belajar dari Sang Yogi, namun Shiva tetap bersikukuh untuk tidak memerhatikan. Mereka lalu meminta dan memohon: ‘Tolong, kami ingin tahu apa yang kamu ketahui.’ Shiva dengan segera membubarkan mereka dan berkata, “Kalian ini bodoh. Dengan cara seperti ini, kalian tidak akan pernah tahu bahkan dalam jutaan tahun. Ada sangat banyak persiapan yang dibutuhkan, ini bukanlah sebuah pertunjukan.”

Namun mereka tidaklah menyerah. Mereka memulai latihan persipaan itu selama tahun demi tahun, sampai pada hari purnama setelah 84 tahun latihan- tepatnya di saat titik balik matahari beranjak ke musim dingin (dalam tradisi dikenal dengan Dakshinayana), Sang Adiyogi akhirnya melihat ke arah tujuh orang ini, dan mendapati mereka telah berubah menjadi wadah pengetahuan yang bersinar. Mereka dianggap sepenuhnya matang untuk menerima (pengetahuan selanjutnya), sehingga Shiva pun tak dapat mengindahkan mereka lagi.

Beliau menyaksikan mereka dengan seksama selama beberapa hari, dan kala purnama berikutnya tiba, Sang Adiyogi memutuskan untuk menjadi Guru. Ia bertransformasi menjadi Adi Guru; Sang Guru Pertama yang lahir pada saat yang kini dikenal sebagai hari Guru Purnima.

Di tepi danau Kanti Sarovar yang terletak beberapa kilometer di atas Kedarnath, Ia berbelok ke arah Selatan untuk melimpahkan rahmatnya pada umat manusia, dan transmisi pengetahuan yoga pada ketujuh murid ini dimulai. Ilmu sejati yoga tidak seperti yang diketahui di dalam kelas dimana orang-oranh menekuk tubuh mereka- sesuatu yang sudah dilakukan oleh bayi, atau bagaimana cara menahan nafas, yang telah diketahui oleh anak yang belum dilahirkan. Ini adalah ilmu untuk memahami mekanisme dari keseluruhan tubuh manusia.

Setelah beberapa tahun ketika transmisi itu selesai, diturunkanlah tujuh orang suci, Saptarishis, yang kini dipuja dan dirayakan dalam tradisi India. Shiva telah meletakkan aspek-aspek yoga yang berbeda kepada tujuh murid ini, sebagai dasar dari yoga.
Mereka dikirm ke tujuh arah penjuru dunia untuk membawa dimensi dimana manusia dapat berkembang melampaui batasan.

Mereka adalah bagian dari tubuh Shiva, yang membagikan anugerahkan pengetahuan dan teknologi ke seluruh dunia, agar manusia dapat hidup di saat ini juga dengan kualitas Sang Pencipta.

Sang Adiyogi membawa kemungkinan bahwa manusia tidak perlu harus dijelaskan melalui batasan-batasan yang ditetapkan oleh spesies kita. Ada cara untuk menjadi penuh secara fisik, dan untuk tinggal di dalam tubuh tanpa pernah menjadi tubuh itu sendiri. Ada cara untuk menggunakan pikiran pada level yang tertinggi namun tetap tidak pernah mengetahui derita yang dapat diakibatkannya.

Pada dimensi manapun, kita selalu dapat melampuinya- sebab selalu ada cara lain untuk hidup. Ia lalu berkata, “Kamu dapat berkembang melampaui keterbatasanmu saat ini, jika kamu melakukan pekerjaan yang diperlukan atas dirimu sendiri.” Itulah pentingnya Adiyogi.

Light On Hatha Yoga

“There are not two minds, there is one mind trying to split itself into two. One mind wants to break the discipline and the other mind wants to maintain the discipline.” ~ Tidaklah ada dua pikiran, melainkan satu yang terbagi menjadi dua. Di satu sisi ingin mematahkan disiplin diri, sementara satu lainnya ingin menjaganya tetap kokoh.

     Salah satu teks popuper dalam hatha yoga adalah hatha yoga pradipika yang diterjemahkan menjadi Light On Hatha Yoga. Disusun oleh Yogi Swatmaratma di sekitar abad ke-6, buku ini terdiri atas empat bab masing-masing adalah: Asana, Shatkarma dan Pranayama, Mudra dan Bandha, dan Samadhi.

     Menariknya Swatmarama menghilangkan unsur yama dan niyama yang umumya menjadi titik permulaan dalam sistem buddhisme, jainisme, serta yoga patanjali- yang membagi raja yoga menjadi delapan tangga. Patanjali menganggap seorang murid harus menguasai yama dan niyama terlebih dahulu, untuk menghindari kegagalan dalam praktek asana dan pranayama.

     Sementara Swatmarama sangat menyadari kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh para murid dalam melaksanakan kedua unsur tersebut. Ia menganggap yama dan niyama lebih seperti agama ketimbang spiritulitas, yang sejatinya berhubungan langsung dengan kehidupan. Menurutnya jika diamati, ketika berusaha menerapkan disiplin dan pengendalian diri, seringkali muncul masalah mental yang efeknya sangat mengganggu pikiran bahkan kepribadian kita.

     Lebih jauh ia menguraikan bahwa prinsip yang berlawanan sebaiknya tidak diajarkan, terutama perbedaan praktek religi dan spiritual yang dapat membawa kegagalan ketika menghadapi dilema evolusi kesadaran. Pesannya sangat jelas: pertama-tama murnikanlah tubuhmu- elemen-elemen halusnya, saluran energi, pola pergerakan energi vital, sistem saraf, dan keseluruhan bagiannya perlu diharmonisasikan. Begitulah caranya kita dapat membangun meditasi yang khusyuk, dan dilanjutkan pada tahap yang lebih dalam: pratyahara, dharana, dhyana, samadhi.  

Chapter 1, Verse 1:
Salutation to the glorious primal (original) guru, Sri Adinath, who instructed the knowledge of hatha yoga which shines forth as a stairway for those who wish to ascend to the highest stage of yoga, raja yoga.

Hormat kepada Sang Guru yang mulia, Sri Adinath, yang telah menyusun pengetahuan hatha yoga sebagai tangga yang bersinar bagi mereka yang ingin naik ke tingkat tertinggi dari yoga, yakni raja yoga.

Penjelasan:
Sri Adinath adalah nama lain yang diberikan kepada Siwa, sebagai kesadaran kosmik tertinggi (supreme cosmic consciousness). Dalam Tantra terdapat konsep siwa dan shakti, dimana siwa bertindak sebagai kesadaran abadi kosmos, dan shakti sebagai energi kreatifnya.

Tradisi samkhya menyebutnya dengan purusha, sementara vedanta menyebutnya brahman. Siwaisme menyebutnya siwa, waisnawa menyebutnya wisnu. Semuanya adalah satu dan sama, yaitu sumber kreasi dan sumber evolusi makhluk hidup, satu kekuatan yang meliputi segalanya.

Kekuatan itulah yang disebut sebagai guru, sebab ia membawa seseorang keluar dari kegelapan (ketidaktahuan) ke dalam cahaya realitas (pengetahuan sejati). Sekte nath menyebutnya Adinath, sang pelindung utama.

Swatmarama adalah seorang penganut sekte nath, sehingga ia menghormati siwa dalam wujud Sri Adinath. Semua pengetahuan tanpa terkecuali berasal dari kesadaran kosmik. Tantra dan serangkaian cabang dari yoga pun berasal dari tempat yang sama, dan secara traditional penekanan itu diketahui sebagai siwa. Teks-teks suci berbahasa sansekerta selalu berawal dengan ungkapan: ‘Salutation to the supreme state of being‘, yang berarti ‘Hormat kepada Sang Maha Tertinggi’.

Hal pertama yang harus diingat sebelum memulai segala jenis latihan spiritual adalah: bahwa kekuatan kosmik adalah pemandu dari setiap gerakan, dan dirimu adalah instrumen dari kekuatan itu. Oleh karena itu, berilah hormat lalu mintalah perlindungan dan bimbingan-Nya terlebih dahulu.

Ketika Yogi Swatmarama memberi hormat kepada Adinath, ia menyatakan bahwa pengetahuan yang akan datang pada sloka-sloka berikutnya adalah berkat kemuliaan dari Sang Guru, bukan pencapaian pribadinya. Terdapat kerendahan hati beserta absennya ego, dan hal ini sangatlah penting untuk memperolah kesadaran yang lebih tinggi.

Swatmarama lalu menjelaskan bahwa hatha yoga digunakan untuk mempersiapkan seseorang untuk mencapai raja yoga. Ha dan tha yang berarti matahari dan bulan, sebagai representasi dari dua energi kembar yang eksis dalam segala hal. Bulan adalah energi halus yang menguasai mental/ pikiran, sementara matahari adalah energi pranic yang aktif dan dinamis, merepresentasikan tubuh. Latihan hatha yoga memungkinkan fluktuasi dari kedua energi ini menjadi harmonis dan menyatu menjadi satu kekuatan.

“Sekalinya seseorang mencapai tahap raja yoga, maka hatha yoga tidak lagi menjadi kebutuhan untuknya.”

Yoga, Lembah Indus, Aryan, dan Atlantis

Menulis sejarah yoga yang didasarkan pada hasil riset data dan penelitian, sangatlah berat, tidak pasti, dan tidak menyenangkan! Bagi saya jauh lebih mudah memahami pesan-pesan masa lampau melalui kode yang diselipkan dalam karya seni dan sastra, sebagaimana nenek moyang kita melakukan tradisi penyampaian cerita secara oral atau mulut ke mulut. Hal ini seolah menghindari anggapan ‘sejarah ditulis oleh pemenang’, sebagaimana peradaban dunia saat ini ditentukan melalui hasil peperangan dan tersebar secara acak. Namun saya akan mencoba untuk menjabarkan ‘sejarah yang disepakati’ ini dengan jelas dan sesederhana mungkin, sebab hal ini tetap penting dan mendukung perluasan dimensi pikiran. Gunakan nurani dan temukanlah kebenaranmu sendiri.

     Secara umum yoga disimpulkan berasal dari India sekitar tahun 3000 sebelum masehi- namun banyak dari para peneliti yang bergerak di bidang sejarah dan arkeologi itu juga menyebut angka yang jauh di atasnya, yakni lebih dari 10000 tahun yang lalu. Era yang disebut sebagai pre-classical yoga ini bermula dari Peradaban Lembah Sungai Indus (sekarang Pakistan dan India Barat) yang berpusat di kota Mohenjodaro dan Harappa dan berkembang pada tahun 3000 SM hingga1700 SM oleh bangsa Dravida.

     Diperkirakan bangsa Dravida sudah lama menetap di wilayah Lembah Sungai Indus, dan berhasil membangun sebuah peradaban kuno yang sangat hebat di dataran Asia. Selain ahli dalam berdagang dan teknologi- yang terbukti dari konstruksi bangunan, tata jalan, serta pembuangan limbah modern yang ditinggalkan- terdapat kaum brahmanas dan sramanas yang menjalankan hidup selayaknya pertapa dan kemudian memunculkan ajaran yoga, jainisme, dan buddhisme.

     Setelah tahun 1700 SM terjadi kontak antara penduduk Sungai Indus dengan bangsa Arya, dimana kedatangan mereka mengakibatkan percampuran budaya, terutama mengenai konsep Tuhan/Dewa. Secara umum bangsa pendatang ini mengagungkan kekuatan alam dengan berbagai elemennya, dan agama yang didasarkan pada ritual persembahan, nyanyian, serta mantra. Kontak inilah yang menjadi awal lahirnya Periode Weda (1700 SM – 800 SM) dimana sistem kasta diperkenalkan, dan pada salah satu bagiannya yakni Rig-Veda, tertulis kata yoga untuk pertama kali.

     Siapakah sebenarnya bangsa Arya yang nomaden dan konon membawa pengetahuan canggih ‘dari atas langit’ ini? Ah, long story! Perlu pembahasan khusus mengenai kisah ini- dan sebagai pemancingnya, saya mengutipkan tulisan Prof. Arysio Santos dalam buku fenomenal Atlantis The Lost Continent Finally Found sebagai berikut:

Mesir, India, dan Asal Mula Legenda Atlantis (hal. 72-74): Plato mengakui bahwa ia mempelajari legenda Atlantis dari Solon yang, pada gilirannya, mendapatkan cerita itu dari para pendeta Mesir. Tetapi, para pendeta Mesir pada gilirannya mendapatkan cerita itu dari orang-orang Hindu, yaitu di India dan Indonesia, tempat legenda yang bisa saja benar itu senyatanya terjadi. Indonesia adalah Punt yang merupakan Tanah Leluhur (Tower), “Pulau Api” tempat bangsa Mesir semula berasal, pada zaman dahulu sekali. Bangsa itu terpaksa keluar karena bencana alam yang meluluhlantakkan tanah asal mereka, Indonesia (Punt), mereka pindah ke Tanah Harapan, di Timur Dekat. Mesir adalah Het-ka-Ptah, “kediaman-kedua Ptah”. Ptah adalah Pencipta Tertinggi dalam pantheon Mesir. Dia melambangkan paideuma Mesir, yaitu seluruh kebudayaan dan peradabannya.

Dari “Tanah Para Dewa” inilah bangsa Arya, Yahudi, dan Funisia juga berasal, demikian juga beberapa bangsa lain berketurunan campuran yang membangun peradaban luar biasa di masa kuno, termasuk bangsa Amerika. Hal itu menjadi alasan, mengapa semua bangsa ini berbicara secara obsesif tentang surga yang Hilang dan tentang daratan yang sudah tenggelam. Dari surga yang Hilang inilah—dari Atlantis purba—berkembang semua atau sebagian besar mitos suci dan tradisi agama kita. Dan senyatanya, tradisi-tradisi serta kenangan-kenangan suci itulah, satu-satunya yang membuat manusia berjaya di antara makhluk-makhluk liar lainnya di alam ini.
Dari Atlantis jugalah, langsung ataupun tidak langsung, tersebar semua atau sebagian dari ilmu pengetahuan dan tekno logi kita: irigasi, budaya bercocok tanam, metalurgi, penjinakan binatang, penggembalaan ternak, perkakas batu, astronomi, musik, agama, filsafat, abjad, penenunan serat seperti sutra dan kapas, bubuk mesiu, kertas, kompas magnetik, pengasahan batu mulia, dan sebagainya. Bahkan, bahasa sendiri sampai kepada kita tak bukan adalah dari sana.
Penemuan-penemuan ini sering sehingga tampak begitu alamiah kali begitu maju dan cemerlang, layaknya udara yang kita hirup dan dewa-dewa yang kita puja. Tetapi, penemuan-penemuan yang luar biasa maju itulah yang sampai kepada kita dari zaman purba, dari Atlantis kembar yang sudah kita lupakan sama sekali.

Bangsa Cina menegaskan bahwa “ikan adalah satu-satunya makhluk yang akan paling akhir menyadari keberadaan air”. Demikian juga, tidaklah mengejutkan jika kita begitu tidak peduli pada realitas yang tak terelakkan dari Atlantis, surga yang Hilang, yang dibicarakan oleh semua tradisi suci kita. Tetapi, Atlantis adalah jiwa dan semangat kita, Jiwa Dunia. Hubungan ini juga mengklarifikasi penggunaan kata ka (jiwa, semangat) oleh bangsa Mesir untuk menunjuk tanah asal mereka yang hilang. Punt, surga yang Hilang milik mereka, tak lain dan tak bukan adalah Indonesia, “tanah wewangian dan rempah-rempah” (Moluccas atau Maluku).

     Pada tahun 800 SM – 500 SM, yoga perlahan dikembangkan oleh para Resi dan pemuka agama yang mendokumentasikan latihan dan keyakinan mereka dalam sebuah karya yang disebut upanisads (bagian akhir dari weda). Dilanjutkan dengan karya epik Bhagavad Gita, hingga masa yang lebih terang saat tradisi bhakti (devosi) berkembang dan periode classical yoga yang ditandai oleh lahirnya teks Yoga Sutra Patanjali pada abad ke 4 masehi, sebagai sebuah presentasi sistematis Yoga yang pertama. Teks ini menjabarkan jalan dari Raja Yoga yang berisi tahap-tahap dan langkah menuju Samadhi.

Bersambung

Asal-Usul Yoga: Sebuah Kisah Tentang Siwa

     Tulisan ini adalah sebuah opini pribadi, bahwa asal-usul yoga berdampingan dengan peradaban tertua manusia. Alasannya adalah jika memang tujuan dari praktek yoga adalah untuk mencapai dimensi ketuhanan, maka seharusnya yoga pun berasal dari tempat yang sama. Ini kurang lebih sama seperti penyederhanaan bahwa dalam ragam perannya, ‘perjalanan ke dalam’ adalah signifikasi terang bahwa leluhur kita adalah para yogi.
    
     Secara lebih spesifik yoga hadir diantara awal dan akhir, menawarkan jalan ‘penyembuhan’ saat terjadinya gonjang-ganjing. Artinya yoga dirancang sesempurna mungkin oleh Sang Maha Agung, dan diturunkan pada masa transisi sebagai ‘anugerah’ untuk memberi jawaban perihal cara untuk kembali kepada-Nya. Maka dari itu izinkan saya memulai cerita mengenai turunnya yoga ke dunia melalui Sang Hyang Siwa, Sang Maha Guru, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bathara Guru di Nusantara. Beliau adalah anak dari Sang Hyang Tunggal dengan istrinya Dewi Rekatawati, dimana bersama mereka telah menciptakan sebuah telur yang bersinar.
    
     Telur itu terbagi menjadi tiga, yakni kulitnya menjadi Sang Hyang Maha Punggung (Togog), putih telur menjadi Sang Hyang Ismaya (Semar), dan kuningnya menjadi Sang Hyang Manikmaya (Batara Guru). Hyang Tunggal lalu menugaskan Manikmaya untuk berkuasa di Suryalaya, sebagai pemimpin para dewa di kahyangan. Untuk itulah sebutan Mahadewa, dewa dari para dewa, ia dapatkan. Sementara dua saudaranya, Ismaya dan Hyang Punggung, turun ke bumi untuk mengasuh para Pandawa dan Kurawa sebagai simbol penguasa terang dan gelap.

     Cerita tentang Siwa memang tidak berdiri sendiri, sebab ada banyak sifat dan elemen yang membangun keseimbangan dunia. Maka jangan heran terdapat pula banyak dewa yang dipuja dalam ragamnya tradisi. Di Nusantara sendiri nama Siwa disebut dalam sejumlah Kakawin kuno seperti Arjunawiwaha karangan Mpu Kanwa di abad ke-10, Siwaratrikalpa karangan Mpu Tanakung di akhir masa kejayaan Majapahit abad ke-15, Kakawain Kunjarakarna, dan lain sebagainya.
    
     Selain siwaisme, sejumlah keyakinan juga pernah berkembang di Nusantara antara lain adalah waisnawa, buddha, tantra, hingga titik kejayaan saat terjadinya sinkritisme ajaran siwa dan buddha, menjadi siwa buda. Berikut adalah kutipan dari Kakawin Sutasoma yang mashyur nyawanya bagi Indonesia, karangan Mpu Tantular pada abad ke-14:
    
Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangkang Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Terjemahan:
Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Namun bagaimana kita dapat menyatakannya berbeda hanya dalam selintas pandang?
Sebab  hakikat Sanghyang Jina (Buddha) dan Sanghyang Siwa adalah tunggal adanya
Terlihat berbeda tapi tunggal juga, sebab tiada dharma (kebenaran) yang mendua

Siwa dan Tantra

Ada yang menyebutkan bahwa tantra pertama kali muncul di daratan India sekitar 5000 SM, dalam bentuk keyakinan lokal yang belum terpadu. Tak lama Siwa lahir di tempat yang sama, dan memperkenalkan tantra sebagai sebuah ajaran yang lebih mudah diterima. Berikut kutipan cerita yang tersebar mengenainya:

Namanya Sadashiva, artinya ‘dia yang selalu terserap dalam kesadaran’ dan ‘dia yang sumpah satu-satunya hanyalah untuk memajukan kesejahteraan menyeluruh semua kehidupan’. Sadashiva, dikenal juga sebagai Shiva, adalah seorang Guru rohani yang istimewa. Meskipun Tantra sudah dipraktikkan sejak sebelum kelahirannya, namun beliaulah yang pertama kali mengungkapkan perkara rohani secara sistematis bagi umat manusia.”

Bukan saja beliau adalah seorang guru spiritual, namun beliau juga pelopor sistem musik dan tari India, dari sebab itu beliau terkadang dikenal pula sebagai Nataraj (Tuhan Penata Tari). Shiva juga merupakan pelopor ilmu pengobatan India, dan menurunkan suatu sistem yang terkenal dengan nama Vaedya Shastra.

Dalam bidang sosial Shiva juga memainkan peranan penting. Beliau memelopori sistem pernikahan, yaitu kedua mempelai menerima saling tanggung jawab demi keberhasilan perkawinan, tanpa memandang kasta atau suku. Shiva sendiri melakukan perkawinan campur, dan dengan mengawini seorang putri Arya beliau membantu menyatukan berbagai pihak di India yang sedang saling berperang dan memberikan bagi mereka suatu sudut pandang sosial yang lebih universal. Karena kepeloporan sosial ini Shiva dikenal juga sebagai ‘Bapa peradaban manusia’.”

Sumbangan terbesar dari Shiva pada kelahiran peradaban yang baru adalah pengenalan konsep dharma. Dharma adalah suatu kata Sansekerta yang berarti ‘sifat dari sananya’. Apakah yang menjadi sifat alamiah dan kekhasan manusia? Shiva menerangkan bahwa manusia selalu menginginkan lebih, lebih daripada kenikmatan yang diperoleh dari kepuasan inderawi. Beliau mengatakan bahwa manusia berbeda dengan tanaman atau binatang karena apa yang sangat diinginkan oleh manusia adalah kedamaian mutlak. Itu adalah tujuan hidup manusia, dan ajaran rohani Shiva ditujukan untuk memberdayakan manusia untuk mencapai tujuan itu.”

Seperti halnya dengan berbagai ajaran kuno lainnya, ajaran Shiva disampaikan dari mulut ke mulut, dan baru kemudian dituliskan ke dalam buku. Isteri Shiva, Parvati, sering bertanya pada beliau mengenai berbagai pengetahuan rohani. Shiva memberikan jawabannya, dan kumpulan tanya jawab ini dikenal sebagai Tantra Shastra (kitab suci Tantra). Ada dua macam buku. Prinsip-prinsip Tantra terdapat dalam buku bernama Nigama, sedangkan praktik-praktiknya dalam buku Agama. Sebagian buku-buku kono itu telah hilang dan sebagian lagi tak dapat dimengerti karena tertulis dalam tulisan rahasia untuk menjaga kerahasiaan Tantra terhadap mereka yang tak memperoleh inisiasi, namun dengan demikian pemikiran-pemikiran Tantra tak pernah terungkapkan dengan jelas.”

Tantra yang secara etimologi berarti memperluas kesadaran, menjadi ajaran filosofi yang terurai indah di kalangan tantris sektor kanan. Di sisi kiri yang terkenal melalui ritualnya, kemudian dianggap nyeleneh dan membuat tantra dipandang sebagai ajaran gelap oleh masyarakat. Seiring waktu ajatan tantra ‘diperhalus’ dan menurun menjadi hatha, kundalini, kriya, dan lainnya. Signifikasi kuat dari tantra pelatihan kebangkitan kundalini dan inisiasi.

Artikel terkait: Yoga: A Culture Of Today And Tommorow

Siwa Mahadewa

Semenjak ku tahu bahwa tiada jalan dapat memuaskan dahagaku,
Selain ajaran dari Sang Mahaguru, Siwa Mahadewa
Kulepaskan tahta yang menopang kepala dan membungkus kakiku
Untuk berjalan tanpa alas dan mahkota menuju taman dimana teratai emas tumbuh

Jalan yang terlampau sepi
Hanya kesendirian yang tertinggal sambil menggenggam erat rasa percaya
Bagaikan jangkar yang tertancap dan menegakkan badan
Adalah sabda-Mu, aksara yang melahirkan pikiran dan detak jantung
Di dunia tempat aku berpijak, membutuhkan dengungan suara, denyut, dan tarian-Mu
Di manakah semua itu?
Apakah tertinggal pada sunyi kuncup teratai?

Om Namah Siwaya!

Sungguh kubutuh perlindungan, tuntunan, dan keselamatan dari-Mu.

Yoga: A Culture Of Today And Tommorow

Di zaman modern ini yoga tidak lagi menjadi hal aneh, dimana kelas-kelasnya dapat dijangkau di sejumlah studio dan pusat kebugaran di berbagai wilayah di Indonesia. Media massa pun marak memberitakan manfaat yoga dengan para artis sebagai bintang, bahkan pengajarnya. Hal ini seolah mematahkan mitos bahwa yoga adalah praktek yang berkaitan dengan agama tertentu. Seperti yang diketahui, agama kini menjadi topik yang begitu sensitif dan bahkan menjadi trigger, entah berakhir pada perpecahan atau kesadaran kolektif manusia.

Meski istilah dan nuansa budayanya bercorak Hindu dan India, namun itu tidaklah menggambarkan spirit-nya, dan hal inilah yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini, yakni pesan universal yang terkandung dalam yoga. Apa yang terihat di media dan studio tidak sepenuhnya menyajikan esensinya, bahkan teks-teks kuno hanya menjadi sekedar bahan bacaan, apabila tidak disimak dan dicari benang merahnya dengan kehidupan.
  
     Sebagai asupan gizi menyeluruh yang terutama untuk emosi dan pikiran,  yoga membuka gerbang kesadaran menuju spiritualitas yang sebenarnya. Bagi saya yoga sendiri bukanlah tujuan, melainkan sebuah upaya untuk menghadirkan sesuatu, atau dengan kata lain proses yang bergerak. Apa yang dihasilkan melalui pemahaman sempurna-lah yang akan menjadi gerbang menuju pola hidup spiritual itu, yakni kebangkitan yang menyeluruh dan permanen.

Pengertian Yoga

     Pengertian yoga bergantung pada kondisi dan kebutuhan. Secara umum yoga diasosiasikan dengan kata dalam bahasa sansekerta yaitu ‘yuj‘ yang berarti ‘to join‘ atau ‘to connect‘, dalam hal ini adalah upaya penyatuan tubuh, pikiran, dan jiwa (yang diwakilkan oleh nafas). Ini sepenuhnya benar sebab ketiga elemen itulah yang dilatih secara kontinu hingga mencapai titik keseimbangan.

     Mengacu pada pengertian di atas maka yoga dapat diterjemahkan sebagai sebuah ‘persiapan’ untuk meditasi. Itulah sebabnya tradisi hatha yoga disebut sebagai jalan ‘pemurnian’ atau ‘transformasi’, yang masih berkaitan dengan ilmu kuno alkemi. Disebutkan bahwa pendahulu yang mengembangkan hatha yoga adalah para alkemis, seperti misalnya Yogi Swatmarama, Matsyendranath, Goraknath, dan lainnya.
    
     Sistem Hatha yoga digunakan sebagai ‘energi aktif’ yang bekerja untuk memanipulasi prana untuk mempengaruhi kimia tubuh, dengan tujuan utama mencapai keabadian fisik. Sementara pengertian lainnya adalah yoga sebagai laku meditasi atau semedi. Ini diperuntukkan bagi mereka yang mendalami yoga sebagai bagian dari tradisi kepercayaan, dimana semedi menjadi jalur langsung untuk menghubungkan diri pada dimensi Ketuhanan.

Bersambung…

Vinyasa

Ada tiga pengertian dari istilah vinyasa. Yang pertama dan yang esensial adalah connecting with the breath, yakni sinkronisasi antara gerakan dengan nafas. Ini juga berkaitan dengan istilah ‘move with the breath’, dan juga ‘follow the breath, and let the asana comes’ yang menegaskan bahwa gerakan vinyasa terjadi bersamaan dengan nafas.

Yang kedua dan umum dikenal- juga menjadi tema/judul/ bahkan salah satu style dari hatha yoga, adalah vinyasa sebagai sebuah sekuens gerakan yang dinamis, mengalir, sambung-menyambung dari satu asana (postur) ke asana lainnya.

Dan yang ketiga, adalah vinyasa sebagai istilah yang familiar di kelas ashtanga yoga, yakni gerakan flow dasar: downdog- upward dog- downdog, yang dilakukan secara repetitif untuk menjaga panas tubuh.

Secara filosofis, dinamika gerakan vinyasa mengingatkan kita pada putaran roda karma dan dharma, dan bahwa pergerakan dan perubahan adalah sesuatu yang baik dan membawa keseimbangan. Sementara dalam prakteknya, vinyasa bermanfaat untuk menciptakan energi, meningkatkan konsentrasi, memberi sensasi ringan dan kemudahan dalam bergerak, serta estetika dalam beryoga.

Yoga to Relieve Stress, Strain, Anxiety and Headache

Dear Friends, dalam tulisan kali ini saya ingin berbagi mengenai cara untuk meredakan sakit kepala, stress, ketegangan, dan rasa gelisah serta ketidaknyamanan melalui serangkaian latihan yoga yang sederhana, dan aman dilakukan oleh siapa saja secara mandiri. Informasi yang akan saya bagikan ini merupakan pengetahuan klasik Hatha Yoga yang diwariskan, serta dapat ditemui di berbagai teks yoga populer.

Perlu diingat bahwa dalam melakukan latihan yoga, pengalaman, sensasi, dan tingkat efektivitas bagi setiap individu akan berbeda-beda. Untuk itu praktisi dihimbau agar selalu aware, dan menjadikan pengalaman ini sebagai ruang pengamatan perihal apa yang benar-benar dirasakan dan dibutuhkan.

1. Meditasi

Meditasi adalah teknik untuk menyadari hal-hal yang selama ini tidak disadari. Artinya meditasi berfungsi untuk memperluas jangkauan kesadaran manusia. Dari tidak tahu menjadi tahu, mati menjadi aktif, gelap menjadi terang.

Teknik-teknik dalam meditasi ada bermacam-macam. Ada yang berfokus hanya pada nafas dan membiarkan kesadaran-kesadaran yang mati muncul ke permukaan, ada pula yang aktif, dimana seseorang berusaha menstimulasi energi kreatifnya ke pusat otak.

Dalam tema pembahasan ini, jenis meditasi yang cocok untuk meredakan ketegangan adalah meditasi relaksasi, yang bekerja melalui medium nafas. Hal yang perlu diperhatikan oleh praktisi adalah ketika melakukan meditasi, praktisi diharuskan untuk duduk dengan posisi tegak, agar aliran energi yang berpusat di tulang punggung bergerak bebas ke pusat-pusat spiritual yang berada pada tubuh bagian atas. Jika terasa kurang nyaman atau postur yang dimiliki kurang tegak, maka praktisi dapat menggunakan kursi atau tembok sebagai support, namun tanpa sepenuhnya bersandar.

Selanjutnya praktisi mengobservasi nafas yang masuk dan keluar melalui lubang hidung, tanpa sengaja ditarik atau dihembuskan, alias natural breathing. Teknik pernafasan dasar ini meningkatkan kesadaran seseorang terhadap sistem pernapasan yang terjadi dalam tubuhnya sendiri. Dengan demikian, irama nafas menjadi lebih lembut, lamban, dan relaks.

Setelah terasa nyaman dan konsentrasi meningkat, nafas menjadi terkontrol, dan kesadaran perlahan menyatu menjadi nafas. Dengan demikian secara otomatis terjadi pelepasan dan pembebasan dari ‘hambatan-hambatan’. Hambatan yang dimaksud dapat berupa perasaan tidak nyaman- baik pada tubuh fisik maupun emosi (rasa sedih, marah, tidak sabar,dll)- serta pikiran yang aktif dan terus-menerus bergerak.

Slow down the rythym of the breath, slow down the activity of the mind.

Lakukanlah meditasi relaksasi secara bebas dan sesuai kebutuhan, tanpa memikirkan durasi atau pencapaian target tertentu.

2. Pranayama

Setelah menyadari dan menguasai nafas melalui teknik natural breathing, ipraktisi selanjutnya mencoba teknik-teknik pernapasan lain yang masih berhubungan dengan relaksasi dan penyeimbangan energi. Salah satu yang aman, populer, dan efektif untuk umum adalah nadhi sodhana atau alternate nostril breathing. Teknik ini berfungsi untuk mempurifikasi jalur energi/ lapisan tubuh pranic, serta memberi suplai oksigen tambahan pada tubuh fisik.

Cara melakukan:
Duduk tegak dengan posisi tangan kiri relaks di atas lutut/ paha, sementara tangan kanan terangkat di depan wajah. Pada tangan kanan, telunjuk dan jari tengah diletakkan lembut di tengah-tengah alis mata, sementara jempol dan jari manis secara bergantian memblok sisi luar lubang hidung kanan dan kiri.

Inhale left, exhale right. Inhale right, exhale left (1 round)

Secara tradisi, penarikan nafas dimulai dari lubang hidung kiri. Lalukan minimum sebanyak enam putaran, senyamannya.

Berikutnya adalah brahmari pranayama, atau juga sering disebut dengan bee sound, adalah jenis pranayama yang memanfaatkan medium suara sebagai alat untuk menenangkan pikiran dan saraf. Suara lembut yang timbul mengarahkan praktisi pada keadaan meditatif dan memudahkan untuk menyelaraskan diri dengan kesejatiannya.

Cara melakukan: angkat kedua tangan di samping kepala, blok pendengaran dari luar dengan masukkan masing-masing jempol ke masing-masing lubang telinga, sementara jari-jari lainnya menutup mata.Tarik nafas dalam, dan ketika menghembuskan lakukan suara ‘mmmm’ atau bee sound, lalu nikmati vibrasi suaranya.

3. Kriya Kapalabhati

Meski menggunakan medium nafas, kapalabhati masuk dalam kategori kriya, yaitu serangkaian latihan yoga yang aktif dan memiliki tujuan yang bersifat spiritual. Teknik ini berfungsi untuk purifikasi serta meng-energize tubuh dan pikiran. Sangat cocok untuk meredakan stress, gelisah, juga rasa kantuk.

Kontraindikasi: tidak disarankan bagi penderita kelainan jantung, high blood pressure, vertigo, epilepsi, stroke, dan hernia.

Cara melakukan: berfokus hanya pada hembusan nafas, dengan menghentakkannya hingga terjadi gerakan di perut. (Latihan ini sebaiknya dilakukan dengan bimbingan dari yang berpengalaman)

4. Mudra

Mudra secara umum diartikan sebagai gesture atau prilaku yang devosional, aestetik, dan psychic. Umumnya mudra dilakukan untuk meningkatkan konsentrasi, namun bagi sejumlah praktisi advance, mudra dapat secara instan meningkatkan kuantum prana yang berpengaruh untuk membangkitkan chakra dan kundalini. Mudra tidak hanya merujuk pada posisi tangan tertentu, namun juga dapat mengikutsertakan seluruh bagian tubuh baik itu berupa asana, pranayama, dan bandha.

Ada dua jenis mudra yang cocok dengan tema pembahasan ini. Yang pertama adalah gyan mudra. Mudra ini sangat umum dan populer dipraktekkan selama meditasi, berfungsi untuk meningkatkan konsentrasi, kesadaran, dan memori. Cara melakukannya adalah dengan mengatupkan ujung jari telunjuk dengan ujung jari jempol tangan.

Yang kedua adalah mahasirs mudra, yaitu mudra yang berfungsi untuk menyeimbangkan energi, terutama pada saat terjadi akumulasi energi yang berlebihan di bagian tubuh tertentu, sehingga mengakibatkan tension dan imbalance. Mudra ini sangat cocok dipalikasikan dalam latihan untuk tema ini. Contoh lihat gambar di bawah:

5. Yoga Poses

Sesungguhnya asanas atau pose yoga adalah ‘persiapan’ untuk melakukan meditasi. Asana membantu pergerakan prana agar mengalir tanpa hambatan, sehingga seseorang menjadi siap untuk masuk ke inti praktek, yaitu samadhi.

Selain itu asanas juga bermanfaat sebagai terapi, dimana gerakan-gerakan yoga yang memadukan mobilitas, fleksibilitas, kekuatan, serta keseimbangan, terbukti menjaga dan menyeimbangkan tubuh dan pikiran. Berikut adalah contoh nama-nama pose yang sesuai dengan tema pembahasan ini:

Stress, anxiety, strain: surya namaskara, paschimottanasana, bhujangasana, salabhasana, sarvangasana, halasana, dhanurasana, bakasana.

Headeache: Vajrasana (bertimpuh), child pose, side stretch, simple twisting, janusirsasana, pawanmuktasana (reclining poses), savasana.